28 – Malaikat
Ini adalah firman suci Tuhan Yang Maha Esa.
Kita tidak tertarik dengan kata-kata manusia.
Bagi siapa pun yang mengasihi Tuhan... inilah yang Tuhan katakan tentang: Malaikat.
Ini adalah firman suci Tuhan Yang Maha Esa.
Kita tidak tertarik dengan kata-kata manusia.
Bagi siapa pun yang mengasihi Tuhan... inilah yang Tuhan katakan tentang: Malaikat.
Bahwa malaekat Tuhan berpasukan mengelilingi segala orang yang takut akan Dia, dan dipeliharakan-Nya mereka itu.
”Kepada malaekat manakah ada pernah Ia berfirman: Duduklah Engkau di sebelah kanan-Ku, sehingga Aku menaklukkan segala musuh-Mu menjadi alas kaki-Mu? Bukankah sekaliannya itu roh yang berkhidmat kepada Allah, yang diutuskan karena melayani manusia yang akan mewarisi keselamatan?
”Maka Aku berkata kepadamu: Demikian juga jadi kesukaan di hadapan malaekat Allah sebab satu orang berdosa yang bertobat."
”Lalu dihalaukan-Nya manusia itu ke luar dan ditaruh-Nya beberapa kerubiun arah ke sebelah timur taman Eden itu serta dengan sebilah mata pedang yang bernyala-nyala dan yang dilayamkan akan menunggui jalan kepada pohon alhayat itu adanya.
”Dan lagi kata Malaekat Tuhan kepadanya: Bahwa Aku akan memperbanyakkan amat anak buahmu, sehingga tiada tepermanai banyaknya. Dan lagi pula kata Malaekat Tuhan kepadanya: Sesungguhnya engkau ada mengandung dan engkau akan beranak laki-laki seorang, maka hendaklah engkau namai akan dia Ismail, sebab telah didengar Tuhan akan dikau dalam hal kesukaranmu. Maka kanak-kanak itu akan menjadi seorang bagai keledai hutan lakunya dan tangannya akan melawan segala orang dan tangan segala orangpun akan melawan dia; maka iapun akan duduk pada sebelah timur segala saudaranya.
”Hata, maka kemudian dari pada itu kelihatanlah Tuhan kepada Ibrahim hampir dengan hutan pohon jati Mamre, tatkala duduklah Ibrahim di pintu kemahnya ketika hari panas. Maka diangkatnya matanya, dilihatnya bahwa tiga orang ada berdiri di hadapannya; serta terlihatlah ia akan dia, maka berlarilah ia dari pada pintu kemahnya pergi mendapatkan mereka itu, lalu tunduklah ia sampai ke bumi,
”Maka dipalu oleh keduanya akan segala orang yang di pintu rumah itu dari pada kecil dan besar dengan mengaburkan matanya, sehingga penatlah mereka itu hendak mendapat pintu. Maka kata kedua orang itu kepada Lut: Jikalau padamu di sini ada lagi menantu atau anakmu laki-laki atau anakmu perempuan atau segala orang yang engkau punya dalam negeri ini, bawalah akan dia ke luar dari tempat ini; karena kami hendak membinasakan negeri ini, sebab telah besarlah serunya di hadapan hadirat Tuhan, dan Tuhanpun telah menyuruhkan kami akan membinasakan dia. Maka keluarlah Lut, lalu berkata-kata ia dengan menantunya yang hendak kawin dengan anak-anaknya perempuan, katanya: Bangunlah kamu, keluarlah dari dalam tempat ini, karena Tuhan hendak membinasakan negeri ini. Tetapi pada sangka menantunya Lut hendak membuat olok-olok akan dia. Maka apabila menyingsinglah fajar diajak-ajaklah oleh kedua orang malaekat itu akan Lut, katanya: Bangunlah engkau, bawalah anak binimu dan kedua orang anakmu perempuan, yang dengan engkau di sini, supaya engkaupun jangan binasa dalam celaka negeri ini.
”Tetapi datanglah seru Malaekat Tuhan kepadanya dari langit mengatakan: Hai Ibrahim! Ibrahim! Maka sahutnya: Sahaya Tuhan! Maka kata Malaekat itu: Janganlah engkau mendatangkan tanganmu kepada budak itu, dan jangan dipengapakan dia, karena sekarang kuketahuilah akan hal engkau takut akan Allah, sedang anakmu, yaitu anakmu yang tunggal itu, tiada kautahankan dari pada-Ku.
”Maka berserulah Malaekat Tuhan akan Ibrahim dari langit pada kedua kalinya, kata-Nya: Inilah firman Tuhan: Demi diri-Ku juga Aku bersumpah, tegal telah kauperbuat perkara ini, dan tiada kautahani anakmu, yaitu anakmu yang tunggal itu, dari pada-Ku, bahwa sesungguhnya Aku akan memberi berkat besar akan dikau, dan Aku akan memperbanyakkan anak buahmu sepeti bintang di langit dan seperti kersik di tepi pantai; maka anak buahmu itupun akan mempunyai pintu negeri segala musuhnya. Maka dalam benihmu segala bangsa yang di bumi itu akan diberkati, sebab engkau telah menurut firman-Ku.
”Maka bermimpilah ia, bahwa sesungguhnya adalah suatu tangga terdiri di atas bumi, dan kepala tangga itupun sampai ke langit; heran, maka beberapa malaekat Allah pun naik turun tangga itu.
”Maka kata Malaekat Tuhan Allah kepadaku dalam mimpi: Hai Yakub! Maka sahutku: Sahaya.
”Maka Yakubpun langsung berjalan, lalu bertemulah dengan dia beberapa malaekat Allah. Demi dilihat Yakub akan mereka itu, maka katanya: Bahwa inilah balatentara Allah; maka dinamainya akan tempat itu Mahanaim.
”Maka kelihatanlah kepadanya malaekat Tuhan itu dalam nyala api di tengah-tengah belukar duri, heran, maka dilihatnya belukar duri itupun bernyala-nyala dengan api, tetapi tiada juga belukar itu dimakan olehnya. Maka kata Musa: Baiklah aku pergi ke sana hendak melihat ajaib yang besar itu, yaitu belukar ini tiada hangus.
”Bermula, maka Malaekat Allah, yang ada berjalan di hadapan balatentara Israel itu, undur, lalu ke belakang mereka itu, sehingga tiang awan itupun undur dari hadapan mereka itu, lalu berdiri di belakangnya. Maka datanglah ia di antara balatentara orang Mesir dengan balatentara Israel, maka adalah awan itu sebelahnya gelap dan sebelahnya menerangi malam, sehingga tentara tiada dapat menghampiri tentara semalam-malaman itu.
”Bahwa sesungguhnya Aku menyuruhkan seorang malaekat di hadapanmu, supaya dipeliharakannya kamu pada jalan ini dan dihantarnya akan kamu ke tempat yang telah Kusediakan itu.
”Karena malaekat-Ku itu akan berjalan di hadapanmu serta dibawanya akan kamu masuk ke dalam negeri orang Amori dan Heti dan Ferizi dan Kanani dan Hewi dan Yebuzi; maka Aku akan membinasakan mereka itu sekalian.
”Demikianpun hendaklah kauperbuat dua kerubiun dari pada emas, yaitu dari pada emas tempawan hendaklah kaukerjakan dia, lagi berhubung dengan kedua ujung tutupan gafirat itu. Perhubungkanlah kerub satu dengan ujung sebelah, dan kerub satunya dengan ujung sebelahnya, yaitu perhubungkanlah kerubiun itu dengan tutupan gafirat itu pada kedua belah ujungnya. Maka hendaklah kerubiun itu mengembangkan kedua sayapnya ke atas sambil menudungi tutupan gafirat itu dengan sayapnya, maka mukanya akan berhadap-hadapan, dan mata kerubiun itu hendaklah memandang kepada tutupan gafirat itu. Maka hendaklah kauletakkan tutupan gafirat itu di atas petinya kemudian dari pada engkau membubuh ke dalam peti itu akan assyahadat, yang akan Kukaruniakan kepadamu kelak. Maka di sanalah Aku akan turun kepadamu dan Aku akan berfirman kepadamu dari atas tutupan gafirat, dari tengah kedua kerubiun yang di atas peti assyahadat itu, segala perkara yang Kusuruh engkau sampaikan kepada bani Israel.
”Maka sekarang, pergilah engkau, hantarkanlah bangsa ini ke tempat yang telah Kukatakan kepadamu; bahwa sesungguhnya malaekat-Ku akan berjalan di hadapanmu, tetapi pada hari pembalasan-Ku, maka Aku akan membalas dosanya kepada mereka itu!
”Maka Aku akan menyuruhkan kelak seorang malaekat di hadapanmu (dan Aku akan menghalaukan segala orang Kanani dan Amori dan Heti dan Ferizi dan Hewi dan Yebuzi)
”Maka apabila masuklah Musa ke dalan kemah perhimpunan hendak bersembah kepada Tuhan, maka didengarnya suara Tuhan, yang berfirman kepadanya dari atas tutupan gafirat yang pada tabut assyahadat dari antara kedua orang kerubiun itu. Maka demikianlah Tuhan berfirman kepadanya.
”dan bagaimana kami telah berseru-seru kepada Tuhan dan Tuhanpun mendengar akan seru kami, lalu disuruhkannya seorang malaekat, yang menghantar akan kami keluar dari Mesir, maka sekarang adalah kami di Kades, sebuah negeri di ujung perhinggaan tanahmu.
”Tetapi murka Allah mulai bernyala-nyala sementara ia berjalan itu dan Malaekat Tuhan Berdiri di jalan hendak melawan dia; maka iapun ada mengendarai keledainya betina dan dua orang hambanya adalah sertanya. Maka terlihatlah keledai itu akan Malaekat Tuhan berdiri di jalan dengan pedang yang terhunus pada tangannya, maka menyimpanglah keledai itu dari pada jalan lalu ke padang; maka dipukul Bileam akan keledainya hendak memalingkan dia kepada jalan pula. Tetapi Malaekat Tuhan itu adalah berdiri di jalan yang sempit di tengah kebun anggur dan pada kiri kanan adalah pagar tembok. Serta terlihatlah keledai itu akan Malaekat Tuhan, maka diimpitkannya dirinya kepada pagar tembok, sehingga ditindihnya kaki Bileam kepada pagar itu, maka berturut-turut dipukulnya akan dia. Maka pergilah Malaekat Tuhan jauh lagi, lalu berdiri pada tempat sempit yang tiada jalan akan menyimpang ke kiri atau ke kanan. Serta terlihatlah keledai itu akan Malaekat Tuhan, maka menderumlah ia di bawah Bileam, maka berbangkitlah amarah Bileam, sehingga dipalunya keledai itu dengan kayu. Maka pada masa itu juga dibukakan Tuhan mulut keledai itu, sehingga katanya kepada Bileam: Apakah salah hamba akan tuan, maka tuan memukul hamba sampai tiga kali? Maka kata Bileam kepada keledainya: Maka begitu, sebab engkau menghabiskan sabarku; jikalau kiranya sekarang ada pedang di tanganku, niscaya engkau kubunuh! Maka sahut keledai itu kepada Bileam: Bukankah hamba ini keledai tuan? Bukankah tuan mengendarai hamba dari pada mula tuan mendapat hamba sampai sekarang ini? adakah pernah hamba berbuat demikian akan tuan? Maka sahut Bileam: Bukan!
”Maka pada waktu dicelikkan Tuhan mata Bileam, sehingga terlihatlah ia akan Malaekat Tuhan, yang berdiri di jalan dengan pedang terhunus pada tangannya, maka turunlah ia, lalu sujud dengan mukanya ke tanah. Maka kata Malaekat Tuhan kepadanya: Mengapa maka engkau memukul keledaimu sekarang sudah tiga kali? Bahwa sesungguhnya Aku telah keluar hendak melawan akan dikau, dan pada tempat curam jalan tadi tiada Aku beri engkau lalu dari pada-Ku. Maka keledai itu telah melihat Aku, lalu menyimpang dari hadapan-Ku sekarang sudah tiga kali, maka jikalau kiranya tiada ia menyimpang dari hadapan-Ku, niscaya engkau Kubunuh, jikalau keledai itu Kuhidupi sekalipun. Maka sembah Bileam kepada Malaekat Tuhan: Bahwa hamba telah berdosa, tetapi tiada hamba ketahui akan Tuan berdiri di jalan ini hendak mendatangi hamba; maka sekarangpun jikalau jahatlah ini kepada pemandangan Tuan, baiklah hamba pulang juga. Tetapi kata Malaekat Tuhan kepada Bileam: Pergi juga serta dengan orang ini, tetapi sepatah katapun jangan kaukatakan, kecuali firman yang akan Kukatakan kelak kepadamu. Hata, maka berjalanlah Bileam serta dengan segala penghulu Balak itu.
”Bermula, maka pada sekali peristiwa tatkala Yusak hampir dengan Yerikho, diangkatnya matanya, heran, maka terlihatlah ia akan seorang berdiri di hadapannya dan pada tangannya adalah sebilah pedang yang terhunus; maka Yusakpun pergi mendapatkan dia sambil katanya: Engkau dari pada kamikah? atau dari pada musuhkah? Maka sahutnya: Bukan, melainkan akulah Penghulu balatentara Tuhan; bahwa sekarang Aku telah datang. Maka Yusakpun tersungkur dengan mukanya ke tanah sambil menyembah sujud kepadanya, sembahnya: Apakah firman Tuhan kepada hamba-Nya? Maka kata Penghulu balatentara Tuhan kepada Yusak: Tanggalkanlah kasut dari pada kakimu, karena sucilah tempat engkau berdiri itu. Maka Yusakpun berbuatlah demikian.
”Hata, setelah sudah Malaekat Tuhan berfirman demikian kepada segala bani Israel, maka orang banyak itupun mulai menangis dengan nyaring suaranya.
”Maka dari langit juga dilakukannya perang, dan segala bintang dari cakrawalapun memerangi Sisera.
”Maka pada ketika itu kelihatanlah Malaekat Tuhan itu kepadanya, yang berkata kepadanya demikian: Bahwa Tuhan adalah serta dengan dikau, hai pahlawan yang perkasa!
”Maka oleh Malaekat Tuhan dikedangkan tongkat, yang pada tangan-Nya, dengan ujungnya dicucuh-Nya daging dan apam fatir itu, lalu keluarlah api dari dalam batu gunung yang makan habis akan segala daging dan apam fatir. Maka gaiblah Malaekat Tuhan itu dari pada matanya. Setelah itu maka nyatalah kepada Gideon bahwa ia itulah Malaekat Tuhan, sembahnya: Ya Tuhan Hua, maka sebab itukah hamba melihat Malaekat Tuhan muka dengan muka?
”Hata, maka masuklah perempuan itu memberitahu lakinya, katanya: Bahwa telah datang kepadaku seorang suruhan Allah, rupanya seperti rupa Malaekat Allah, amat hebat, maka tiada kutanya akan dia dari mana datangnya, dan iapun tiada memberi tahu namanya kepadaku,
”Maka sahut Malaekat Tuhan kepadanya: Mengapa maka engkau bertanyakan nama-Ku? Ia itu Ajaib juga. Maka diambil Manoakh seekor anak kambing akan persembahan makanan, lalu dipersembahkannya kepada Tuhan di atas batu gunung. Maka kelakuannya orang itu amat ajaib sementara Manoakh dan bininya memandang akan dia. Maka sesungguhnya sementara nyala api itu naik dari mezbah ke langit, maka Malaekat Tuhanpun naik dalam nyala api dari mezbah itu. Serta dilihat Manoakh dan bininya akan hal itu, maka sujudlah keduanya dengan mukanya ke tanah.
”Setelah itu, maka didatangkan Tuhan suatu bala sampar di antara orang Israel, dari pada pagi hari datang kepada waktu yang telah ditentukan, maka di antara orang banyak itu matilah tujuh puluh ribu orang dari Dan sampai ke Birsyeba. Maka apabila malaekat itu mengedangkan tangannya ke atas Yeruzalem hendak membinasakan dia, bersesallah Tuhan akan jahat itu, lalu firman-Nya kepada malaekat yang mengadakan kebinasaan di antara orang banyak itu: Cukuplah begitu; sekarang undurkanlah tanganmu. Adapun pada ketika itu adalah malaekat Tuhan itu hampir ke tempat mengirik Arauna, orang Yebuzi itu. Demi terlihat Daud akan malaekat yang memalu orang banyak itu, maka sembahnya kepada Tuhan: Bahwa aku, bahkan aku juga yang berdosa dan aku yang sudah berbuat perkara yang tiada baik, tetapi entah apa gerangan perbuatan segala kambing domba ini? Biar apalah tangan-Mu lawan aku dan lawan segala isi rumah bapaku!
”Maka dibaringkannya dirinya, lalu tertidurlah ia di bawah pokok arar itu, maka tiba-tiba adalah seorang malaikat menjamah akan dia sambil katanya: Bangunlah engkau, makanlah! Serta ia berpaling ke belakang dilihatnya pada sebelah kepalanya adalah sebuah apam terpanggang pada bara api dan sebuah buli-buli yang berisi air; maka iapun makan minumlah, lalu dibaringkannyalah dirinya pula. Maka malaekat Tuhan itu datang pada kedua kalinya serta menjamah akan dia, sambil katanya: Bangunlah engkau, makanlah, karena perjalanan bagimu lagi sangat jauh. Maka bangunlah ia lalu makan minumlah, maka oleh kuat yang diperolehnya dari pada makanan ini berjalanlah ia empat puluh hari empat puluh malam lamanya, sehingga sampailah ia ke bukit Allah, yaitu Horeb.
”Dan lagi kata Mikha: Dengarlah olehmu firman Tuhan: Bahwa aku telah melihat Tuhan duduk di atas arasy-Nya dan segala balatentara yang di sorgapun berdiri pada sisi-Nya, yaitu pada kiri kanan-Nya.
”Maka pada ketika itu kata malaekat Tuhan kepada Elia: Turunlah engkau sertanya, jangan takut akan dia. Maka bangkitlah Elia berdiri lalu turun sertanya pergi mendapatkan baginda.
”Maka sesungguhnya sementara keduanyapun berjalan dan berkata-kata, tiba-tiba adalah sebuah rata api dengan kuda api menceraikan seorang dengan seorang. Maka demikianlah peri Elia naik ke sorga dalam guruh. Maka Elisapun melihat hal itu, lalu berserulah ia: Ya, bapaku! ya, bapaku! rata Israel dengan orangnya yang berkendaraan! Maka tiada dilihatnya lagi, lalu diambilnya akan kainnya, dicariknya jadi dua bahagian.
”Maka Elisapun meminta doa, sembahnya: Ya Tuhan, celikkan apalah matanya, supaya iapun dapat melihat! Maka dicelikkannya Tuhan mata hamba itu, sehingga ia dapat melihat, heran, maka adalah gunung itu penuh dengan kuda api dan rata api keliling Elisa.
”Dan raja Hizkiapun meminta doa di hadapan hadirat Tuhan, sembahnya: Ya Tuhan, Allah orang Israel, yang bersemayam di antara kerubiun! Engkaulah Allah dengan sebenarnya, hanya Engkau jua Tuhan atas segala kerajaan yang di atas bumi, Engkau juga yang sudah menjadikan langit dan bumi.
”Hata, maka pada malam itu juga tiba-tiba keluarlah malaekat Tuhan, dibunuhnya dalam balatentara Asyur itu akan seratus delapan puluh lima ribu orang. Maka serta orang bangun pada pagi-pagi hari dilihatnya akan sekalian itu mayat jua adanya.
”Hata, maka didatangkan Tuhan suatu bala sampar di antara orang Israel, maka dari pada orang Israel matilah tujuh puluh ribu orang. Maka disuruhkan Allah malaekat itu ke Yeruzalem akan membinasakan dia, tetapi apabila dilihat Tuhan akan kebinasaan itu, maka bersesallah Ia, lalu firman-Nya kepada malaekat yang membinasakan itu: Cukuplah sudah; undurkanlah tanganmu sekarang. Adapun malaekat Tuhan itu adalah berdiri hampir dengan tempat pengirik Ornan, orang Yebuzi itu. Serta Daud menengadah terlihatlah ia akan malaekat Tuhan itu berdiri di antara langit dengan bumi dan pedang yang terhunuspun pada tangannya dilayamkan kepada Yeruzalem; maka pada ketika itu sujudlah Daud dan segala tua-tuapun sertanya dengan mukanya sampai ke bumi dan mereka itupun berpakaikan kain karung.
”Karena pada masa itu kemah Tuhan, perbuatan Musa di padang Tiah, dan mezbah korban bakaran itu adalah di atas bukit Gibeon. Dan lagi tiada sempat Daud pergi ke sana akan bertanyakan Allah, karena terkejut ia oleh pedang malaekat Tuhan itu.
”Maka di dalam bilik tempat yang mahasuci itu, diperbuatnya dua orang kerubiun, perbuatan pemahat, lalu disalutnya dengan emas. Adapun akan sayap kerubiun itu jumlah segala panjangnya dua puluh hasta, yaitu sayap satu kerubiun yang lima hasta panjangnya itu sampai kepada dinding bilik itu, dan sayap yang lain itupun lima hasta sampai kena sayap kerubiun sebelahnya.
”Karena kedua kerubiun itu mengembangkan sayapnya atas tempat tabut itu, dan kedua kerubiun itupun menudungi tabut dan kayu pengusungnya dari atas.
”Tetapi baginda raja Yehizkia dan nabi Yesaya bin Amospun meminta doa akan melawan dia, dan keduanyapun berserulah ke langit. Maka disuruhkan Tuhan seorang malaekat, yang menumpas segala orang pahlawan dan panglima dan penghulu yang di dalam tentara raja Asyur, sehingga pulanglah baginda ke negerinya dengan kemalu-maluanlah mukanya; setelah sudah ia masuk ke dalam kuil berhalanya di sana, maka iapun dibunuh dengan pedang oleh orang yang telah terbit dari pada sulbinya.
”Ya Tuhan, Engkau juga yang benar! Engkau juga yang sudah menjadikan langit, bahkan, langit di atas segala langit serta dengan segala tentaranya dan bumi dengan segala sesuatu yang di atasnya dan lautan dengan segala isinya, dan Engkau juga menghidupkan sekaliannya dan tentara segala langitpun menyembah sujud kepadamu.
”Hata, maka pada sekali peristiwa, pada suatu hari anu, datanglah segala anak Allah akan menghadap Tuhan, dan syaitanpun datang di tengah-tengah mereka itu.
”Maka pada sekali peristiwa, yaitu pada suatu hari segala anak Allah datang menghadap hadirat Tuhan, maka syaitanpun datang di antara mereka itu hendak menghadap Tuhan.
”tatkala segala bintang fajar ramai-ramai menyanyi dan segala anak Allahpun bersorak-sorak?
”Apabila aku menengadah ke langit-Mu, yang perbuatan jari-Mu, serta dengan bulan dan segala bintang, yang telah Kaujadikan, apa gerangan manusia maka Engkau hendak ingat akan dia, atau anak Adam maka Engkau menilik akan dia?
”Bahwa malaekat Tuhan berpasukan mengelilingi segala orang yang takut akan Dia, dan dipeliharakan-Nya mereka itu.
”Biarlah mereka itu menjadi seperti sekam yang dilayangkan oleh angin, dan malaekat Tuhan menghalaukan mereka itu kelak. Biarlah jalan mereka itu kegelapan dan lecak, dan malaekat Tuhan mengusir mereka itu. Karena dengan tiada semena-mena mereka itu telah membentangkan jaringnya bagiku dengan sembunyi-sembunyi dan dengan tiada semena-mena digalinya pelobang bagi jiwaku.
”Apa sebab kamu berlompat-lompat, hai segala gunung yang berbongkol? bahwa bukit ini dikehendaki Allah akan tempat kedudukan-Nya; maka Tuhanpun akan mendiami dia selama-lamanya.
”serta dihujani-Nya mereka itu dengan manna akan makanan, dan dikaruniakan-Nya kepada mereka itu gandum dari langit itu. Maka masing-masing mereka itu makan roti santapan orang bangsawan; dan dikirimkan-Nyalah bekal sampai mereka itu kenyang.
”Maka disuruhkan-Nyalah di antara mereka itu kehangatan murka-Nya, geram dan gusar dan kepicikan, yaitu suatu tentara utusan celaka.
”karena Iapun akan berfirman kepada malaekat-Nya dari halmu, supaya dipeliharakannya dikau pada segala jalanmu. Maka mereka itu akan menatang engkau di atas tangan-Nya, supaya jangan terantuk kakimu kepada batu.
”Bahwa Tuhan adalah memegang perintah; hendaklah gemetar segala bangsa; maka Iapun duduk di antara kerubiun, dan bumi ini bergempalah.
”Pujilah akan Tuhan, hai segala malaekat-Nya! hai segala perwira perkasa yang melakukan firman-Nya! turutlah kamu akan bunyi hukum-Nya. Pujilah akan Tuhan, hai kamu segala balatentara-Nya! hai segala khadim-Nya yang melakukan keridlaan-Nya!
”Dijadikan-Nya angin akan pesuruhan-Nya dan halilintar yang bernyalapun akan hamba-Nya.
”Pujilah akan Dia, hai segala malaekat-Nya! Pujilah akan Dia, hai segala balatentara-Nya!
”Sebermula, maka pada tahun mangkat raja Uzia kelihatanlah kepadaku Tuhan bersemayam di atas arasy yang amat tinggi dan mulia, maka kaabahpun dipenuhi oleh punca pakaian-Nya. Maka kelilingnya adalah berdiri beberapa serafim, pada masing-masing adalah enam sayapnya; dengan dua sayap ditudungnyalah mukanya dan dengan dua sayap ditudungnyalah kakinya dan dengan dua sayap terbanglah ia. Maka berserulah seorang kepada seorang, katanya: Suci, suci, sucilah Tuhan serwa sekalian alam, maka segenap bumi penuhlah dengan kemuliaan-Nya! Maka bergoncanglah segala jenang ambang-ambang dari karena bunyi suara orang yang berseru itu dan segenap rumah itupun penuhlah dengan asap. Lalu kataku: Wai bagiku! binasalah aku kelak, karena aku ini seorang yang najis bibirku dan akupun duduk di antara suatu bangsa yang najis bibirnya, maka mataku sudah melihat Raja, yaitu Tuhan serwa sekalian alam. Tetapi dari pada segala serafim itu terbanglah seorang mendapatkan aku, dan pada tangannya adalah bara api, yang telah diambilnya dari atas mezbah dengan penyepit. Maka itu dikenakannyalah kepada mulutku, sambil katanya: Bahwasanya serta terkenalah ini kepada bibirmu, maka undurlah kesalahanmu dari padamu dan dosamupun sudah diampuni.
”Ya Tuhan serwa sekalian alam, ya Allah orang Israel, yang bersemayam di antara kerubiun! Engkaulah Allah dengan sebenarnya, hanya Engkau jua atas segala kerajaan yang di dalam dunia; Engkau juga yang sudah menjadikan langit dan bumi.
”Karena Aku akan melindungkan negeri ini, hendak meluputkan dia, oleh karena kehendak-Ku dan oleh karena Daud, hamba-Ku. Hata, maka pada masa itu keluarlah malaekat Tuhan, dibunuhnya dalam balatentara Asyur akan seratus delapan puluh lima ribu orang. Maka serta orang bangun pada pagi-pagi hari dilihatnya akan sekalian itu mayat jua adanya.
”Maka kulihat bahwasanya adalah suatu tofan datang dari sebelah utara, sebuah awan yang kabus berisi api dan suatu cahaya kelilingnya, maka dari tengahnya, dari tengah-tengah api itu kelihatanlah sesuatu yang seperti tembaga berkilat. Dan lagi dari tengahnya keluarlah rupa binatang empat ekor, maka inilah rupanya: Adalah padanya seperti rupa manusia juga. Dan tiap-tiap binatang itu bermuka empat, dan pada tiap-tiapnya adalah empat sayapnya, maka kakinya luruslah dan tapak kakinya seperti kuku lembu, gilang-gemilang seperti tembaga yang terupam. Dan di bawah sayapnya adalah tangan manusia pada keempat pihaknya, dan satu muka dan satu sayap adalah pada tiap-tiap keempat pihaknya itu. Maka segala sayapnya bersambatlah satu dengan satu, apabila ia berjalan tak usah ia berpaling dirinya, melainkan apabila ia berjalan ia menuju tempat yang di hadapan mukanya. Maka adalah rupa mukanya demikian: Adalah muka manusia dan muka singa pada sebelah kanannya dan muka lembu dan muka burung nasar pada sebelah kirinya, tiap-tiap muka itu arah ke pihaknya. Maka segala mukanya dan sayapnya bercerai di atas; segala sayap itu berdua-dua bersambat dan dengan dua ditudungkannyalah tubuhnya. Demikianlah masing-masingnya berjalan menuju tempat yang di hadapan mukanya; barang ke mana yang dikehendaki oleh Roh, ke sanapun berjalanlah ia, maka dalam berjalan itu tiada ia berpaling dirinya. Maka adapun rupa segala binatang itu kelihatannya seperti bara api yang bernyala, seperti pedamaran rupanya, dan lagi adalah api mengalir selalu di antara segala binatang itu, dan api itupun bercahayalah dan dari dalam api itupun keluarlah halilintar. Apabila binatang itu berjalan dan balik pula maka adalah seperti halilintar sabung-menyabung rupanya.
”Maka bila kulihat binatang itu sesungguhnya di tanah adalah suatu jentera pada sisi tiap-tiapnya, yang ada empat tepinya. Maka rupa jentera dan perbuatannya seperti warna permata firuzah, dan rupanya sama pada keempat tepinya, dan lagi rupanya dan perbuatannya seperti kalau ada jentera lagi pada sama tengah jentera itu. Apabila berpusing, maka berpusinglah ia kepada keempat pihaknya, tiada ia berpaling dirinya apabila ia berpusing itu. Maka birai-birainya adalah amat tinggi dan hebat rupanya, karena birai-birai itu penuh dengan mata keliling pada keempat pihaknya. Apabila berjalanlah binatang itu maka berpusinglah segala jentera itupun pada sisinya, dan apabila binatang itu naik dari atas bumi, maka segala jentera itupun naiklah. Barang ke manapun dikehendaki oleh roh, ke sanapun perginya; apabila roh itu hendak berjalan, lalu segala jentera itu terangkat sertanya, karena roh binatang itu adalah di dalam segala jentera itu. Apabila ini berjalan, lalu itupun berpusinglah; apabila ini berhenti, lalu itupun berhentilah; apabila ia naik dari atas bumi, segala jentera itupun terangkatlah sertanya, karena roh binatang itu adalah di dalam segala jentera itu.
”Dan di atas kepala segala binatang itu adalah rupa bentangan langit, kelihatannya seperti hablur dan amat hebat, ia itu terbentang di atas kepalanya. Maka di bawah bentangan langit itu adalah sayapnya terkembang tegak-tegak sampai bertemu satu dengan satu; tambahan pula adalah pada masing-masing itu lagi dua sayap, yang dipakainya pada kiri kanannya akan menudungi tubuhnya. Maka apabila mereka itu berjalan kudengar bunyi sayapnya seperti bunyi air banyak menderu, seperti bunyi guruh Yang Mahakuasa, seperti bunyi petir dan seperti bunyi suatu tentara! Maka pada mereka itu berhenti dijuntaikannya sayapnya. Apabila berbunyilah guruh dalam bentangan langit yang di atas kepalanya, maka berhentilah ia dan dijuntaikannya sayapnya.
”Dan lagi bunyi sayap segala binatang yang mengepak-epak, kena satu dengan satu, dan bunyi segala jenterapun bersama-sama, suatu bunyi yang amat gempita.
”Maka kulihat bahwasanya pada bentangan langit yang di atas kepala kerubiun itu adalah seperti permata nilam, suatu lembaga serupa dengan arasy kelihatanlah di atasnya. Maka berfirmanlah Ia kepada orang yang berpakaikan kain khasah itu, firman-Nya: Pergilah engkau sampai di antara segala jentera di bawah kerubiun itu, isilah kedua belah genggammu dengan bara api dari antara kerubiun itu, lalu hamburkanlah dia ke atas negeri itu. Maka pergilah ia di hadapan mataku. Maka berdirilah kerubiun itu pada sebelah kanan rumah itu apabila orang itu ke sana, dan adalah sebuah awan memenuhi pelataran yang di dalam itu; Lalu naiklah kemuliaan Tuhan dari atas kerubiun itu di atas ambang rumah itu, maka rumah itupun dipenuhi dengan sebuah awan dan pelataran itupun penuhlah dengan cahaya kemuliaan Tuhan. Maka kedengaranlah bunyi sayap kerubiun itu sampai ke serambi yang di luar sekali, bagaikan bunyi suara Allah yang Mahakuasa apabila Ia berfirman. Maka jadi apabila disuruhnya orang yang berpakaikan kain khasah itu, firman-Nya: Ambillah olehmu akan api dari antara jentera dari antara kerubiun itu! Lalu datanglah ia berdiri dekat dengan suatu jentera. Maka seorang kerub itu mengulurkan tangannya dari tengah-tengah kerubiun itu kepada api yang di antara kerubiun itu, diambilnya dari padanya, diberikannya dalam genggam orang yang berpakaikan kain khasah itu; setelah diterimanya keluarlah ia. Maka kelihatanlah pada kerubiun itu sesuatu yang serupa dengan tangan manusia di bawah sayap-sayapnya.
”Maka kulihat bahwasanya adalah empat jentera pada sisi kerubiun itu, satu jentera pada sisi tiap-tiap kerubian, dan kelihatan segala jentera itu seperti warna permata firuzah rupanya. Maka rupanya sama pada keempat sisinya seperti adalah lagi satu jentera pada sama tengah satu jentera. Apabila ia berjalan maka berjalanlah ia pada keempat pihaknya, dan dalam berjalan itu tiada ia berpaling dirinya; karena ke tempat yang dituju kepalanya ke sana juga ia mengikut, tiada ia berpaling dirinya dalam berjalan itu. Maka segenap tubuh kerubiun itu dan lagi belakangnya dan tangannya dan sayapnya dan jentera itupun penuh dengan mata kelilingnya, dan keempat itupun berjentera. Adapun segala jentera itu kudengar dipanggil akan dia Jal-jal. Dan tiap-tiap kerubiun itu bermuka empat, muka yang satu itu muka kerubiun, dan muka yang kedua itu muka orang, dan yang ketiga itu muka singa, dan yang keempat itu muka burung nasar. Serta naiklah kerubiun itu rupanya sama dengan binatang yang telah kulihat di tepi sungai Khaibar. Apabila berjalan kerubiun itu maka segala jenterapun berpusinglah pada sisinya; dan apabila kerubiun itu mengembangkan sayapnya naiklah mereka itu dari atas bumi; maka segala jentera itu tiada berbalik dirinya dan selalu adalah ia pada sisinya. Apabila ia berhenti, itupun berhentilah, apabila ia naik, itupun naiklah sertanya, karena roh binatang itu adalah di dalamnya.
”Maka keluarlah kemuliaan Tuhan dari atas ambang rumah itu, lalu berhenti di atas kerubiun itu; maka kerubiun itu mengembangkan sayapnya lalu naik dari atas bumi; kulihat dengan mataku sendiri mereka itu pergi dan segala jentera itupun sertanya; maka kemuliaan Allah orang Israel di atasnya itu adalah berdiri pada tudung pintu timur rumah Tuhan. Maka ini juga binatang yang telah kulihat di bawah Allah orang Israel di tepi sungai Khaibar itu, maka sekarang baharu kuketahui akan dia kerubian adanya. Masing-masingnya bermuka empat dan masing-masingnya bersayap empat dan sesuatu yang serupa dengan tangan manusia adalah di bawah sayapnya. Dan rupa muka mereka itupun sama dengan rupa muka yang telah kulihat di tepi sungai Khaibar, lembaganyapun sama, keadaannyapun sama; masing-masingnya berjalan ke tempat yang dituju mukanya.
”Maka pada masa itu dikembangkan segala kerubiun sayap-sayapnya dan segala jenterapun sertanya dan kemuliaan Allah orang Israelpun adalah padanya di atas.
”Tetapi ketiga orang itu, Saderakh dan Mesakh dan Abed-nego, dengan ikatannya jatuhlah di tengah-tengah dapur api yang bernyala-nyala. Maka tercengang-cenganglah baginda raja Nebukadnezar, lalu bangkit berdiri dengan segera sambil titahnya kepada segala menterinya: Bukankah kita suruh buang tiga orang juga ke dalam api itu dengan terikat? Maka sahut mereka itu, sembahnya: Benarlah seperti titah tuanku! Maka titah baginda: Bahwasanya aku melihat orang empat dengan terurai pengikatnya berjalan di tengah-tengah api, dan barang marabahayapun tiada padanya, dan rupa seorang, yang keempat itu, seperti anak dewata juga. Lalu baginda raja Nebukadnezarpun menghampirilah pintu dapur api yang bernyala-nyala sambil titahnya: Hai Saderakh, Mesakh dan Abed-nego, hamba Allah taala! keluarlah, marilah kamu! Lalu keluarlah Saderakh, Mesakh dan Abed-nego dari tengah-tengah api. Sudah itu, maka berhimpunlah segala pangeran dan demang, adipati, dan segala menteri raja, hendak melihat orang itu, karena api tiada berkuasa atas tubuhnya, rambut kepalanyapun tiada hangus dan pakaiannyapun tiada berubah, bahkan, bau sangit apipun tiada terkena kepadanya. Maka titah raja nebukadnezar: Segala puji bagi Allahnya Saderakh, Mesakh dan Abed-nego! yang sudah menyuruhkan malaekat-Nya dan sudah meluputkan hamba-hamba-Nya yang telah harap pada-Nya dan tiada mau menurut titah raja, melainkan telah diserahkannya tubuhnya akan tiada berbuat ibadat atau menyembah kepada dewata, melainkan kepada Allahnya juga.
”Dan lagi kulihat dalam khayal kepalaku di atas peraduanku, sesungguhnya turunlah seorang utusan, seorang suci dari langit,
”Maka perkara ini sudah ditentukan oleh segala utusan dan segala hal ihwal ini dengan firman mereka yang suci, supaya diaku oleh segala orang yang hidup, bahwa Allah taala dipertuhan atas segala kerajaan manusia dan dikaruniakan-Nya kepada barangsiapa yang dikehendaki-Nya, bahkan, boleh diangkat-Nya atasnya akan orang yang terkecil sekali.
”Maka sembah Daniel kepada baginda: Daulat tuanku!
”Maka suatu sungai api mengalirlah dan berpecah-pecahlah di hadapan-Nya, dan beribu-ribu berkhidmat kepada-Nya dan berlaksa-laksa menghadap hadirat-Nya; maka majelis hukumpun lalu duduklah dan segala suratpun dibukakanlah.
”Maka kudengar bunyi suara manusia seperti datang dari seberang sungai Ulai, yang berseru, katanya: Hai Jibrail! artikanlah olehmu khayal itu kepada orang ini. Maka datanglah ia berdiri pada sisiku; serta ia datang maka terkejutlah aku, lalu aku sujud, maka katanya kepadaku: Perhatikanlah baik-baik, hai anak Adam! karena khayal ini akan hal akhir zaman.
”sementara lagi aku berkata dalam doaku, datanglah seorang, yaitu Jibrail, yang telah kulihat dalam khayal dahulu itu, ia terbang dengan segera mendapatkan aku, kira-kira pada waktu persembahan petang hari. Maka berkatalah ia, dan diajarnya aku, katanya: Hai Daniel! sekarang aku sudah datang hendak memberi akal pengertian akan dikau.
”Hera, maka adalah suatu tangan menjamah aku, diadakannya bahwa aku merangkak dengan lututku dan kedua tapak tanganku. Maka katanya kepadaku: Hai Daniel, orang yang amat kekasih, perhatikanlah baik-baik segala perkataan yang hendak kukatakan kepadamu; berdirilah dengan kakimu, karena sekarang aku disuruhkan mendapatkan dikau. Demi dikatakannya perkataan ini kepadaku, maka bangkit berdirilah aku serta dengan gemetar. Lalu katanya kepadaku: Jangan takut, hai Daniel! karena dari pada hari yang pertama engkau berniat dalam hatimu hendak mengerti dan merendahkan hatimu di hadapan hadirat Allahmu, diterima juga segala sembahmu dan oleh karena sembahmu itu aku sudah datang. Tetapi penghulu kerajaan Farsi itu adalah berdiri merintangi aku dua puluh satu hari lamanya, maka sesungguhnya Mikhael, seorang dari pada segala penghulu yang terbesar itu, sudah datang membantu aku, tetapi aku tinggal di sana lama begitu serta dengan raja-raja Farsi. Maka sekarang aku sudah datang memberitahu engkau barang yang akan berlaku atas bangsamu pada akhir zaman, karena khayal ini akan beberapa berapa hari lagi.
”Demi dikatakannya segala perkataan ini kepadaku, tunduklah aku dengan mukaku ke bumi dan akupun termangu-mangu. Tetapi tiba-tiba rupa seorang manusia juga mencecah bibir mulutku, lalu kubukakan mulutku dan berkata-kata, serta kataku kepada orang yang berdiri di hadapanku: Ya tuan! khayal ini mendatangkan penyakit kepada hamba, sehingga tiada hamba bergaya lagi! Maka bagaimana boleh hamba tuan ini berkata dengan tuan hamba? adapun hamba ini tiada bergaya lagi, dan hampir-hampir tiada lagi tinggal barang nafas pada hamba. Maka pada masa itu rupa orang manusia itu menjamah aku pula, dikuatkannya aku, serta katanya: Jangan engkau takut, hai orang yang amat kekasih! selamatlah engkau, jadilah kuat dan pertetapkanlah hatimu! maka sementara ia berkata dengan aku begitu, jadilah aku kuat pula, lalu sembahku: Hendaklah kiranya tuan berkata kepada hamba, karena sudah tuan kuatkan hamba! Maka katanya: Bahwa sekarang diketahui juga olehmu akan sebabnya aku sudah datang mendapatkan dikau ini, sekarang aku hendak balik akan berperang dengan penghulu Farsi; setelah sudah aku keluar dari pada perang itu, sesungguhnya aku datang penghulu Yunanpun. Tetapi aku hendak memberitahu juga kepadamu barang yang tersurat di dalam Kitabulhak; maka sekarang seorangpun tiada pembantuku dalam melawan dia, melainkan Mikhael, penghulu kamu itu.
”Hata, maka pada masa itu akan bangkit berdiri Mikhael, penghulu besar itu, yang memeliharakan perkara segala bani bangsamu; setelah sudah ada suatu masa kesukaran, begitu besar belum pernah ada dahulu, dari pada jadi suatu bangsa datang kepada hari ini; tetapi pada masa itu bangsamu akan diluputkan, yaitu mereka itu sekalian yang didapati tersurat namanya di dalam Kitab itu.
”Tiuplah olehmu nafiri di Sion dan bersoraklah di atas bukit kesucian-Ku; hendaklah segala orang isi negeri gementar, karena datanglah hari Tuhan, karena hampirlah ia. Yaitu suatu hari yang gelap-gulita, suatu hari yang berawan-awan dan kegelapan malam! Maka seperti fajar merekah meliputi gunung-gunung, demikianlah suatu bangsa yang besar dan kuat, sebagainya belum pernah ada dari awal zaman, dan tiada pula akan ada pada kemudian hari selagi ada peridaran bumi ini! Di hadapannya adalah suatu api makan selalu dan di belakangnya nyala api menghanguskan; di hadapan mereka itu adalah tanah seperti tanah Eden dan di belakangnya adalah gurun kebinasaan, sehingga satupun tiada dapat luput dari padanya. Seperti rupa kuda, demikianlah rupanya dan seperti orang berkuda, demikianlah pantasnya. Seperti bunyi beberapa rata di atas kemuncak gunung-gunung, demikianlah bunyi lompat mereka itu; seperti keretak bunyi nyala api apabila dimakannya jerami; seperti suatu bangsa kuat yang lengkap akan berperang. Dari hadapannya segala bangsa akan dalam penyakit dan muka segala orangpun suramlah cahayanya. Seperti orang hulubalang mereka itu berlari-larian datang; seperti orang perang mereka itu menaiki dewala; masing-masingnya tampil ke hadapan pada jalannya dan tiada mereka itu menyimpang dari pada jalannya. Tiada mereka itu menyesakkan seorang akan seorang, masing-masingnya langsung pada jalannya sendiri; bahkan, mereka itu menempuh kepada tombak yang teradak, maka tiada pecah ikatan perangnya. Mereka itu berpusing ke sana ke mari dalam negeri dan berjalan di atas dewala; mereka itu naik ke dalam rumah-rumah dan masuk dari pada tingkap selaku orang pencuri. Dari sebab itu bergempalah bumi dan gentarlah segala langit; matahari dan bulanpun jadilah hitam, dan segala bintangpun padamlah cahayanya. Maka dinyaringkanlah Tuhan bunyi suara-Nya di hadapan tentara-Nya; bagaimana amat besar tentara-Nya itu, bagaimana kuat Ia dalam melakukan firman-Nya! Bahkan, besarlah hari Tuhan dan amat sangat hebat; entah siapa dapat menderita dia itu?
”Maka pada waku malam kulihat, bahwasanya adalah seorang laki-laki mengendarai kuda merah, maka berhentilah ia di tengah-tengah segala pokok murd, yang pada tempat dalam, dan di belakangnya adalah beberapa ekor kuda merah dan merah tua dan putih warnanya. Maka sembahku: Apakah artinya sekalian ini, ya tuan? Maka sahut malaekat yang berkata kepadaku itu: Bahwa Aku akan menyatakan kepadamu artinya sekalian ini. Lalu sahut orang yang berdiri di tengah-tengah pokok murd itu, katanya: Inilah dia, yang disuruhkan Tuhan keluar akan berjalan keliling pada seluruh bumi. Maka sahutlah mereka itu kepada Malaekat Tuhan, yang berdiri di tengah-tengah pokok murd itu, katanya: Bahwa kami sudah berkeliling di atas bumi, maka sesungguhnya seluruh bumi itu selamat sentosa. Maka sahutlah Malaekat Tuhan itu, katanya: Ya Tuhan serwa sekalian alam! Berapa lama lagi, maka Engkau tiada mengasihani Yeruzalem dan segala negeri Yehuda? Adapun Engkau murka akan dia itu sudah lebih dari tujuh puluh tahun lamanya. Maka disahut oleh Tuhan kepada malaekat yang berkata dengan aku itu perkataan yang baik dan yang menghiburkan hati. Lalu kata malaekat yang berkata dengan aku itu: Berserulah engkau dan katakanlah: Demikianlah firman Tuhan serwa sekalian alam: Bahwa sangat berbangkitlah gairah-Ku akan Yeruzalem dan akan Sion.
”Maka kembali kuangkat mataku, kulihat bahwasanya adalah seorang laki-laki dan pada tangannya adalah tali pengukur. Maka kataku: Engkau hendak kemana? Lalu katanya kepadaku: Hendak mengukur Yeruzalem, dan hendak melihat berapa akan lebarnya dan berapa akan panjangnya. Maka sesungguhnya berjalanlah malaekat yang berkata dengan aku itu, lalu keluarlah seorang malaekat yang lain bertemu dengan dia. Maka katanya kepadanya: Pergilah mendapatkan orang muda itu, katakanlah kepadanya: Bahwa Yeruzalem akan diduduki orang berkampung-kampung dari karena kebanyakan manusia dan binatang yang di dalamnya. Dan Aku jagi baginya akan pagar api berkeliling, demikianlah firman Tuhan, dan di tengah-tengahnya Aku jadi akan kemuliaan.
”Kemudian dari pada itu diberinya aku melihat Yosua, imam besar itu, berdiri di hadapan Malaekat Tuhan dan syaitanpun adalah berdiri pada kanannya akan menuduh dia. Tetapi berfirmanlah Tuhan kepada syaitan: Dilaknatkan Tuhan akan dikau, hai syaitan! Bahkan, engkau dilaknatkan oleh Tuhan, yang memilih Yeruzalem! Bukankah ia ini suatu puntung yang sudah direbut dari dalam api? Adapun Yosua itu adalah berpakaikan pakaian yang kotor pada masa ia berdiri di hadapan Malaekat itu. Maka sahut Ia dan berfirmanlah Ia kepada mereka itu sekalian yang berdiri di hadapan hadirat-Nya, katanya: Tanggalkanlah kamu pakaian yang kotor ini dari padanya. Setelah itu berfirmanlah Ia kepadanya: Bahwasanya Aku sudah maafkan segala kesalahanmu, dan Aku mengenakan pakaian persalin kepadamu! Maka sebab itu firman-Ku: Hendaklah dikenakan destar yang suci pada kepalanya! Maka dikenakan orang destar yang suci itu pada kepalanya dan dikenakannya pakaian imam kepadanya, sementara Malaekat Tuhan adalah hadir. Maka bersaksilah Malaekat Tuhan itu kepada Yosua, katanya: Demikianlah firman Tuhan serwa sekalian alam: Jikalau engkau menjalani segala jalan-Ku dan jikalau engkau melakukan pengawalan-Ku dan lagi memerintahkan rumah-Ku dengan bijaksana dan menunggui segala serambi-Ku, maka Aku akan mengaruniakan kepadamu kelak beberapa pemimpin dari pada mereka yang hadir di sini.
”Maka ujar aku, kataku kepada malaekat yang berkata dengan aku: Apakah artinya ini, tuan? Maka sahut malaekat itu, katanya kepadaku: Bahwa inilah keempat angin di langit, yang keluar setelah sudah ia menghadap dahulu hadirat Tuhan seluruh bumi.
”Tetapi sedang ia berpikir demikian, kelihatanlah padanya di dalam mimpi seorang malaekat Tuhan, yang berkata, "Hai Yusuf, anak Daud, janganlah engkau kuatir menerima Maryam itu menjadi isterimu, karena kandungannya itu terbitnya daripada Rohulkudus. Maka ia akan beranakkan seorang anak laki-laki, dan hendaklah engkau menamakan Dia Yesus, karena Ialah yang akan melepaskan kaumnya daripada segala dosanya." Maka sekaliannya itu berlaku, supaya sampailah barang yang difirmankan oleh Tuhan dengan lidah nabi, bunyinya: Sesungguhnya anak dara itu akan mengandung dan beranakkan seorang anak laki-laki, dan disebut orang namanya: Immanuel, yang diterjemahkan artinya, Allah beserta kita. Maka bangunlah Yusuf daripada tidurnya, diperbuatnyalah sebagaimana pesan malaekat Tuhan kepadanya, lalu diterimanya Maryam isterinya.
”Sepeninggal orang majus, maka kelihatanlah kepada Yusuf di dalam mimpi seorang malaekat berkata, "Bangunlah engkau, ambil kanak-kanak itu serta dengan ibunya, bawa lari ke Mesir, dan tinggallah di sana sehingga aku beri tahu lagi kepada engkau; karena Herodes akan mencari kanak-kanak itu hendak membunuh Dia."
”Apabila Herodes sudah mati, maka kelihatanlah seorang malaekat Tuhan kepada Yusuf di dalam mimpi di tanah Mesir, sambil berkata, "Bangunlah dan bawa kanak-kanak itu serta dengan ibunya, dan berangkatlah ke tanah Israel; karena segala orang yang hendak membunuh kanak-kanak itu sudah mati."
”serta berkata kepada-Nya, "Jikalau Engkau Anak Allah, jatuhkanlah diri Engkau ke bawah, karena telah tersurat: Bahwa Ia akan berfirman kepada segala malaekat-Nya dari hal-Mu, maka mereka itu akan menatang Engkau di tangannya, supaya jangan terantuk kaki-Mu pada batu."
”Setelah itu maka undurlah Iblis daripada-Nya, lalu datanglah malaekat melayani Dia.
”Dan seteru yang menabur lalang itu, ialah Iblis; dan musim menuai, ialah kesudahan alam; dan orang yang menuai itu, ialah segala malaekat. Maka sama seperti lalang itu dikumpulkan dan dibakar habis dengan api, sedemikianlah akan jadi pada kesudahan alam. Maka Anak manusia akan menyuruhkan segala malaekat-Nya, lalu malaekat itu akan mengumpulkan dari dalam kerajaan-Nya segala penggoda dan sekalian orang yang durhaka. Lalu dibuangkan-Nya ke dalam dapur yang berapi; di sanalah kelak tangisan dan kertak gigi.
”Demikianlah akan jadi pada kesudahan alam: Segala malaekat akan keluar mengasingkan orang jahat dari antara orang yang benar. Lalu membuangkan mereka itu ke dalam dapur yang berapi; di sanalah kelak tangisan dan kertak gigi.
”Karena Anak manusia akan datang dengan kemuliaan Bapa-Nya beserta dengan segala malaekat-Nya; pada masa itu Ia akan membalas kepada tiap-tiap orang menurut perbuatannya.
”Ingatlah baik-baik, janganlah kamu menghinakan barang seorang daripada kanak-kanak yang kecil ini; karena Aku berkata kepadamu, bahwa segala malaekat mereka itu yang di surga senantiasa memandang wajah Bapa-Ku yang di surga.
”Karena pada hari kiamat kelak tiadalah orang kawin, dan tiada orang dikawinkan, melainkan keadaannya itu seperti malaekat yang di surga.
”Maka Ia pun akan menyuruhkan malaekat-Nya meniup sangkakala yang besar bunyinya, dan akan menghimpunkan sekalian orang-Nya yang terpilih daripada keempat penjuru alam, yaitu dari tepi langit sampai ke tepinya yang lain.
”Tetapi akan hari dan ketikanya tiada diketahui oleh seorang jua pun, meskipun malaekat yang di surga atau Anak itu, melainkan hanya Bapa sahaja.
”"Apabila Anak manusia datang kelak dengan kemuliaan-Nya, dan segala malaekat-Nya pun serta-Nya, lalu Ia akan duduk di atas takhta kemuliaan-Nya;
”Pada sangkamu, tiadakah boleh Aku memohonkan kepada Bapa-Ku, sehingga Ia mengaruniakan kepada-Ku lebih daripada dua belas legion malaekat walaupun sekarang ini juga?
”Maka sekonyong-konyong jadilah gempa bumi yang besar, karena seorang malaekat Tuhan turun dari surga, serta datang menggolekkan batu itu dari kubur, lalu duduk di atas. Maka adalah rupanya seperti kilat, dan pakaiannya putih seperti salju. Maka orang jaga itu pun menggeletar oleh sebab takut akan dia, sehingga kelihatan seperti orang mati. Lalu malaekat itu menjawab serta berkata kepada perempuan itu, "Janganlah kamu takut, karena aku mengetahui, bahwa kamu mencari Yesus yang disalibkan itu; tiadalah Ia di sini, karena Ia sudah bangkit seperti kata-Nya dahulu. Marilah kamu, lihatlah tempat Tuhan sudah terbaring itu. Pergilah kamu dengan segera mengatakan kepada murid-murid-Nya, bahwa Ia sudah bangkit dari antara orang mati, dan akan berjalan dahulu daripada kamu ke Galilea; di sanalah kelak kamu melihat Dia; ingatlah, Aku sudah mengatakan hal itu kepadamu."
”Adalah Ia di padang belantara itu empat puluh hari lamanya dicobai oleh Iblis, maka Ia hidup di antara binatang-binatang yang buas, tetapi malaekat pun melayani Dia.
”Sebab itu barangsiapa yang malu mengaku Aku dan perkataan-Ku di antara bangsa yang berzinah dan berdosa ini, maka Anak manusia itu pun kelak malulah mengaku dia, apabila Ia datang dengan kemuliaan Bapa-Nya beserta dengan segala malaekat-Nya yang kudus."
”Karena apabila mereka itu bangkit kelak dari antara orang mati, tiadalah mereka itu kawin atau dikawinkan, melainkan keadaan mereka itu seperti malaekat yang di surga.
”Kemudian Ia akan menyuruhkan segala malaekat-Nya akan menghimpunkan sekalian orang yang terpilih itu daripada keempat penjuru alam, yaitu dari ujung bumi sampai ke ujung langit.
”Tetapi akan harinya atau ketikanya itu tiada diketahui oleh seorang jua pun, baik segala malaekat yang di surga pun tidak, atau Anak itu pun tidak, hanyalah Bapa sahaja.
”Lalu masuklah mereka itu ke dalam kubur, dilihatnya seorang muda duduk di sebelah kanan, yang berpakaikan suatu jubah yang putih; maka tercengang-cenganglah segala perempuan itu. Maka kata orang muda itu kepada mereka itu, "Janganlah kamu tercengang; kamu mencari Yesus, orang Nazaret, yang sudah disalibkan itu. Ia sudah bangkit, tiada Ia di sini, tengoklah tempat orang meletakkan Dia. Tetapi pergilah kamu, katakanlah kepada segala murid-Nya dan kepada Petrus pun, bahwa Ia akan berjalan dahulu daripada kamu ke Galilea, di sana kamu akan melihat Dia seperti sabda-Nya kepada kamu."
”Maka kelihatanlah kepada Zakaria seorang malaekat Tuhan terdiri di sebelah kanan tempat persembahan membakar kemenyan itu. Lalu Zakaria pun terkejut memandang dia, serta datang ketakutan atasnya. Tetapi berkatalah malaekat itu kepadanya, "Janganlah takut, hai Zakaria, karena permohonanmu sudah diluluskan, dan isterimu Elisabet itu akan beranakkan bagimu seorang anak laki-laki, maka hendaklah engkau menamai dia Yahya. Dan akan jadi kesukaan dengan sukaria bagimu, serta banyak orang akan menyukakan kelahirannya. Karena ia akan menjadi besar kepada pemandangan Tuhan, dan tiada ia akan minum air anggur atau minuman yang keras; dan ia akan penuh dengan Rohulkudus daripada rahim ibunya. Maka ia akan mengembalikan banyak orang bani Israel kepada Allah, Tuhannya itu. Dan ialah yang akan berjalan di hadapan Tuhan dengan roh dan kuasa Elias, akan membalikkan hati segala bapa kepada anak-anaknya dan orang ingkar kepada perasaan hati orang yang benar; dan akan menyediakan suatu kaum yang lengkap bagi Tuhan." Maka kata Zakaria kepada malaekat itu, "Bagaimanakah hamba hendak mengerti perkara ini? Karena hamba sudah tua, dan isteri hamba pun sudah sangat lanjut umurnya." Maka malaekat itu menjawab, serta berkata kepadanya, "Aku inilah Jibrail, yang berdiri di hadapan Allah, dan Aku disuruhkan mengatakan kepadamu, serta menyampaikan kabar kesukaan ini. Ingatlah, engkau akan menjadi kelu dan sekali-kali tiada dapat berkata-kata sehingga sampai kepada hari hal ini berlaku kelak, oleh sebab engkau tiada percaya akan perkataanku, yang akan disampaikan pada ketikanya."
”Pada bulan yang keenam, maka malaekat Jibrail itu disuruhkan Allah ke sebuah negeri di Galilea, yang bernama Nazaret, kepada seorang perawan yang bertunangan dengan seorang laki-laki bernama Yusuf, keturunan Daud; maka nama perawan itu Maryam. Maka malaekat itu pun datanglah kepadanya, serta berkata, "Sejahteralah engkau, yang sudah beroleh anugerah! Tuhanlah beserta dengan engkau." Maka terkejutlah ia sebab katanya demikian, serta berpikir akan pengertian salam ini. Maka kata malaekat itu kepada Maryam, "Janganlah takut, hai Maryam! Karena engkau sudah beroleh anugerah Allah. Sesungguhnya engkau akan hamil, dan beranakkan seorang anak laki-laki, maka hendaklah engkau namakan Dia Yesus. Maka Ia akan menjadi besar, dan Ia akan dikatakan Anak Allah Yang Mahatinggi; maka Allah, Tuhan kita, akan mengaruniakan kepada-Nya takhta Daud, nenek moyang-Nya itu. Maka Ia pun akan menjadi raja atas benih Yakub selama-lamanya, dan kerajaan-Nya itu tiada berkesudahan." Lalu kata Maryam kepada malaekat itu, "Bagaimanakah perkara ini boleh jadi, karena hamba belum mengetahui laki-laki?" Maka jawab malaekat itu serta berkata kepadanya, "Bahwa Rohulkudus akan turun atasmu, dan kuasa Allah Yang Mahatinggi akan menaungi engkau. Sebab itu juga Yang Kudus yang akan diperanakkan itu, kelak dikatakan Anak Allah. Sesungguhnya keluargamu, Elisabet, itu pun mengandung seorang anak laki-laki pada masa tuanya; maka sekarang ini sudah masuk bulannya yang keenam, yang dahulunya dikatakan mandul; karena tiap-tiap firman Allah, satu pun tiada yang mustahil." Maka kata Maryam, "Sesungguhnya, hamba ini hamba Tuhan; jadilah kiranya pada hamba sebagaimana katamu." Maka gaiblah malaekat itu daripadanya.
”Maka di jajahan itu pun ada beberapa orang gembala, yang tinggal di padang menjaga kawan binatangnya pada waktu malam. Maka tiba-tiba terdirilah seorang malaekat Tuhan di sisinya, dan kemuliaan Tuhan pun bercahaya sekeliling mereka itu; lalu sangatlah takut sekaliannya. Maka kata malaekat itu kepada mereka itu, "Janganlah takut, karena sesungguhnya Aku memberitakan kepadamu suatu kesukaan besar yang akan jadi bagi segenap kaum; sebab pada hari ini sudah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus Tuhan itu, di dalam negeri Daud. Maka inilah tandanya bagimu: Kamu akan jumpa seorang kanak-kanak berbedung dengan kain lampin dan berbaring di dalam palungan." Maka sekonyong-konyong adalah beserta dengan malaekat itu beberapa banyak bala tentara surga, yang memuji Allah serta katanya, "Segala kemuliaan bagi Allah di tempat Yang Mahatinggi, dan sejahtera di atas bumi di antara orang yang diperkenan-Nya." Apabila segala malaekat itu kembali dari mereka itu ke surga, berkatalah gembala itu sama sendirinya, "Marilah kita pergi ke Betlehem melihat perkara yang sudah jadi itu, yang dinyatakan oleh Tuhan kepada kita."
”karena telah tersurat: Bahwa Ia akan berfirman kepada malaekat-Nya dari hal-Mu, akan memeliharakan Dikau; dan malaekat itu akan menatang Engkau di tangannya, supaya jangan terantuk kaki-Mu pada batu."
”Karena barangsiapa yang malu mengaku Aku dan perkataan-Ku, maka Anak manusia itu pun malu mengaku dia, apabila Ia datang kelak dengan kemuliaan-Nya sendiri dan dengan kemuliaan Bapa-Nya dengan kemuliaan segala malaekat-Nya yang kudus.
”Maka Aku berkata kepadamu: Tiap-tiap orang yang mengaku Aku di hadapan manusia, maka Anak manusia juga mengaku dia di hadapan malaekat Allah. Tetapi barangsiapa yang menyangkali Aku di hadapan manusia, maka ia pun akan disangkali di hadapan malaekat Allah.
”Maka Aku berkata kepadamu: Demikian juga kesukaan di surga kelak sebab satu orang berdosa yang bertobat, lebih daripada sembilan puluh sembilan orang benar yang tak usah bertobat."
”Maka Aku berkata kepadamu: Demikian juga jadi kesukaan di hadapan malaekat Allah sebab satu orang berdosa yang bertobat."
”Maka tiada berapa lama matilah si peminta sedekah itu, lalu dibawa oleh malaekat ke atas pangku Ibrahim. Dan orang kaya itu pun matilah juga, lalu dikuburkan.
”karena tiada mereka itu dapat mati balik lagi; karena keadaannya itu serupa dengan malaekat; dan mereka itulah anak Allah dari sebab anak kebangkitan itu.
”Maka kelihatanlah kepada-Nya seorang malaekat dari langit menguatkan Dia.
”Maka sedang mereka itu termangu-mangu, tiba-tiba ada dua orang terdiri di sisinya berpakaian yang bersinar-sinar. Maka takutlah mereka itu amat sangat dengan menundukkan mukanya ke tanah; lalu berkatalah kedua orang itu kepada mereka itu, "Apakah sebabnya kamu mencari Yang Hidup di antara yang mati? Tiada Ia di sini, melainkan Ia sudah bangkit. Ingatlah bagaimana perkataan-Nya kepadamu tatkala Ia lagi di Galilea, mengatakan: Bahwa tak dapat tiada Anak manusia akan diserahkan ke tangan orang berdosa, dan Ia disalibkan, dan bangkit pula pada hari yang ketiga."
”dan tatkala mereka itu tiada jumpa mayat-Nya itu, kembalilah mereka itu sambil berkata, bahwa mereka itu sudah nampak suatu penglihatan, yaitu malaekat yang mengatakan: Ia hidup pula.
”Lalu kata-Nya pula kepadanya, "Sesungguh-sungguhnya, Aku berkata kepada kamu: Bahwa kamu akan nampak langit terbuka, dan segala malaekat Allah naik turun ke atas Anak manusia."
”Maka di Yeruzalem dekat "Pintu domba" adalah suatu kolam, menurut bahasa Ibrani dinamai Baitesda; maka padanya ada lima serambi. Di serambi itu adalah terhantar amat banyak orang sakit, yaitu orang buta dan timpang dan lumpuh, sekaliannya menantikan air kolam itu berkocak. Karena terkadang-kadang turunlah seorang malaekat ke dalam kolam itu serta mengocakkan airnya; maka barangsiapa yang terlebih dahulu turun ke dalam kolam itu, sesudahnya berkocak air itu, ia pun sembuhlah dari barang sesuatu penyakit apa pun, yang diidapinya.
”Tetapi Maryam itu berdiri di luar, dekat kubur sambil menangis. Tatkala menangis tunduklah ia menengok ke dalam kubur; lalu dilihatnya dua orang malaekat berpakaian putih duduk, yaitu seorang di kepala dan seorang di kaki pada tempat mayat Yesus terletak dahulu. Maka berkatalah malaekat itu kepada Maryam, "Hai perempuan, apakah sebabnya engkau menangis?" Maka kata Maryam kepadanya, "Sebab orang sudah mengambil Tuhan, dan hamba tiada tahu, di mana orang menaruh Dia."
”Setelah sudah Ia bersabda demikian, maka terangkatlah Ia sedang mereka itu memandang Dia, dan suatu awan meraibkan Dia daripada penglihatan mereka itu. Maka sedang mereka itu lagi menatap Dia ketika naik ke langit itu, tiba-tiba terdirilah dua orang dekat mereka itu berpakaian putih, yang berkata, "Hai kamu orang Galilea, apakah sebabnya kamu berdiri menatap ke langit? Adapun Yesus yang dinaikkan ke surga dari hadapan kamu itu, begitu juga akan turun pula seperti kamu lihat Ia pergi ke surga itu."
”lalu menangkap rasul-rasul itu serta menutup di dalam penjara negeri. Tetapi seorang malaekat Tuhan membukakan pintu penjara itu pada malamnya, lalu mengeluarkan mereka itu serta berkata, "Pergilah kamu berdiri di dalam Bait Allah mengatakan kepada kaum itu akan segala perkataan dari hal Hidup itu."
”Kamulah yang sudah menerima Taurat, yang disampaikan oleh malaekat, tetapi tiada kamu turut."
”Adalah seorang malaekat Tuhan berkata kepada Pilipus, "Bangkit dan pergilah engkau ke sebelah selatan mengikut jalan yang turun dari Yeruzalem ke Gaza, jalan itu sunyi."
”Maka ada kira-kira pukul tiga petang dilihatnya dengan terangnya di dalam suatu penglihatan seorang malaekat Allah datang mendapatkan dia serta berkata kepadanya, "Hai Kornelius!" Maka ia pun menatap malaekat itu dengan ketakutannya sambil berkata, "Apakah ini, ya Tuhan?" Maka katanya kepadanya, "Segala doamu dan sedekahmu sudah naik menjadi peringatan kepada Allah.
”Maka oleh sebab itu terkurunglah Petrus di dalam penjara, tetapi sidang jemaat itu mendoakan dia kepada Allah dengan bersungguh-sungguh. Apabila Herodes hendak membawa dia ke luar, maka pada malam itu juga, sedang Petrus tidur di antara dua laskar terbelenggu dengan dua rantai, dan lagi ada beberapa orang jaga di muka pintu sedang menjaga penjara itu, tiba-tiba terdirilah seorang malaekat Tuhan di situ, dan suatu cahaya bersinar di dalam bilik itu; lalu ditepuknya rusuk Petrus, sambil mengejutkan dia, katanya, "Bangunlah segera!" Maka gugurlah belenggunya daripada tangannya. Maka kata malaekat itu kepadanya, "Ikatlah pinggangmu, pakailah kasutmu!" Lalu diperbuatnyalah demikian. Maka katanya kepadanya, "Pakailah pakaianmu, ikutlah aku!" Maka Petrus pun keluar mengikut dia, tetapi tiada diketahuinya akan perbuatan malaekat itu sungguh, melainkan pada sangkanya sudah nampak suatu penglihatan sahaja. Setelah sudah dilaluinya kawal yang pertama dan yang kedua itu, maka sampailah keduanya itu ke pintu besi yang menuju ke negeri; maka terbukalah pintu itu sendiri kepada mereka itu, lalu mereka itu keluar serta melalui satu lorong, maka dengan sekonyong-konyong gaiblah malaekat itu daripadanya.
”Tatkala Petrus sadar akan dirinya, maka katanya, "Sekarang tahulah aku dengan sesungguhnya bahwa Tuhan telah menyuruhkan malaekat-Nya melepaskan aku daripada tangan Herodes dan daripada segala maksud kaum Yahudi itu." Setelah sudah ia memikirkan perkara itu, pergilah ia ke rumah Maryam, ibu Yahya, yang bergelar Markus; di situ ada beberapa banyak orang berhimpun sedang berdoa. Apabila diketuknya pintu besar maka datanglah seorang hamba perempuan bernama Rode, hendak mendengar. Serta dikenalnya suara Petrus, lalu tiadalah jadi ia membuka pintu itu karena sukacita, melainkan berlarilah masuk memberitahu, bahwa Petrus ada berdiri di muka pintu. Maka kata mereka itu kepadanya, "Engkau gila!" Tetapi perempuan itu berkuat menyungguhkan seperti yang dikatakannya itu. Lalu kata mereka itu, "Itulah malaekatnya." Tetapi Petrus tiada berhenti mengetuk-ngetuk; setelah mereka itu membuka pintu itu, lalu dilihatnya dia sambil tercengang-cengang.
”Pada suatu hari yang tertentu, Herodes pun memakai pakaian kerajaannya, lalu duduk di atas takhtanya serta mengatakan suatu ucapan kepada mereka itu. Maka menyahutlah orang banyak itu dengan sorak katanya, "Inilah suara suatu dewa, bukannya suara manusia!" Pada saat itu juga Herodes dipalu oleh malaekat Tuhan, sebab tiada diberinya hormat kepada Allah. Maka ia pun matilah dimakan cacing.
”Karena orang Saduki mengatakan bahwa tiadalah kiamat, dan tiada juga malaekat atau roh; tetapi orang Parisi mengaku ada semuanya itu.
”Karena pada malam tadi terdirilah di sisi hamba seorang malaekat daripada Allah yang memiliki hamba ini dan yang hamba sembah itu, katanya: Jangan takut, hai Paulus. Tak dapat tiada engkau akan berdiri di hadapan Kaisar, maka sesungguhnya Allah telah mengaruniakan kepadamu sekalian orang yang berlayar bersama-sama dengan engkau.
”Tiadakah kamu mengetahui bahwa kita akan menghakimkan malaekat kelak? Apatah lagi hal ihwal tentang kehidupan ini?
”Sebab itulah perempuan itu wajib memakai di kepalanya suatu tanda ia takluk, oleh sebab segala malaekat.
”Jikalau aku berkata-kata dengan segala bahasa manusia dan malaekat sekalipun, tetapi aku tiada menaruh kasih, niscaya aku sudah menjadi seperti gong yang berbunyi, atau genta yang gemerincing.
”Tetapi jikalau kami ini atau seorang malaekat dari surga sekalipun akan memberitakan kepadamu Injil lain daripada yang telah kami beritakan kepadamu, biarlah ia terlaknat.
”Jangan seorang pun dapat mengecewakan kamu daripada pahalamu, dengan peri merendahkan diri dan dengan menyembah segala malaekat sambil berkuat di atas penglihatannya, dengan sia-sia membesarkan dirinya menurut angan-angannya,
”Karena Tuhan sendiri akan turun dari surga dengan suatu sorak, dengan suara penghulu malaekat, dan dengan bunyi sangkakala Allah; maka segala orang yang telah mati di dalam Kristus akan bangkit dahulu,
”Karena malaekat manakah dari antara segala malaekat itu yang pernah difirmankan-Nya: Engkaulah Anak-Ku, hari inilah Aku memperanakkan Dikau? dan lagi: Aku ini akan menjadi Bapa kepada-Nya, dan Ia pun menjadi Anak kepada-Ku?
”Dan lagi, apabila Anak sulung itu dibawa-Nya ke dunia, lalu Ia berfirman: Hendaklah segala malaekat Allah menyembah Dia.
”Maka akan hal segala malaekat itu demikian kata-Nya: Ia menjadikan segala malaekat-Nya angin, dan pesuruh-Nya nyala api;
”Kepada malaekat manakah ada pernah Ia berfirman: Duduklah Engkau di sebelah kanan-Ku, sehingga Aku menaklukkan segala musuh-Mu menjadi alas kaki-Mu? Bukankah sekaliannya itu roh yang berkhidmat kepada Allah, yang diutuskan karena melayani manusia yang akan mewarisi keselamatan?
”Karena bukannya kepada malaekat ditaklukkan-Nya dunia yang akan datang itu, yang kita katakan halnya. Tetapi ada seorang yang menyatakan di dalam suatu nas, katanya: Apatah manusia sehingga Engkau ingat akan dia, atau anak manusia sehingga Engkau melawat dia? Seketika lamanya Engkau menjadikan dia sedikit rendah daripada malaekat; Engkau mengenakan makota kepadanya dengan kemuliaan dan kehormatan (dan Engkau menetapkan dia menjadi kepala atas segala perbuatan tangan-Mu);
”Karena dengan sesungguhnya bukannya malaekat yang ditolongnya, melainkan keturunan Ibrahim yang ditolongnya itu.
”dan di atasnya itu kedua Karub kemuliaan yang menaungi tutupan peti perjanjian itu; tetapi dari segala perkara itu sekarang tiada dapat dikatakan satu-satu.
”Tetapi kamu sudah datang ke gunung Sion, dan ke negeri Allah yang hidup, yaitu Yeruzalem yang di surga, dan kepada perhimpunan berlaksa-laksa malaekat, dan kepada sidang jemaat segala anak sulung yang sudah tersurat namanya di surga, dan kepada Allah, Hakim bagi orang sekalian, dan kepada segala roh orang yang benar yang sudah jadi sempurna,
”Janganlah kamu lupa akan memberi tumpangan kepada orang, karena dengan perbuatan yang demikian orang sudah memberi tumpangan kepada malaekat dengan tiada setahunya.
”Maka kepada mereka itu sudah dinyatakan bahwa bukannya bagi dirinya sendiri, melainkan bagi kamu, mereka itu sudah melayani di dalam segenap perkara, yang sekarang ini kamu diberitahu oleh orang yang memberitakan kabar kesukaan kepada kamu dengan Rohulkudus yang disuruhkan datang dari surga; maka perkara itulah malaekat ingin hendak mengetahui.
”yang sudah naik ke surga, serta duduk di sebelah kanan Allah, lalu segala malaekat dan kuasa dan perintah pun takluk kepada-Nya.
”padahal segala malaekat, walaupun lebih besar kuat kuasanya, tiada mengumpat mereka itu kepada Tuhan.
”Hai segala kekasihku, janganlah percaya akan sebarang roh, melainkan ujilah segala roh itu, kalau-kalau daripada Allah datangnya; karena banyak nabi palsu sudah keluar ke seluruh dunia. Dengan yang demikian dapatlah kamu mengenal Roh Allah, yaitu tiap-tiap roh, yang mengaku bahwa Yesus Kristus sudah datang dengan keadaan manusia, itu daripada Allah;
”Tetapi Mikhail, penghulu malaekat, tatkala ia berlawan dengan Iblis, berbalah-balahan dari hal mayat Musa, tiada berani ia mencerca ke atasnya, melainkan katanya, "Dihardik Tuhan kiranya akan dikau."
”Adapun akan rahasia tentang ketujuh bintang yang sudah engkau tampak di dalam tangan kanan-Ku, dan ketujuh kaki dian daripada emas itu, ketahuilah: ketujuh bintang itu, yaitu malaekat ketujuh sidang jemaat itu; dan ketujuh kaki dian itu, yaitu ketujuh sidang jemaat itu adanya."
”Maka orang yang menang akan dipakaikan dengan pakaian putih dan sekali-kali tiada Aku akan menghapuskan namanya dari dalam kitab hayat, dan Aku akan mengakui namanya di hadapan Bapa-Ku dan di hadapan segala malaekat-Nya.
”Dan keliling arasy itu ada dua puluh empat takhta dan di atas segala takhta itu ada duduk dua puluh empat ketua-ketua, yang berpakaian putih dan di atas kepalanya bermakota emas. Maka keluarlah dari dalam arasy itu kilat dan beberapa suara dan guruh; dan ada tujuh buah pelita berpasang di hadapan arasy itu; yaitu ketujuh Roh Allah.
”Dan di hadapan arasy itu seolah-olah laut kaca, seperti hablur rupanya dan di tengah arasy serta berkeliling arasy itu ada empat zat yang hidup, penuh dengan mata di hadapan dan di belakang. Adapun zat yang hidup yang pertama itu seperti rupa singa, dan zat yang hidup yang kedua seperti anak lembu, dan zat yang hidup yang ketiga seperti muka manusia, dan zat yang hidup yang keempat seperti burung nasar yang terbang. Maka keempat zat yang hidup itu masing-masing ada bersayap enam, penuh dengan mata sekeliling di luar dan di dalam; maka keempatnya dengan tiada berhenti siang malam menyebut, "Kudus, kudus, kudus Allah, Tuhan Yang Mahakuasa, Yang sudah sedia ada, dan Yang ada, dan Yang akan datang kelak." Dan tiap-tiap kali apabila zat yang hidup itu memuliakan dan menghormatkan serta mengucapkan syukur kepada Dia yang duduk di atas arasy itu dan yang hidup selama-lamanya, maka sujudlah kedua puluh empat ketua-ketua itu di hadirat Dia yang duduk di atas arasy itu, lalu menyembah Dia yang hidup selama-lamanya, sambil mereka itu menanggalkan makotanya di hadapan arasy itu, katanya, "Ya Allah, Tuhan kami, berlayaklah Engkau memegang kemuliaan dan kehormatan dan kuasa; karena Engkaulah yang menjadikan segala sesuatu, dan dengan kehendak-Mu juga sekaliannya itu ada dan sudah dijadikan."
”Dan aku tampak pula seorang malaekat yang gagah memberitakan dengan suara besar, katanya, "Siapakah berlayak membuka kitab itu dan mengoyakkan meterainya?"
”Maka aku tampak di tengah-tengah arasy, di antara keempat zat yang hidup, dan di tengah segala ketua-ketua itu terdirilah seekor anak domba seperti sudah tersembelih rupanya, yang bertanduk tujuh, dan bermata tujuh, yaitu ketujuh Roh Allah, yang sudah disuruhkan ke seluruh bumi ini. Maka datanglah Anak domba itu mengambil kitab itu daripada tangan kanan Dia yang duduk di atas arasy itu. Setelah diambil-Nya kitab itu, maka sujudlah keempat zat yang hidup dan kedua puluh empat ketua itu di hadapan Anak domba itu, masing-masing sedang memegang kecapi dan bokor emas penuh dengan kemenyan, yaitu segala doa orang-orang suci.
”Maka aku tampak, dan aku dengar suara malaekat yang banyak sekeliling arasy dan segala zat yang hidup dan segala ketua itu; maka banyaknya itu beribu-ribu laksa, yang mengatakan dengan suara besar, "Berlayak Anak domba yang tersembelih itu menerima kuasa, dan kekayaan, dan hikmat, dan kekuatan, dan hormat, dan kemuliaan, dan puji." Maka aku dengar pula tiap-tiap makhluk yang di surga, dan yang di atas bumi, dan yang di bawah bumi, dan yang di laut, dan segala yang di dalamnya itu mengatakan, "Bagi Dia yang duduk di atas arasy, dan bagi Anak domba itu adalah puji dan kehormatan dan kemuliaan dan kuasa selama-lamanya." Maka keempat zat yang hidup itu mengatakan, "Amin." Dan segala ketua itu sujudlah menyembah.
”Kemudian daripada itu aku tampak empat malaekat terdiri pada keempat penjuru alam, memegang keempat mata angin, supaya jangan angin bertiup di bumi atau di laut atau di atas sesuatu pohon kayu. Maka aku tampak pula ada seorang malaekat lain naik daripada matahari hidup, memegang meterai Allah yang hidup itu; maka malaekat itu pun berteriaklah dengan suara besar kepada keempat malaekat itu, yang sudah dikaruniakan kuasa merusakkan bumi dan laut itu, katanya, "Janganlah merusakkan bumi atau laut atau pohon-pohon kayu, sehingga kami memeteraikan segala hamba Allah pada dahinya."
”Segala malaekat itu pun berdirilah sekeliling arasy dan sekeliling segala ketua dan keempat zat yang hidup itu, lalu sujud di hadapan arasy serta menyembah Allah, katanya, "Amin; bahwa segala puji, dan kemuliaan, dan hikmat, dan ucapan syukur, dan hormat, dan kuasa, dan kekuatan bagi Tuhan kami, sampai selama-lamanya. Amin."
”Maka aku tampak ketujuh malaekat yang berdiri di hadirat Allah itu, maka dikaruniakanlah kepada mereka itu tujuh sangkakala. Maka datanglah seorang malaekat yang lain serta berdiri di sisi tempat persembahan itu, sambil memegang perukupan emas, maka dikaruniakanlah kepadanya beberapa banyak kemenyan, supaya ia dapat mempersembahkan dia itu bersama-sama dengan doa segala orang suci di atas tempat persembahan emas yang di hadapan arasy itu. Maka asap kemenyan bersama-sama dengan doa segala orang suci itu naiklah ke hadirat Allah dari tangan malaekat itu. Maka malaekat itu pun mengambil perukupan itu, serta mengisi itu dengan api dari tempat persembahan itu, sambil mencampakkan ke bumi; lalu jadilah beberapa bunyi guruh dan beberapa suara dan kilat, dan gempa bumi. Maka ketujuh malaekat yang memegang ketujuh sangkakala itu bersedialah hendak meniup.
”Maka malaekat yang pertama itu meniup sangkakalanya, lalu turunlah hujan batu dan api bercampur dengan darah, maka sekaliannya itu dicurahkan ke bumi. Lalu hanguslah sepertiga bumi itu, dan hanguslah sepertiga segala pohon kayu, dan hanguslah segala rumput yang hijau itu. Maka malaekat yang kedua itu pun meniup sangkakalanya, maka jadilah seolah-olah sebuah gunung besar menyala dengan api, dicampakkan ke laut; maka laut itu sepertiganya menjadi darah; dan matilah sepertiga daripada segala makhluk yang bernyawa di laut itu; dan binasalah sepertiga daripada segala kapal. Maka malaekat yang ketiga itu pun meniup sangkakalanya, lalu gugurlah dari langit sebuah bintang besar, yang menyala seperti suluh, maka bintang itu menimpa sepertiga daripada segala sungai dan segala mata air. Adapun nama bintang itu Afsantin, maka sepertiga daripada segala air pun menjadi Afsantin; lalu banyaklah orang yang mati karena air itu, oleh sebab air itu sudah menjadi pahit. Maka malaekat yang keempat itu pun meniup sangkakalanya, lalu disiksakan sepertiga matahari, dan sepertiga bulan, dan sepertiga segala bintang, supaya gelaplah sepertiganya itu, dan supaya tiada terang sepertiga daripada siang hari, dan malam pun demikianlah juga. Maka aku tampak serta aku dengar seekor burung nasar terbang di tengah langit mengatakan dengan suara besar, "Wai, wai, wai atas segala orang yang duduk di atas bumi dari sebab bunyi sangkakala yang lain lagi, yaitu daripada ketiga malaekat yang akan meniupnya kelak."
”Maka malaekat yang kelima itu pun meniup sangkakalanya, lalu aku tampak sebuah bintang yang sudah gugur dari langit ke bumi; maka dikaruniakanlah kepadanya anak kunci pintu lubang yang tiada terduga dalamnya.
”Maka malaekat yang keenam itu pun meniup sangkakalanya, lalu aku dengar suatu suara keluar dari keempat tanduk tempat persembahan emas yang di hadirat Allah itu, mengatakan kepada malaekat yang keenam yang memegang sangkakala itu, "Lepaskanlah keempat malaekat yang terikat dekat sungai yang besar, yaitu Sungai Ferat." Maka dilepaskanlah keempat malaekat yang memang sudah bersedia karena jam dan hari dan bulan dan tahun itu, supaya mereka itu membunuh sepertiga daripada segala manusia. Adapun banyaknya segala tentara yang berkuda itu dua laksa-laksa, sudah kudengar jumlahnya itu.
”Maka aku tampak seorang malaekat lain yang gagah, turun dari langit, berjubahkan awan, dan pelangi di atas kepalanya, dan mukanya seperti matahari, dan kakinya seperti tiang daripada api, dan di tangannya ada sebuah kitab kecil yang terbuka; maka kaki kanannya berpijak di laut, dan kaki kiri di darat; maka berteriaklah ia dengan suara besar seperti bunyi singa menikas, dan tatkala ia berteriak, ketujuh guruh pun membunyikan bunyi masing-masing. Tatkala ketujuh guruh sudah berbunyi itu, sedang aku hendak menyuratkan, lalu aku dengar suatu suara dari langit, katanya, "Meteraikanlah barang apa yang ketujuh guruh itu sudah mengatakan dan jangan dituliskan." Adapun malaekat yang sudah kutampak berpijak di laut dan di darat mengangkatkan tangan kanannya arah ke langit, serta bersumpah demi Allah yang hidup selama-lamanya, dan yang menjadikan langit dengan segala isinya, dan bumi dengan segala isinya, dan laut dengan segala isinya, bahwa tiada akan ada tempohnya lagi; tetapi pada masa suara malaekat yang ketujuh itu, apabila ia hendak meniup sangkakalanya, baharulah rahasia Allah genap, menurut seperti kabar kesukaan yang diberitakan kepada segala hamba-Nya, yaitu nabi-nabi.
”Adapun suara yang sudah kudengar dari langit itu, bertutur lagi kepadaku, serta katanya, "Pergilah, ambil kitab yang terbuka di tangan malaekat yang berpijak di laut dan di darat." Lalu pergilah aku kepada malaekat itu sambil berkata kepadanya, "Berilah kiranya aku kitab kecil itu." Maka katanya kepadaku, "Ambillah dan makanlah semuanya, dan ia akan memahitkan perutmu, tetapi di dalam mulutmu berasa manis seperti air madu." Maka kuambillah kitab yang kecil daripada tangan malaekat itu, lalu kumakan semuanya; maka di mulutku manisnya seperti air madu, dan sesudah kumakan, perutku berasa pahit. Lalu dikatakan kepadaku, "Hendaklah engkau bernubuat pula dari hal beberapa kaum dan beberapa bangsa dan berbagai-bagai bahasa serta beberapa raja."
”Maka malaekat yang ketujuh itu pun meniup sangkakalanya, lalu kedengaranlah beberapa suara besar di surga mengatakan, "Kerajaan dunia ini menjadi kerajaan Tuhan kita, dan kerajaan Kristusnya, maka Ia akan memerintah kelak selama-lamanya." Lalu kedua puluh empat ketua yang duduk di kursinya di hadirat Allah itu sujud menyembah Allah, serta berkata, "Kami ucapkan syukur kepada-Mu, ya Allah, Tuhan Yang Mahakuasa, Yang ada, dan Yang sudah sedia ada, karena Engkau telah melakukan kodrat-Mu yang besar itu, dan Engkau telah memerintah!
”Maka jadilah suatu peperangan di surga, yaitu Mikhail serta segala malaekatnya berperang dengan naga itu; dan naga serta segala tentaranya pun berperanglah; maka naga dan tentaranya itu tiada menang, dan tempatnya pun sudah hilang di surga.
”maka mereka itu menyanyi suatu nyanyian baharu di hadapan arasy itu, dan di hadapan keempat zat yang hidup dan segala ketua itu; dan seorang pun tiada dapat belajar nyanyian itu, hanya keseratus empat puluh empat ribu orang, yang ditebus dari bumi.
”Maka aku tampak seorang malaekat yang lain terbang di tengah langit, dan padanya ada Injil yang kekal hendak diberitakannya kepada segala orang yang duduk di bumi ini, yaitu kepada tiap-tiap bangsa dan suku dan bahasa dan kaum, sambil katanya dengan suara besar, "Takutlah akan Allah dan hormatilah Dia, karena ketika hukuman-Nya sudah sampai, dan sembahlah Dia yang menjadikan langit dan bumi serta laut dan segala mata air." Maka ada yang lain lagi, yaitu malaekat yang kedua mengikut dia, serta berkata, "Sudahlah roboh, sudahlah roboh negeri Babil yang besar, yang memberi segala bangsa minum air anggur yang menaikkan hawa nafsu zinahnya." Maka ada yang lain pula, yaitu malaekat yang ketiga mengikut keduanya itu, serta berkata dengan suara besar, "Jikalau barang seorang menyembah binatang itu dengan patungnya, serta menerima tanda di dahinya atau di tangannya, maka ia juga akan minum kelak daripada air anggur, yaitu murka Allah yang tersedia dengan tiada bercampur di dalam cawan murka-Nya itu; dan ia akan disiksakan dengan api dan belerang, di hadirat segala malaekat yang kudus, dan di hadirat Anak domba itu,
”Maka keluarlah pula seorang malaekat yang lain dari dalam Rumah Allah, yang menyeru dengan suara besar kepada orang yang duduk di atas awan itu, katanya, "Sampaikanlah sabitmu dan hendaklah menuai, karena musim menuai sudah sampai, sebab tuaian bumi itu sudah sangat masak." Lalu orang yang duduk di atas awan itu pun menyembatkan sabitnya ke bumi, lalu bumi itu pun dituailah.
”Maka keluarlah seorang malaekat yang lain lagi dari dalam Rumah Allah yang di surga; ia juga ada memegang sebilah sabit yang tajam. Maka keluarlah pula dari tempat persembahan seorang malaekat yang lain, yaitu yang berkuasa atas api, sambil bersuara dengan suara besar kepada dia yang memegang sabit yang tajam itu, katanya, "Sabitkanlah sabitmu yang tajam itu, kumpulkanlah segala gugusan anggur bumi, karena buahnya sudah cukup masak." Lalu malaekat itu menyembatkan sabitnya itu ke bumi, serta mengumpulkan buah anggur bumi itu, sambil mencampakkan dia ke dalam irikan yang besar, yaitu murka Allah; dan buah anggur itu diirik orang di luar negeri; maka darah pun mengalirlah dari dalam irikan itu setinggi kang di mulut kuda, sejauh seribu enam ratus setadi.
”Maka aku tampak pula di langit suatu alamat yang lain, yang besar lagi ajaib, yaitu tujuh malaekat yang memegang tujuh bala yang akhir; karena dengan dialah penyudah murka Allah.
”lalu keluarlah dari dalam Rumah Allah itu ketujuh malaekat yang memegang ketujuh bala itu, berkainkan kain kasa bersih yang bercahaya, dan bergetangdadakan cindai daripada emas. Maka satu daripada keempat zat yang hidup itu mengunjukkan kepada ketujuh malaekat itu tujuh buah bokor emas, penuh dengan murka Allah yang hidup selama-lamanya. Maka Rumah Allah itu dipenuhilah dengan asap daripada kemuliaan Allah, dan daripada kodrat-Nya; dan seorang pun tiada dapat masuk ke Rumah Allah itu hingga genap ketujuh bala yang daripada ketujuh malaekat itu.
”Maka aku dengar pula suatu suara besar dari dalam Rumah Allah itu berkata kepada ketujuh malaekat itu, "Pergilah kamu dan curahkan ketujuh bokor murka Allah itu ke bumi." Maka malaekat yang pertama itu pun pergilah, lalu mencurahkan bokornya ke bumi; maka ia itu menjadi suatu penyakit pekung yang busuk dan bisa ke atas segala orang yang ada bertanda binatang itu dan yang menyembah patungnya itu. Maka malaekat yang kedua itu pun mencurahkan bokornya ke dalam laut; maka laut itu pun berubah menjadi darah, seperti darah orang mati, dan segala yang hidup bernyawa sudah mati, yaitu segala yang ada di laut. Maka malaekat yang ketiga itu pun mencurahkan bokornya ke dalam segala sungai dan segala mata air; maka sekaliannya itu pun berubah menjadi darah. Lalu aku dengar malaekat segala air itu mengatakan, "Adillah Engkau, Yang ada, dan Yang sudah sedia ada, dan Yang kudus, oleh sebab Engkau sudah menjatuhkan hukum yang demikian, karena orang-orang itu sudah menumpahkan darah segala orang suci dan nabi-nabi, dan Engkau telah memberi mereka itu minum darah. Hal itu berpadanlah dengan perbuatan mereka itu." Maka aku dengar dari tempat persembahan itu, mengatakan, "Bahkan, ya Allah, Tuhan Yang Mahakuasa, adil dan benarlah segala hukuman-Mu itu." Maka malaekat yang keempat itu pun mencurahkan bokornya ke atas matahari, lalu matahari itu beroleh kuasa menghanguskan segala manusia dengan api; maka segala manusia itu pun hanguslah dengan hangat yang amat sangat, lalu mereka itu menghujat nama Allah yang berkuasa atas segala bala itu; tiada pula mereka itu bertobat sehingga memberi hormat kepada-Nya. Maka malaekat yang kelima itu pun mencurahkan bokornya ke atas takhta binatang itu, maka kerajaannya itu pun gelaplah, lalu mereka itu menggigit-gigit lidahnya masing-masing sebab sakit, serta menghujat Allah yang di surga sebab sakitnya dan pekungnya itu; maka tiada juga mereka itu bertobat daripada perbuatannya itu. Maka malaekat yang keenam itu pun mencurahkan bokornya ke dalam sungai yang besar, yaitu Sungai Ferat, maka airnya itu pun keringlah, supaya sedia jalan bagi raja-raja yang dari sebelah matahari hidup itu.
”Maka malaekat yang ketujuh itu pun mencurahkan bokornya ke atas udara, lalu kedengaranlah suatu suara besar dari dalam Rumah Allah, daripada arasy itu, berkata, "Semuanya sudah genap."
”Maka datanglah seorang daripada ketujuh malaekat, yang membawa ketujuh bokor itu, bertutur dengan aku, katanya, "Marilah ke mari, aku hendak menunjukkan kepadamu hukuman atas sundal besar yang duduk pada air yang banyak; dengan dialah segala raja di bumi telah bersundal, dan segala isi dunia pun mabuk dengan air anggur persundalannya itu." Maka ia membawa rohku ke padang belantara, lalu aku nampak seorang perempuan duduk di atas seekor binatang merah kirmizi, yang katup dengan nama hujat, dan yang berkepala tujuh dan bertanduk sepuluh.
”Kemudian daripada itu aku tampak seorang malaekat yang lain turun dari langit, yang berkuasa besar, maka bumi itu diterangkan dengan kemuliaan malaekat itu.
”Maka diangkatlah oleh seorang malaekat yang kuat sebuah batu yang seperti batu kisaran rupanya, lalu dicampakkannya ke laut sambil katanya, "Dengan suatu pelempar yang sedemikian inilah kelak Babil, negeri besar itu, akan tercampak, dan sekali-kali tiada kelihatan lagi.
”Maka kedua puluh empat ketua dan keempat zat yang hidup itu pun sujud menyembah Allah yang duduk di atas arasy itu sambil berkata, "Amin! Halleluyah!"
”Maka aku tampak pula seorang malaekat berdiri di dalam matahari, lalu ia bertempik dengan suara besar sambil berkata kepada segala burung yang terbang di udara, "Marilah berhimpun kepada perjamuan Allah yang besar,
”Maka aku tampak pula seorang malaekat turun dari langit memegang anak kunci pintu lubang yang tiada terduga dalamnya, dan suatu rantai besar di dalam tangannya; maka ia pun memegangkan naga itu, yaitu ular tua, yang menjadi Iblis dan Syaitan, dan merantaikan dia seribu tahun lamanya,
”Maka datanglah seorang daripada ketujuh malaekat yang sudah memegang ketujuh bokor penuh dengan ketujuh bala yang akhir itu, lalu bertuturlah kepadaku, katanya, "Marilah aku akan menunjukkan kepadamu pengantin perempuan itu, yaitu isteri Anak domba itu." Lalu ia membawa rohku naik ke atas sebuah gunung yang besar lagi tinggi, serta menunjukkan kepadaku Yeruzalem, negeri yang kudus itu, turun dari surga daripada Allah,
”Dan diukurnya pula dewala negeri itu seratus empat puluh empat hasta menurut ukuran manusia, yang menjadi ukuran bagi malaekat itu.
”Maka akulah Yahya yang mendengar dan tampak segala perkara ini. Tatkala sudah kudengar dan tampak, aku pun sujud menyembah malaekat yang menunjukkan segala perkara itu kepadaku. Maka katanya kepadaku, "Janganlah begitu! Aku pun hamba sama dengan engkau juga, dan dengan segala saudaramu, nabi-nabi itu, dan dengan segala orang yang menurut segala isi kitab ini. Sembahlah Allah!"
”"Aku ini Yesus sudah menyuruhkan malaekat-Ku hendak menyaksikan segala perkara ini kepadamu bagi segala sidang jemaat, Akulah Akar dan Benih Daud, dan Bintang fajar yang gilang-gemilang itu."
”