22 – Mujizat
Ini adalah firman suci Tuhan Yang Maha Esa.
Kita tidak tertarik dengan kata-kata manusia.
Bagi siapa pun yang mengasihi Tuhan... inilah yang Tuhan katakan tentang: Mujizat.
Ini adalah firman suci Tuhan Yang Maha Esa.
Kita tidak tertarik dengan kata-kata manusia.
Bagi siapa pun yang mengasihi Tuhan... inilah yang Tuhan katakan tentang: Mujizat.
Maka Yesus memanggil kedua belas murid-Nya, lalu diberi-Nya kuasa kepada mereka itu atas segala setan, akan membuangkan dia, dan menyembuhkan segala penyakit, dan melenyapkan segala aib tubuh orang.
”Maka jawab Yesus serta berkata kepada mereka itu, "Percayalah akan Allah. Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, barangsiapa yang akan berkata kepada gunung ini: Terangkatlah engkau dan tercampaklah ke dalam laut! Dan tiada bimbang di dalam hatinya, melainkan yakin, bahwa perkataannya jadi kelak, niscaya jadilah baginya. Sebab itu Aku berkata kepadamu: Barang apa yang kamu pohonkan dan pinta, jikalau kamu yakin seolah-olah sudah kamu terima, niscaya kamu akan beroleh.
”Maka banyaklah tanda ajaib dan mujizat diadakan oleh rasul-rasul di antara kaum itu, dan mereka itu sekalian pun berhimpunlah dengan sehati di dalam Serambi Sulaiman. Maka yang lain itu seorang pun tiada berani bercampur dengan mereka itu, tetapi kaum itu memuliakan mereka itu. Maka makin bertambah-tambahlah bilangan orang yang percaya akan Tuhan, yaitu teramatlah banyak orang laki-laki dan perempuan, sehingga orang sakit pun dibawa orang ke luar ke jalan, diletakkannya di atas tempat tidur dan balai-balai, supaya apabila Petrus lalu, sekurang-kurangnya terkena bayangnya kepada barang seorang dari antara mereka itu. Maka banyak orang dari negeri yang sekeliling Yeruzalem itu pun berhimpun juga membawa orang sakit dan orang yang dirasuk setan; maka sekaliannya itu pun disembuhkannya pula.
”Bahwa pada mula pertama dijadikan Allah akan langit dan bumi. Maka bumi itu lagi campur baur adanya, yaitu suatu hal yang ketutupan kelam kabut; maka Roh Allah berlayang-layang di atas muka air itu. Maka firman Allah: Hendaklah ada terang. Lalu terangpun jadilah.
”Maka dirupakan Tuhan Allah akan manusia itu dari pada lebu tanah dihembuskan-Nya nafas hidup ke lubang hidungnya; demikianlah manusia itu menjadi suatu nyawa yang hidup adanya.
”Maka titah Firaun kepada Yusuf: Bahwa aku telah bermimpi, maka seorangpun tiada yang dapat menabirkannya, tetapi telah kudengar kabar akan halmu, mengatakan: Serta suatu mimpi dikatakan sahaja kepadamu, maka engkau dapat menabirkannya. Maka sahut Yusuf kepada Firaun, sembahnya: Bahwa ini bukannya dalam kuasa patik, maka Allah juga kelak memberitahu selamat Firaun.
”Maka kelihatanlah kepadanya malaekat Tuhan itu dalam nyala api di tengah-tengah belukar duri, heran, maka dilihatnya belukar duri itupun bernyala-nyala dengan api, tetapi tiada juga belukar itu dimakan olehnya. Maka kata Musa: Baiklah aku pergi ke sana hendak melihat ajaib yang besar itu, yaitu belukar ini tiada hangus. Demi dilihat Tuhan ia datang hendak melihat, maka berserulah Allah akan dia dari tengah-tengah belukar duri itu, firman-Nya: Hai Musa, Musa! Maka sembahnya: Sahaya, Tuhan! Maka firman-Nya: Janganlah engkau hampir ke mari; tanggalkanlah kasut pada kakimu, karena tempat engkau berdiri itu tanah yang suci adanya.
”Maka firman Tuhan kepada Musa: Apakah yang pada tanganmu ini? Maka sahutnya: Tongkat. Maka firman Tuhan: Campakkanlah dia ke bumi. Maka dicampakkannya ke bumi, lalu menjadi ular; maka larilah Musa dari padanya. Maka firman Tuhan kepada Musa: Ulurkanlah tanganmu, capailah akan dia pada ekornya. Maka diulurkannya tangannya, dicapainya, lalu menjadi tongkat pula pada tangannya. Maka firman Tuhan: Ia itu supaya mereka itu percaya, bahwa telah kelihatan kepadamu Tuhan, Allah nenek moyang mereka itu, yaitu Allah Ibrahim dan Allah Ishak dan Allah Yakub.
”Lalu firman Tuhan kepadanya: Sekarang masukkanlah tanganmu ke dalam dada bajumu. Maka dimasukkannyalah tangannya ke dalam dada bajunya, lalu dikeluarkannya pula, heran, maka tangannya buduk, putih seperti salju. Maka firman Tuhan: Kembalikanlah tanganmu ke dalam dada bajumu. Maka dikembalikannyalah tangannya ke dalam dada bajunya, lalu dikeluarkannya, heran, maka tangannya jadi pula seperti tubuhnya. Maka firman Tuhan: Jikalau tiada kiranya mereka itu percaya akan dikau dan tiada diindahkannya tanda yang pertama itu, mereka itu akan percaya sebab tanda yang kemudian itu. Dan jikalau kiranya tiada mereka itu percaya sebab kedua tanda ini dan tiada didengarnya akan katamu, maka hendaklah diambil olehmu dari pada air sungai, curahkanlah dia ke tanah, maka air yang telah kauambil dari sungai itu akan berubah menjadi darah di atas tanah adanya.
”Maka disampaikan Harun kepada mereka itu segala firman Tuhan yang kepada Musa itu, serta diperbuatnyalah mujizat itu di hadapan bangsa itu. Maka percayalah bangsa itu apabila didengarnya bahwa dikunjungi Tuhan akan bani Israel serta dilihat Tuhan akan sengsara mereka itu, maka mereka itupun menundukkan kepalanya, lalu meminta doa.
”Tetapi Aku akan mengeraskan hati Firaun, dan Aku akan memperbanyakkan segala ajaib dan tanda-tanda-Ku dalam negeri Mesir.
”Apabila titah Firaun kepadamu demikian: Tunjuklah olehmu suatu mujizat, maka hendaklah engkau katakan kepada Harun: Ambillah tongkatmu, campakkan ke bumi di hadapan Firaun, maka ia itu akan menjadi seekor ular naga. Maka pergilah Musa dan Harun menghadap Firaun, lalu diperbuat oleh mereka itu seperti firman Tuhan kepadanya; maka dicampakkan Harun tongkatnya di hadapan Firaun dan di hadapan segala pegawainya, lalu tongkat itu menjadi seekor ular naga. Maka dipanggil Firaun akan segala orang majusi dan segala penyulap, maka orang hobatan Mesirpun berbuat demikian dengan manteranya. Karena dicampakkan masing-masing akan tongkatnya, lalu menjadi ular naga, tetapi oleh tongkat Harun itu ditelanlah akan segala tongkat mereka itu.
”Maka oleh Musa dan Harun diperbuatlah seperti firman Tuhan ini, diangkatnya tongkat itu, lalu dipalukannyalah kepada air yang di dalam sungai di hadapan Firaun dan di hadapan segala pegawainya, maka segala air yang di dalam sungai itu berubah menjadi darah; maka matilah segala ikan di dalam sungai dan busuklah bau sungai itu, sehingga air yang di dalamnya tiada dapat diminum oleh orang Mesir, maka jadilah darah pada seluruh tanah Mesir. Tetapi segala orang hobatan Mesirpun berbuatlah demikian juga dengan manteranya, sehingga keraslah hati Firaun, tiada didengarnya akan keduanya, sebagaimana telah difirmankan Tuhan. Maka Firaunpun berpalinglah dirinya, lalu pulang ke istananya, tiada ditaruhnya hati pada perkara ini.
”Kemudian dari pada itu Firman Tuhan kepada Musa: Pergilah engkau menghadap Firaun, katakanlah kepadanya: Inilah firman Tuhan: Lepaskanlah umat-Ku pergi berbuat bakti kepada-Ku. Maka jikalau engganlah engkau melepaskan mereka itu pergi, niscaya Kupalu seluruh negerimu kelak dengan mendatangkan katak atasnya, sehingga sungaipun ramai akan menyulurkan katak, maka ia itu akan naik dan masuk ke dalam istanamu dan ke dalam bilik peraduanmu, bahkan ke atas tilammu dan lagi ke dalam rumah segala pegawaimu dan ke atas rakyatmu dan ke dalam dapurmu dan ke dalam palungmu. Maka katak itupun akan naik ke atas engkau dan ke atas rakyatmu dan ke atas segala pegawaimu. Dan lagi firman Tuhan kepada Musa: Katakanlah kepada Harun: Kedangkanlah lenganmu dengan tongkat itu ke atas segala sungai dan serokan dan telaga, suruhlah naik katak ke atas tanah Mesir. Maka Harunpun mengedangkanlah lengannya ke atas segala air Mesir, lalu naiklah katak menudungi tanah Mesir. Maka oleh orang hobatanpun dibuat demikian dengan manteranya, disuruhnya katak naik ke atas tanah Mesir.
”Arakian, maka firman Tuhan kepada Musa: Katakanlah kepada Harun: Kedangkanlah tongkatmu, palulah akan lebu tanah itu, supaya ia itu berubah menjadi tuma dalam seluruh negeri Mesir. Maka diperbuatnyalah demikian, karena dikedangkan Harun tangannya dengan tongkatnya, lalu dipalunya akan lebu tanah, maka jadilah beberapa berapa tuma pada manusia dan pada segala binatang, segala lebu tanah itu berubah menjadi tuma dalam seluruh negeri Mesir. Maka dicoba oleh orang hobatanpun berbuat demikian dengan manteranya hendak mengadakan tuma, tetapi tiada dapat mereka itu, maka adalah tumapun pada segala manusia dan pada segala binatang. Maka sembah segala orang hobatan itu kepada Firaun: Bahwa inilah alamat kuasa Allah juga! tetapi hati Firaunpun kekerasanlah, sehingga tiada didengarnya akan katanya, seperti yang telah difirmankan Tuhan.
”Arakian, maka firman Tuhan kepada Musa: Esok bangunlah engkau pagi-pagi, lalu pergi menghadap Firaun, bahwa sesungguhnya iapun akan keluar mendapatkan sungai, maka hendaklah engkau katakan kepadanya: Inilah firman Tuhan: Lepaskanlah umat-Ku itu pergi, supaya mereka itu berbuat bakti kepada-Ku. Jikalau tiada engkau melepaskan umat-Ku pergi, niscaya Aku mendatangkan kelak beberapa berapa tabuhan atas engkau dan atas segala pegawaimu dan atas segala rakyatmu dan ke dalam segala rumahmu, sehingga penuhlah segala rumah orang Mesir dengan kebanyakan tabuhan itu, demikianpun segala negeri tempat kedudukan mereka itu. Tetapi pada hari itu Aku akan mengasingkan negeri Gosyen, tempat kedudukan umat-Ku, supaya di sana jangan ada kelimpahan tabuhan, sehingga diketahui olehmu, bahwa Aku, Tuhan, ada di dalam negeri ini. Dan Aku akan mengasingkan umat-Ku dari pada bangsamu; maka pada esok hari juga alamat ini akan jadi. Maka oleh Tuhan diperbuatlah demikian, karena datanglah tabuhan terlalu amat banyak ke dalam istana Firaun dan ke dalam rumah segala pegawainya dan ke atas seluruh negeri Mesir, sehingga rusaklah tanah itu oleh kebanyakan tabuhan itu.
”Arakian, maka firman Tuhan kepada Musa: Pergilah engkau menghadap Firaun, katakanlah kepadanya: Demikianlah firman Tuhan, Allah orang Ibrani: Lepaskanlah umat-Ku pergi, supaya mereka itu berbuat bakti kepada-Ku. Karena jikalau engkau enggan akan melepaskan mereka itu pergi dan engkau tahankan mereka itu lagi dengan kekerasan, niscaya kuasa Tuhan akan berlaku atas segala binatangmu yang di padang, yaitu atas segala kuda dan keledai dan unta dan lembu dan binatang yang kecil-kecil dengan bala sampar yang amat besar. Maka Tuhan akan mengasingkan segala binatang orang Israel dari pada binatang orang Mesir, supaya dari pada segala binatang bani Israel seekorpun jangan mati. Maka ditentukan Tuhan akan ketikanya, firman-Nya: Esok harilah Tuhan akan mengadakan perkara itu dalam negeri ini. Maka pada keesokan harinya diadakan Tuhanlah perkara itu; segala binatang orang Mesirpun matilah, tetapi dari pada binatang bani Israel seekor juapun tiada mati. Maka dititahkan Firaun orang pergi ke sana, bahwa sesungguhnya seekor juapun tiada mati dari pada segala binatang orang Israel; tetapi hati Firaunpun ditegarkan, sehingga tiada dilepaskannya bangsa itu pergi.
”Maka sebab itu firman Tuhan kepada Musa dan Harun: Ambillah olehmu akan abu dari dapur genggammu penuh-penuh dan hendaklah Musa menghamburkan dia arah ke langit di hadapan Firaun. Maka abu itupun akan menjadi duli yang halus atas seluruh negeri Mesir, maka pada manusia dan pada binatang ia itu akan menjadi puru yang berpecah-pecah dan menjadi bisul dalam seluruh negeri Mesir. Maka diambil oleh keduanya akan abu dari dalam dapur, lalu menghadap Firaun, maka dihamburkan Musa abu itu arah ke langit, lalu menjadi puru yang berpecah-pecah dan menjadi bisul pada manusia dan pada binatang, sehingga segala orang hobatan itupun tiada dapat berdiri di hadapan Musa dari sebab segala puru itu: karena adalah puru pada segala orang hobatan dan pada segala orang Mesirpun. Tetapi ditegarkan Tuhan akan hati Firaun, sehingga tiada didengarnya akan kata keduanya, yaitu setuju dengan firman Tuhan yang kepada Musa itu.
”Maka firman Tuhan kepada Musa: Angkatlah tanganmu arah ke langit, maka akan jadi hujan rambun dalam seluruh negeri Mesir atas segala manusia dan atas segala binatang dan atas segala tumbuh-tumbuhan dalam seluruh negeri Mesir. Maka diangkatlah Musa tongkatnya arah ke langit, lalu Tuhanpun mengadakan guruh dan hujan rambun dan halilintarpun memanah ke bumi, maka negeri Mesir itu dihujani oleh Tuhan dengan rambun. Maka adalah hujan rambun bercampur dengan halilintar sabung-menyabung amat hebat, maka belum pernah ada sebagainya dalam segala negeri Mesir semenjak orang Mesir itu telah menjadi suatu bangsa adanya. Maka ditimpa oleh hujan rambun akan segala sesuatu yang di luar, baik manusia baik binatang, dan lagi ditimpa oleh hujan rambun akan segala tumbuh-tumbuhan dan dipatahkannya segala pokok yang di ladang. Melainkan di benua Gosyen, tempat kedudukan bani Israel itu, tiada hujan rambun. Maka pada masa itu disuruhkan Firaun panggil akan Musa dan Harun, lalu titahnya kepadanya: Bahwa pada sekali ini aku telah berdosa; sesungguhnya Tuhan adil adanya, tetapi aku serta dengan segala rakyatku orang durhaka juga.
”Maka firman Tuhan kepada Musa: Kedangkanlah tanganmu ke atas negeri Mesir, supaya segala belalang itu naik ke atas Mesir dan dimakannya habis akan segala tumbuh-tumbuhan yang di tanah, segala sesuatu yang tertinggal dari pada hujan rambun itu. Maka dikedangkan Musa tongkatnya ke atas negeri Mesir, lalu didatangkan Tuhan suatu angin timur ke dalam negeri itu sehari semalam lamanya, maka tiba-tiba pada pagi-pagi dibawa naik oleh angin timur akan segala belalang itu. Maka naiklah belalang itu atas seluruh negeri Mesir dan turunlah ia kepada segala jajahan Mesir terlalu amat banyak, maka dahulu belum pernah ada belalang yang demikian dan kemudian haripun tiada akan ada sebagainya. Karena oleh belalang itu tertudunglah muka segala tanah, sehingga kelam kabutlah negeri, maka segala tumbuh-tumbuhan yang di tanah dan segala buah-buahan pohon kayu, yang tertinggal dari pada hujan rambun, habis-habis dimakan oleh belalang itu, maka sesuatu yang hijaupun tiada tertinggal pada pohon kayu dan pada segala tumbuh-tumbuhan dalam seluruh negeri Mesir. Maka pada masa itu segeralah dipanggil Firaun akan Musa dan Harun, titahnya: Bahwa aku telah berdosa kepada Tuhan, Allahmu, dan kepada kamupun.
”Lalu firman Tuhan kepada Musa: Unjuklah tanganmu arah ke langit, maka akan jadi kelam kabut dalam negeri Mesir, sehingga orang meraba-raba kelak sebab kegelapan itu. Demi diunjuk Musa tangannya arah ke langit, maka datanglah kelam kabut yang amat gelap-gulita atas seluruh negeri Mesir tiga hari lamanya. Seorangpun tiada dapat melihat seorang dan lagi seorangpun tiada bergerak dari pada tempatnya dalam tiga hari itu, hanya pada segala bani Israel adalah terang dalam segala tempat kedudukannya.
”Maka jadilah pada tengah malam, bahwa dipalu Tuhan akan segala anak sulung dalam negeri Mesir, dari pada anak sulung Firaun, yang patut menggantikan dia dalam kerajaan, sampai kepada anak sulung orang yang terbelenggu dalam penjara dan anak sulung binatangpun. Maka pada malam itu juga bangunlah Firaun serta dengan segala pegawainya dan segala orang Mesir, maka adalah tangis yang ramai dalam negeri Mesir, karena sebuah rumahpun tiada yang tiada orang mati dalamnya. Maka dipanggil Firaun akan Musa dan Harun pada malam itu juga, lalu titahnya: Berangkatlah kamu, keluarlah dari segala antara rakyatku, baik kamu baik bani Israel, pergilah kamu berbuat bakti kepada Tuhan, setuju dengan katamu itu. Dan lagi segala kambing dombamu dan segala lembumupun bawalah serta setuju dengan katamu; pergilah kamu dan mintakanlah doa berkat akan dakupun. Maka diajak-ajak orang Mesir akan orang banyak itu, supaya mereka itu keluar dari negerinya dengan segera, karena katanya: Semua kami matilah kelak!
”Bermula, maka Malaekat Allah, yang ada berjalan di hadapan balatentara Israel itu, undur, lalu ke belakang mereka itu, sehingga tiang awan itupun undur dari hadapan mereka itu, lalu berdiri di belakangnya. Maka datanglah ia di antara balatentara orang Mesir dengan balatentara Israel, maka adalah awan itu sebelahnya gelap dan sebelahnya menerangi malam, sehingga tentara tiada dapat menghampiri tentara semalam-malaman itu. Hata, serta diunjuk Musa tangannya ke atas laut, maka diundurkan Tuhan air laut itu oleh angin timur yang keras, yang bertiup semalam-malaman itu, maka laut itupun kekeringanlah dan airnyapun terbelahlah. Maka masuklah bani Israel ke tengah-tengah laut dengan berjalan di atas kekeringan, dan adalah air itu bagi mereka itu akan dewala pada sebelah kiri kanannya. Maka dikejar oleh orang Mesir akan mereka itu, diturutnya masuk dengan segala kuda Firaun dan segala ratanya dan segala orangnya yang berkuda itu ke tengah-tengah laut. Maka jadi pada waktu jaga pagi-pagi itu juga dipandang Tuhan dari dalam tiang api dan awan itu akan balatentara orang Mesir, dikejutkannyalah balatentara orang Mesir itu, dan ditahankannyalah jentera segala rata mereka itu, sehingga ia itu tak boleh mara. Maka pada masa itu kata orang Mesir: Baik kita lari dari hadapan orang Israel, karena Tuhan juga yang berperang dengan orang Mesir akan ganti mereka itu. Maka firman Tuhan kepada Musa: Unjuklah tanganmu ke atas laut, supaya baliklah pula airnya ke atas segala orang Mesir dan ke atas segala ratanya dan segala orangnya yang berkuda. Maka diunjuklah Musa tangannya ke atas laut, lalu laut itupun baliklah pula kira-kira pada waktu terbit fajar, sehingga pasang besar airnya, maka larilah orang Mesir mendapatkan air itu, demikian dicampak Tuhan segala orang Mesir itu ke tengah-tengah laut. Karena apabila berbalik pasang air itu diliputinyalah segala rata dan orang yang berkuda dan segenap balatentara Firaun, yang telah turut akan orang Israel masuk ke dalam laut, dari pada sekalian itu seorangpun tiada terlepas. Tetapi segala bani Israel itu telah berjalan di atas kekeringan di tengah-tengah laut, maka airnya menjadi bagi mereka itu akan dewala pada sebelah kanan kirinya.
”Maka firman-Nya: Jikalau dengan sungguh-sungguh kamu dengarkan firman Tuhan, Allahmu, dan kamu berbuat barang yang benar kepada pemandangan-Nya dan kamu beri telinga akan segala hukum-Nya dan memeliharakan segala syariat-Nya, maka dari pada segala bala yang telah Kuletakkan pada negeri Mesir itu, satu balapun tiada hendak Kuletakkan pada kamu, karena Akulah Tuhan, tabibmu!
”Maka berfirmanlah Tuhan: Dengarlah olehmu akan firman-Ku ini: Jikalau dari pada kamu ada barang seorang yang nabi Tuhan adanya, Aku menyatakan diri-Ku kepadanya dengan khayal atau Aku berfirman kepadanya dalam mimpi.
”Karena adapun segala orang yang telah melihat kemuliaan-Ku dan segala tanda yang telah Kuadakan di Mesir dan di padang belantara, maka yang sekarang sudah mencobai Aku sampai sepuluh kali dan yang tiada mau mendengar akan suara-Ku,
”Maka kamupun datanglah hampir, lalu berdiri pada kaki gunung, maka gunung itupun bernyala-nyala apinya sampai ke tengah langit, maka adalah kelam kabut dan awan dan gelap gulita. Maka pada masa itu berfirmanlah Tuhan kepadamu dari tengah-tengah api itu, maka bunyi suara perkataan itu telah kamu dengar, tetapi kecuali suara itu tiada kamu melihat barang sesuatu lembaga. Maka pada masa itupun diberinya tahu kepadamu perjanjian-Nya, yang disuruh-Nya kamu menurut, yaitu sepuluh firman, yang telah disuratkan-Nya pada dua loh batu.
”yaitu suatu bangsa telah mendengar suara Allah yang berfirman dari tengah-tengah api, seperti telah kamu dengar, maka tinggal hidup juga bangsa itu? Atau jikalau pernah dicoba Allah datang mengangkat akan dirinya suatu bangsa dari tengah-tengah segala bangsa lain, dengan percobaan dan tanda alamat dan barang ajaib serta dengan perang dan dengan tangan yang kuat dan dengan lengan yang terkedang dan dengan hebat yang besar, seperti segala perkara yang telah diperbuat Tuhan, Allahmu, karena kamu di Mesir, di hadapan matamu?
”Maka oleh Tuhan sudah diadakan tanda-tanda dan ajaib yang besar dan yang mendatangkan celaka akan Mesir dan akan Firaun dan akan segala isi istananya di hadapan mata kami.
”Maka Tuhanpun akan menjauhkan segala penyakit dari pada kamu, dan dari pada segala bala Mesir, yang kamu ketahui itu, satupun tiada didatangkan-Nya atas kamu, melainkan didatangkan-Nya kelak atas segala orang yang benci akan kamu.
”yaitu akan segala percobaan besar, yang telah dilihat oleh matamu, dan akan segala tanda alamat dan ajaib dan akan tangan yang kuat dan lengan yang terkedang, olehnya juga Tuhan, Allahmu, sudah menghantar akan kamu keluar, maka demikianpun kelak diperbuat Tuhan, Allahmu, akan segala bangsa yang kamu takut di hadapannya.
”Maka sebab itu telah direndahkan-Nya hatimu, disuruh-Nya dahulu kamu berlapar, lalu diberi-Nya akan kamu makan manna, yang tiada kamu kenal dan yang tiada dikenal oleh nenek moyangmupun, hendak diberi-Nya tahu kamu, bahwa adapun hidup manusia itu bukan bergantung kepada makanan sahaja, melainkan hidup manusia itu bergantung kepada segala firman yang terbit dari pada Tuhan. Bahwa dalam empat puluh tahun ini pakaianmu tiada menjadi buruk pada tubuhmu dan kakimupun tiada bengkak.
”Maka di antara orang Israel tiada berbangkit pula seorang nabi yang seperti Musa, yang dikenal oleh Tuhan muka dengan muka; dengan segala tanda alamat dan mujizat yang disuruh Tuhan akan dia berbuat di negeri Mesir akan Firaun dan akan segala pegawainya dan akan segala negerinya, serta dengan tangan yang kuat dan dengan segala perkara yang hebat dan besar-besar yang diperbuat oleh Musa di hadapan pemandangan segenap bangsa Israel.
”Hata, maka apabila dirombak orang banyak itu akan kemah-kemahnya hendak menyeberang Yarden, diusunglah oleh imam-imam akan tabut perjanjian pada hulu orang banyak itu. Serta sampailah orang yang mengusung tabut itu kepada Yarden dan kaki imam yang mengusung tabut itu baharu masuk ke dalam air yang di tepi (adapun Yarden itu sebaklah pada segala tepinya pada segala hari musim menuai), maka berhentilah air yang mengalir dari atas, lalu bertimbun-timbun jauh sampai ke negeri Adam, yang di sebelah Zartan duduknya, maka air yang mengalir ke tasik yang di padang, yaitu ke Tasik-Masin, diceraikan sampai surutlah sama sekali. Maka menyeberanglah orang banyak itu bertentangan dengan negeri Yerikho. Maka segala imam yang mengusung tabut perjanjian Tuhan itupun berdiri tetap pada tempat kekeringan di tengah-tengah Yarden, sementara segenap bani Israel menyeberang pada kekeringan itu, sampai habislah sudah segenap orang banyak itu menyeberang Yarden.
”Hata, maka pada hari yang ketujuh bangunlah mereka itu pagi-pagi pada waktu dini hari, lalu berjalan keliling negeri itu tujuh kali dengan sama perinya, melainkan pada hari ini sahaja berjalan mereka itu keliling negeri itu tujuh kali. Maka pada ketujuh kalinya serta ditiup segala imam nafirinya, kata Yusak kepada orang banyak itu: Soraklah kamu! karena negeri itu diserahkan Tuhan ke tanganmu. Maka negeri ini hendaklah ditumpas karena Tuhan, baik negerinya baik segala isinya, melainkan Rahab, sundal itu, hendaklah dihidupi dengan segala orang yang sertanya dalam rumah, sebab disembunyikannya pesuruhan, yang telah kita suruhkan itu. Hubaya-hubaya hendaklah kamu memeliharakan dirimu dari pada barang tumpas itu, supaya jangan kamu mendatangkan kutuk tumpas atas dirimu, dengan mengambil barang sesuatu yang patut ditumpas, sehingga kamu menyebabkan tentara Israel bagai ditumpas dan membawa dia kepada kebinasaan. Maka segala emas perak dan segala benda dari pada tembaga dan besi itu akan suci bagi Tuhan, hendaklah ia itu masuk ke dalam perbendaharaan Tuhan. Hata, maka orang banyak itupun bertempik soraklah apabila nafiri itu ditiup orang, karena baharu kedengaranlah bunyi nafiri kepada orang banyak itu, maka bersoraklah sekaliannya dengan nyaring suaranya, lalu pagar tembok itupun robohlah dan orang banyak itupun naiklah ke dalam negeri, masing-masing pada tempat yang di hadapannya, dan dialahkannya negeri itu.
”Maka pada masa itu kata Yusak kepada Tuhan, yaitu pada hari diserahkan Tuhan segala orang Amori itu kepada bani Israel, dikatakannya kepada pendengaran segala orang Israel: Hai matahari, berhentilah engkau di Gibeon, dan engkau, hai bulan, di lembah Ayalon! Maka mataharipun berhentilah dan bulanpun tetaplah sampai sudah orang banyak itu membalas musuhnya. Bukankah hal ini tersebut dalam kitab al Mustakim? Maka mataharipun berhentilah di tengah-tengah langit dan tiada bersegera ia masuk sehari suntuk.
”Hata, maka turunlah Simson serta dengan ibu bapanya ke Timnat; setelah sampai mereka itu ke kebun anggur Timnat, tiba-tiba bertemulah dengan dia seekor singa yang mencahari mangsanya sambil mengaum-aum. Maka pada masa itu datanglah Roh Tuhan atas Simson, sehingga dicariknya singa itu seperti orang mencarik anak kambing, maka barang suatupun tiada pada tangannya; tetapi tiada diberinya tahu kepada ibu bapanya barang yang telah diperbuatnya itu.
”Setelah itu maka didekap Simson akan kedua batang tiang yang di tengah, tempat rumah itu berdiri dan bertumpu di atasnya, sebatang dengan tangannya kanan, sebatang dengan tangannya kiri. Maka kata Simson: Baiklah aku mati bersama-sama dengan segala orang Filistin! lalu tunduklah ia dengan gagahnya, maka robohlah rumah itu menimpa segala penghulu dan orang banyak yang di dalamnya. Adapun orang yang dibunuhnya pada masa matinya itu terlebih banyak dari pada segala orang yang dibunuhnya pada masa hidupnya.
”Lalu diambil oleh orang Filistin akan tabut Allah, dibawanya ke dalam rumah Dagon, ditaruhnya pada sisi Dagon itu. Tetapi pada keesokan harinya pagi-pagi orang Asdod bangun, dilihatnya bahwasanya Dagon sudah jatuh terjerumus dengan mukanya ke bumi di hadapan tabut Tuhan! Maka diangkatnya akan Dagon, didirikannya pula pada tempatnya. Maka pada keesokan harinya pagi-pagi mereka itu bangun, heran, maka Dagon terjerumus pula dengan mukanya ke bumi di hadapan tabut Tuhan, tetapi kepala Dagon dan kedua tapak tangannya sudah putus dan berpelantingan pada ambang pintu, hanya badan Dagon tinggal juga sebatang kara.
”Maka tangan Tuhanpun beratlah pada orang isi Asdod, sehingga dibinasakan-Nya dan dipalu-Nya mereka itu dengan puru, yaitu akan orang isi Asdod dalam segala jajahannya. Serta dilihat orang isi Asdod demikianlah halnya, maka katanya: Jangan kiranya tabut Allah orang Israel tinggal lagi serta dengan kita, karena beratlah tangan-Nya menekan akan kita dan akan Dagon, berhala kita. Maka sebab itu disuruhkannya berhimpun kepadanya segala raja orang Filistin, lalu katanya: Patut kita pengapakan tabut Allah orang Israel? Maka sahut segala raja itu: Baiklah tabut Allah orang Israel itu dipindahkan ke negeri Gat. Lalu dipindahkannyalah tabut Allah orang Isreal itu ke Gat. Bahwa sesungguhnya, setelah sudah dipindahkannya ke sana, maka tangan Tuhanpun menyiksakan isi negeri itu juga dengan bala yang sangat besar, dipalu-Nya akan orang isi negeri itu dari pada kecil dan besar, sehingga bertumbuhlah puru padanya. Lalu dipindahkan mereka itu tabut Allah itu ke Ekeron, tetapi serta sampailah tabut Allah di Ekeron, maka berseru-serulah orang isi Ekeron itu, katanya: Bahwa dibawanya akan tabut Allah orang Israel itu kepada kita hendak dibunuhnya akan kita dan akan bangsa kita. Maka disuruhkannya orang menghimpunkan segala raja orang Filistin, lalu katanya: Kirimkanlah olehmu akan tabut Allah orang Israel itu kembali ke tempatnya, supaya jangan dibunuhnya akan kita dan akan bangsa kita. Karena bala kematian adalah berlaku atas segenap isi negeri itu dan tangan Allahpun sangat beratlah di sana. Barangsiapa yang tiada mati, ia itu kena puru, sehingga pengerik orang isi negeri itu naiklah ke langit.
”Hata, maka dipalu Tuhan akan orang Bait-Semes sebab mereka itu sudah mengintai ke dalam tabut Tuhan, bahkan, dipalu-Nya dari pada mereka itu tujuh puluh orang dari lima puluh ribu orang. Maka pada masa itu merataplah orang banyak, sebab dipalu Tuhan di antara mereka itu dengan palu yang besar. Maka kata orang Bait-Semes: Siapa gerangan tahan berdiri di hadapan hadirat Tuhan, Allah yang mahasuci ini, dan kepada siapa dari pada kita sekalian ini Ia akan berjalan naik?
”Maka sembah Daud kepada Saul: Bahwa sekali peristiwa, sementara patik menggembalakan kambingnya bapa patik, datanglah seekor singa, dan sekali pula seekor beruang, menerkam seekor kambing dari pada kawan itu. Lalu pergilah patik mengusir dia dan patik palu akan dia dan patik sentak kambing itu dari dalam mulutnya, serta ia hendak menerkam akan patik, maka patik memegang janggutnya lalu patik palu dan bunuh ia. Baik singa baik beruang itu patik bunuh; demikianlah hal si kulup Filistin itu kelak, disamakan salah seekor binatang itu, sebab telah dihinakannya balatentara Allah yang hidup. Dan lagi sembah Daud: Adapun Tuhan yang sudah meluputkan patik dari pada cakar singa dan dari pada cakar beruang itu, Ia juga akan meluputkan patik kelak dari pada tangan orang Filistin itu. Maka titah Saul kepada Daud: Pergilah juga engkau dan hendaklah Tuhan kiranya menyertai akan dikau.
”Tetapi kata Daud kepada orang Filistin itu: Adapun engkau datang mendapatkan aku yaitu dengan pedang dan tumbak dan perisai, tetapi aku ini datang kepadamu dengan nama Tuhan serwa sekalian alam, yaitu Alah balatentara Israel, yang telah kauhujat itu. Maka pada hari ini juga Tuhan menyerahkan dikau kelak kepada tanganku, maka aku akan membunuh dikau dan mengerat kepalamu dari pada tubuhmu, dan pada hari ini juga aku memberi bangkai balatentara orang Filistin kelak kepada unggas yang di udara dan kepada segala margasatwa yang di padang, maka akan diketahui oleh segenap isi bumi, bahwa pada orang Israel ada Allah; dan segenap perhimpunan ini mengetahui kelak akan hal Tuhan menolong bukan dengan pedang dan bukan pula dengan tumbak, melainkan perang itu Tuhan punya, dan Iapun menyerahkan kamu kelak kepada tangan kami. Maka sesungguhnya demi orang Filistin itu bangkit, lalu berjalan pergi mendapatkan Daud, berlari-larilah Daud dengan segeranya ke medan peperangan mendapatkan orang Filistin itu. Maka dimasukkan Daud tangannya ke dalam bokcanya, diambilnya sebuah batu dari dalamnya, lalu diali-alinya kena dahi orang Filistin itu, sehingga batu itu terbenam ke dalam dahinya, lalu rebahlah ia terjerumus dengan mukanya ke bumi. Demikianlah peri dialahkan Daud akan orang Filistin itu dengan pengali-ali dan dengan batu, lalu diparangnya akan orang Filistin itu dan dibunuhnya akan dia, tetapi tiada pedang pada tangan Daud. Sebab itu berlarilah Daud datang, lalu berdiri di atas tubuh orang Filistin itu, diambilnya akan pedangnya, dihunusnya dari dalam sarungnya, lalu dibunuhnya akan dia dan dipancungnya kepalanya dengan pedang itu. Demi dilihat orang Filistin akan hal pendekarnya sudah mati, maka larilah mereka itu sekalian.
”Serta sampailah mereka itu ke tempat pengirik Nakhon, tiba-tiba dicapai Uza akan tabut Allah, dipegangnya, karena terserandunglah lembunya. Maka berbangkitlah murka Tuhan akan Uza, dibunuh Allah akan dia di sana, sebab alpanya, maka matilah ia di sana dekat dengan tabut Allah.
”Sebermula, maka Elia, orang Tisbi, dari pada orang yang mengeduduki tanah Gilead itu, berkata kepada Akhab: Sesungguh-sungguh Tuhan, Allah orang Israel itu, hidup, dan aku ini berdiri di hadapan hadirat-Nya, tiada akan ada hujan atau embun beberapa tahun ini melainkan dengan kataku!
”Tetapi sahut perempuan itu: Demi Tuhan, Allahmu, yang hidup itu, sebuah apampun tiada padaku melainkan tepung hanya segenggam dalam periuk dan minyak hanya sedikit dalam buli-buli! bahwasanya aku sudah memungut barang sedikit kayu api ini, dan sekarang aku pergi hendak menyediakan dia akan diriku dan akan anakku laki-laki itu, supaya kedua kami makan, lalu mati. Maka kata Elia kepadanya: Janganlah engkau takut; pergi juga dan perbuatlah seperti katamu itu, tetapi perbuatlah akan daku dahulu sebuah apam kecil dari padanya, dan bawalah akan dia keluar kepadaku di sini, setelah itu, maka bolehlah engkau menyediakan sesuatu akan dirimu dan akan anakmu. Karena demikianlah firman Tuhan, Allah orang Israel itu: Bahwa tepung yang di dalam periuk itu tiada akan habis dan minyak yang di dalam buli-buli itupun tiada akan kurang sampai kepada hari apabila Tuhan akan menurunkan hujan kepada bumi. Hata, maka pergilah perempuan itu, dibuatnya seperti kata Elia itu, maka mereka itupun makanlah, baik ia baik perempuan itu serta dengan segala orang isi rumahnya, genap setahun lamanya. Adapun tepung yang di dalam periuk itu tiada habis dan minyak yang di dalam buli-buli itupun tiada kurang, setuju dengan firman Tuhan yang telah dikatakan-Nya dengan lidah Elia itu.
”Hata, maka pada sekali peristiwa, yaitu kemudian dari pada yang tersebut itu, bahwa anak orang perempuan yang punya rumah itu jatuhlah sakit, maka penyakitnya itu payah sangat, sehingga tiada lagi tinggal nyawa-nyawa ikan dalamnya. Maka kata perempuan itu kepada Elia: Apa gerangan perkaraku dengan dikau, hai aziz Allah? Sudahkah engkau singgah kepadaku hendak mengingatkan salahku dan membunuh anakku? Maka kata Elia kepadanya: Berikanlah anakmu itu kepadaku. Maka diambil oleh Elia akan anaknya dari pada ribaannya, dibawanya akan dia naik ke dalam alayat, tempat kedudukannya, lalu dibaringkannya ia di atas tempat tidurnya. Maka iapun meminta doa kepada Tuhan, katanya: Ya Tuhan, Allahku! masakan sebab hendak berbuat jahat akan perempuan janda yang aku menumpang dalam rumahnya ini, maka telah Engkau bunuh anaknya? Maka dibentangkannya dirinya tiga kali di atas kanak-kanak itu sambil dipintanya doa kepada Tuhan, katanya: Ya Tuhan, Allahku, beri apalah nyawa kanak-kanak ini kembali ke dalamnya. Maka didengar Tuhan akan doa Elia itu, lalu kembalilah nyawa kanak-kanak itu ke dalamnya sehingga hiduplah ia pula. Maka diangkat oleh Elia akan kanak-kanak itu, dibawanya turun dari atas alayat ke dalam rumah, lalu diberikannya kepada emaknya, sambil katanya: Tengoklah, anakmu ini hidup! Maka kata perempuan itu kepada Elia: Bahwasanya sekarang kuketahui engkau seorang aziz Allah, dan firman Tuhan adalah pada lidahmu dengan sebenarnya.
”Maka dari pada batu-batu itu diperbuatnya mezbah itu dengan nama Tuhan, setelah itu maka digalinya parit keliling mezbah itu, seluas dua gantang biji-bijian. Lalu dibubuhnya kayu api di atasnya dan dipenggal-penggalnya lembu muda itu, diletakkannya segala penggal itu di atas kayu api itu. Maka katanya: Isilah oleh kamu akan empat buah buyung dengan air, curahkanlah dia kepada korban bakaran dan kepada kayu api itu. Lalu katanya: Perbuatlah begitu pada kedua kali. Maka diperbuatnya begitu pada kedua kalinya. Setelah itu maka katanya: Perbuatlah begitu pada ketiga kali. Maka diperbuatnya begitu pada ketiga kalinya. Sehingga air itupun mengalirlah dari pada segala pihak mezbah itu, tambahan lagi diisinya pula akan parit itu dengan air. Maka betul pada waktu dipersembahkan orang persembahan makanan itu datanglah nabi Elia itu hampir sambil sembahnya: Ya Tuhan, Allah Ibrahim, Ishak dan Israel! Pada hari ini juga biarlah nyata bahwa Engkaulah Allah di antara orang Israel dan akulah hamba-Mu, dan aku berbuat segala perkara ini dengan firman-Mu. Sahutlah akan daku, ya Tuhan! Sahutlah akan daku, supaya diketahui oleh orang banyak ini akan Dikau, ya Hua! bahwa Allah adamu, dan hendaklah Engkau membalikkan hati mereka. Hata, maka pada masa itu turunlah api dari pada Tuhan, lalu makan habis akan korban bakaran itu dan akan kayu apinya dan segala batu dan tanah itu dan dijilatnya habis akan segala air yang di dalam parit itu. Serta dilihat oleh orang banyak akan hal yang demikian, maka sujudlah mereka itu sekalian dengan mukanya sampai ke tanah, sambil katanya: Hua itulah Allah! Hua itulah Allah!
”Maka oleh Elia diambil akan baju selimutnya, digulungnya, lalu dipalunya air itu dengan dia, maka air itupun terbelah dua ke sana ke mari, lalu keduanyapun menyeberanglah dengan berjalan pada kekeringan.
”Maka sesungguhnya sementara keduanyapun berjalan dan berkata-kata, tiba-tiba adalah sebuah rata api dengan kuda api menceraikan seorang dengan seorang. Maka demikianlah peri Elia naik ke sorga dalam guruh. Maka Elisapun melihat hal itu, lalu berserulah ia: Ya, bapaku! ya, bapaku! rata Israel dengan orangnya yang berkendaraan! Maka tiada dilihatnya lagi, lalu diambilnya akan kainnya, dicariknya jadi dua bahagian. Dan dipungutnya pula akan baju selimut Elia, yang telah gugur dari padanya, lalu baliklah ia, maka berdirilah ia pada tepi Yarden, diambilnya baju selimut yang telah gugur dari pada Elia itu, lalu dipalunya air itu, sambil katanya: Di mana gerangan Tuhan, Allah Elia itu? bahkan, Ia juga. Maka dipalunya air itu, sehingga ia itu terbelah dua ke sana ke mari, lalu Elisapun menyeberanglah.
”Maka dari sana berjalanlah Elisa naik ke Bait-el, maka sementara ia berjalan itu adalah beberapa budak keluar dari dalam negeri, yang mencucakan dia serta katanya: Hai si gundul, naiklah; hai si gundul, naiklah! Maka berpalinglah ia, dipandangnya kepada mereka itu, lalu dikutukinya demi nama Tuhan. Maka datanglah dua ekor beruang dari dalam hutan mencarik-carik dari pada mereka itu empat puluh dua orang.
”Maka kata Elisa kepadanya: Apakah boleh kuperbuat karena engkau? Berilah tahu aku barang apa yang di dalam rumahmu. Maka sahutnya: Satupun tiada pada sahaya dalam rumah melainkan sebuah buli-buli berisi minyak. Maka kata Elisa: Pergilah engkau minta beberapa bejana dari luar, yaitu bekas yang hampa dari pada segala orang sekampungmu; jangan kauambil sedikit. Lalu masuklah ke dalam rumah, kancingkanlah pintu di belakang engkau dan di belakang anak-anakmu, setelah itu tuanglah ke dalam segala bekas itu, mana yang penuh sebelahkanlah. Hata, maka perempuan itupun meninggalkan dia, lalu dikancingkannyalah pintu di belakangnya dan di belakang anak-anaknya, yang mengunjuk bekas itu kepadanya, maka perempuan itupun menuanglah. Setelah sudah penuh segala bekas itu, maka katanya kepada anaknya: Unjuklah lagi sebuah bekas kepadaku; tetapi sahut anak itu: Tiada lagi bekas. Maka minyaknyapun berhentilah. Maka pergilah perempuan itu memberitahu hal itu kepada aziz Allah, lalu katanya: Pergilah engkau, juallah minyak itu, bayarlah hutangmu, dan lebihnya jadikanlah penghidupanmu dan penghidupan anak-anakmu.
”Setelah Elisa masuk ke dalam rumah, sesungguhnya didapatinya akan budak itu sudah mati, terhantar pada tempat tidurnya. Maka masuklah ia, dikancingkannya pintu di belakang keduanya, lalu dipintanya doa kepada Tuhan. Maka naiklah ia dan dibentangkannya dirinya di atas budak itu, dikenakannya mulutnya pada mulut budak itu dan matanyapun pada mata budak itu dan tangannyapun pada tangan budak itu dan ditiarapkannya dirinya di atas budak itu, lalu suhulah pula tubuh budak itu. Setelah itu maka pergilah ia, lalu berjalan dalam rumah sekali pergi datang, kemudian naiklah ia pula, dibentangkannya dirinya di atasnya, maka budak itupun bersinlah sampai tujuh kali, lalu dibukakannya matanya.
”Setelah disajikan makanan bagi segala orang itu, tiba-tiba apabila mereka itu makan dari pada gulai itu, berteriaklah mereka itu, katanya: Kematian juga adalah dalam periuk ini, ya aziz Allah! Maka tiada boleh mereka itu makan dia. Maka kata Elisa: Ambilkanlah aku tepung. Maka dituangnya tepung itu ke dalam periuk itu lalu katanya: Sekarang sajikanlah dia bagi orang banyak ini, supaya mereka itu makan. Maka satupun tiada jahatnya dalam periuk itu lagi. Hata, maka datanglah seorang laki-laki anu dari Baal-Salisa, yang membawa kepada aziz Allah itu beberapa roti hulu hasil, dua puluh ketul roti syeir dan tepung tumbukan halus dalam saputangannya. Maka kata Elisa: Berikanlah dia kepada orang banyak ini, supaya mereka itu makan! Maka sembah hambanya: Manakan dapat sahaya sajikan dia kepada seratus orang laki-laki? Maka kata Elisa: Berikanlah dia juga, supaya mereka itu makan, karena firman Tuhan demikian: Orang akan makan, kemudian akan ada lagi sisanya. Maka disajikannyalah kepada mereka itu dan mereka itu sekalianpun makanlah, kemudian adalah lagi sisanya, yaitu setuju dengan firman Tuhan itu.
”Maka disuruhkan Elisa seorang suruhan kepadanya, mengatakan: Pergilah engkau, mandikanlah dirimu tujuh kali dalam sungai Yarden, maka daging tubuhmu akan pulang semula dan engkaupun akan suci kelak. Tetapi Naaman itu lalu marah sangat, serta pergi sambil katanya: Bahwasanya telah aku berkata dalam hatiku demikian: Tak dapat tiada ia akan keluar kelak, lalu berdiri sambil menyebut nama Tuhan, Allahnya, sambil menunjuk kepada penyakit itu dengan tangannya dan menyembuhkan orang demikian dari pada kustanya. Bukankah Abana dan Parpar, sungai Damsyik itu, terutama dari pada segala air Israeli; manakan tiada boleh aku mandi dalamnya dan menjadi suci? Maka berpalinglah ia dirinya, lalu berjalan dengan sangat amarahnya. Tetapi pada masa itu datanglah hamba-hambanya hampir kepadanya serta sembahnya: Ya datuk! jikalau kiranya disuruh nabi itu buat suatu perkara yang besar, masakan tiada datuk melakukan dia? istimewa pula sekarang katanya kepada datuk: Mandikanlah tubuhmu maka engkau akan suci kelak! Maka sebab itu turunlah juga ia, lalu menyelam dalam Yarden sampai tujuh kali, menurut kata aziz Allah itu, maka daging tubuhnyapun pulang semula, jadi seperti daging tubuh orang muda, sehingga sucilah ia.
”Maka sesungguhnya dalam menebang pohon kayu besar itu adalah seorang anu besinya jatuh ke dalam air, lalu berserulah ia, katanya: Ya tuan! besi ini sahaya pinjam. Maka kata aziz Allah: Di mana jatuh itu? Maka ditunjuknyalah tempatnya kepadanya, lalu dikeratnya sepotong kayu, dicampakkannya ke sana, demikianlah ditimbulkannya pula besi itu. Maka katanya: Pungutlah olehmu akan dia. Maka diulurkannya tangannya lalu dipungutnya.
”Bermula, maka raja benua Syam berperang dengan orang Israel, maka berbicaralah ia dengan segala hambanya, titahnya: Kepada tempat anu aku hendak menyerang dengan balatentaraku. Tetapi aziz Allah itu menyuruhkan orang mempersembahkan kepada baginda raja orang Israel: Peliharakanlah kiranya dirimu dari pada berjalan lalu dari tempat itu, karena orang Syam sudah turun ke sana. Maka sebab itu disuruhkan baginda raja orang Israel akan orang ke tempat yang dikatakan aziz Allah kepadanya sambil memberi ingat akan dia, maka dipeliharakannya dirinya dari sana bukan sekali dua kali. Maka oleh sebab kelakuan itu sangat murka hati raja benua Syam, maka dipanggilnya akan segala hambanya, lalu titahnya kepadanya: Tiadakah kamu memberitahu aku, siapa gerangan dari pada orang kita sefakat dengan raja orang Israel? Maka sembah seorang hambanya: Bukannya demikian, ya tuanku! melainkan nabi Elisa, yang di antara orang Israel itu, ia memberitahu kepada raja orang Israel segala titah yang dikatakan tuanku jikalau dalam bilik peraduan tuanku sekalipun.
”Maka pada pagi-pagi hari bangunlah hamba aziz Allah itu, lalu keluar, heran, maka adalah negeri itu dikepung oleh suatu tentara dengan beberapa kuda dan rata. Maka kata hamba itu kepadanya: Wai tuan! apa gerangan akal kita? Maka sahutnya: Jangan engkau takut, karena adapun yang menyertai akan kita itu terlebih banyaknya dari pada yang menyertai akan mereka itu. Maka Elisapun meminta doa, sembahnya: Ya Tuhan, celikkan apalah matanya, supaya iapun dapat melihat! Maka dicelikkannya Tuhan mata hamba itu, sehingga ia dapat melihat, heran, maka adalah gunung itu penuh dengan kuda api dan rata api keliling Elisa. Maka sementara mereka itu datang mendapatkan dia, dipinta Elisa doa kepada Tuhan, sembahnya: Palulah kiranya akan mereka ini sekalian dengan kabur mata. Maka dipalunyalah akan mereka itu dengan kabur mata, seperti doa Elisa itu. Lalu kata Elisa kepada mereka itu: Ini bukan jalannya dan ini bukan negerinya: ikutlah aku sahaja, maka aku akan menghantar kamu kelak kepada orang yang kamu cahari. Hata, maka dihantarnya mereka itu ke Samaria. Setelah sampai mereka itu sekalian di Samaria, sesungguhnya sembah Elisa: Ya Tuhan! celikkanlah kiranya mata mereka ini, supaya ia dapat melihat. Maka dicelikkan Tuhan mata mereka itu, sehingga mereka itupun dapat melihat; heran, maka adalah mereka itu pada sama tengah negeri Samaria.
”Maka sekali peristiwa apabila dikuburkannya seorang anu, tiba-tiba terlihatlah mereka itu akan suatu pasukan, lalu dicampakkannya orang mati itu ke dalam kubur Elisa, maka baharu orang mati itu dimasukkan ke dalamnya dan kena mayat Elisa itu, maka hiduplah orang itu pula, lalu bangun berdiri.
”Maka sembah Yesaya: Bahwa inilah bagi tuanku tanda dari pada Tuhan, maka Tuhan sampaikan juga barang yang telah Ia berfirman itu: Maukah tuanku bayang itu lalu ke hadapan sepuluh tapak, atau undur ke belakang sepuluh tapak? Maka titah raja Hizkia: Mudah juga bayang itu lalu ke hadapan sepuluh tapak, jangan begitu, melainkan hendaklah bayang itu undur ke belakang sepuluh tapak. Maka oleh nabi Yesaya lalu dipinta doa kepada Tuhan, maka diundurkanlah Tuhan bayang itu sepuluh tapak ke belakang, yang sudah turun bayang itu pada tangga Akhaz.
”Maka pada tahun yang ketiga puluh sembilan dari pada kerajaannya jatuhlah Asa sakit kedua belah kakinya, sehingga terpayahlah sakitnya, tetapi dalam sakitnya tiada dicaharinya Tuhan, melainkan dicaharinya segala tabib.
”Tetapi setelah sudah baginda menjadi berkuasa, maka sombonglah hatinya hingga kebinasaannya, karena bersalahlah ia kepada Tuhan, Allahnya, dan masuklah ia ke dalam kaabah Tuhan hendak membakar dupa di atas meja pedupaan. Tetapi diikut imam Azarya akan dia, dan lagi dari pada segala imam Tuhan delapan puluh orang yang beranipun sertanya. Maka ditegahkannya raja Uzia, serta katanya kepadanya: Hai Uzia! tiada halal kepadamu membakar dupa bagi Tuhan, melainkan halal itu hanya kepada segala imam, yaitu bani Harun, yang telah disucikan akan membakar dupa itu. Keluarlah engkau dari dalam tempat yang suci ini, karena engkau sudah berbuat salah dan perkara ini bukan menjadi kepujianmu di hadapan Tuhan Allah. Maka murkalah Uzia, dan bokor pedupaanpun adalah dalam tangannya hendak membakar dupa, maka sementara berbangkitlah murkanya akan segala imam itu tiba-tiba tumbuhlah bala kusta pada dahinya di hadapan segala imam di dalam rumah Tuhan dari atas meja pedupaan itu. Demi dipandang Azarya, imam besar, dan segala imam yang lainpun akan dia, heran, maka adalah bala kusta pada dahinya, maka bersegera-segera ditolaknya akan dia dari sana, bahkan, ia sendiripun membiarkan dirinya dihalau ke luar, sebab didatangkan Tuhan bala itu atasnya.
”dan Engkaupun sudah mengadakan beberapa tanda dan ajaib pada Firaun dan segala hambanya dan pada segala orang isi negerinya, karena Engkau juga mengetahui akan hal mereka itu berlaku kepadanya dengan congkak dan Engkau sudah mengadakan bagi-Mu suatu nama, seperti yang ada pada hari ini.
”Jikalau kiranya aku dalam halmu, niscaya aku mencahari Allah dan kusampaikan sembah doakupun kepada Allah. Ia berbuat perkara besar, yang tiada terselidik, dan perkara ajaib yang tiada tepermanai.
”Karena sesungguhnya kamulah pereka dusta, kamu sekalian tabib yang tiada berguna.
”Bahwa aku hendak memuliakan Dikau, ya Tuhan! sebab Engkau telah menarik aku naik dari tempat yang dalam, dan tiada Engkau membiarkan seteruku bergemar akan daku.
”Tuhan akan memeliharakan dan menghidupkan dia; maka iapun akan selamat di atas bumi dan sekali-kali tiada Engkau menyerahkan dia kepada kehendak seterunya. Bahwa Tuhan akan menghiburkan dia pada masa ia berbaring sakit; sementara ia sakit Tuhanpun mengubahkan rupa segenap tempat tidurnya.
”Ya Allah! jalan-Mu adalah selalu dalam tempat suci; siapakah Allah mahabesar melainkan Allah kita?
”Yang mengampuni segala salahmu, dan yang menyembuhkan segala penyakitmu. Yang menebus jiwamu dari pada kebinasaan serta memakotai engkau dengan kemurahan dan beberapa rahmat. Yang mengenyangkan mulutmu dengan kebajikan, dan membaharui hal mudamu seperti burung nasar.
”Dan disembunyikan-Nya orang yang hancur hatinya, dan dibebat-Nya lukanya.
”Maka sebab itu diberikan Tuhan sendiri suatu tanda alamat kepadamu kelak: Bahwasanya anak dara itu akan mengandung dan beranakkan laki-laki seorang dan dinamainya akan dia Imanuel.
”Tetapi ia sudah kena luka karena sebab segala kesalahan kita, dan iapun dihancurkan karena sebab segala kejahatan kita; bahwa siksa yang mengadakan selamat bagi kita itu berlaku atas dia dan oleh segala bilurnya kitapun disembuhkan.
”Karena Aku kelak mengadakan sehat bagimu dan menyembuhkan dikau dari pada segala penyakitmu, demikianlah firman Tuhan, sebab dinamai orang akan dikau: si Kebuangan, yaitu Sion, yang seorangpun tiada peduli akan dia.
”Engkau yang sudah menjadikan beberapa tanda dan ajaib tatkala di negeri Mesir dan sampai kepada hari inipun; Engkau yang sudah mengadakan suatu nama bagi dirimu, baik di antara orang Israel baik di antara segala manusia yang lain, seperti pada hari ini adanya! Dan yang sudah menghantar akan umat-Mu Israel keluar dari negeri Mesir oleh beberapa tanda dan ajaib dan oleh tangan yang kuat dan lengan yang terkedang dan oleh perkara hebat besar;
”Sebermula, maka berlakulah tangan Tuhan atasku, dihantar-Nya akan daku keluar oleh Roh Tuhan, lalu didudukkan-Nya aku di tengah-tengah lembah; heran, maka adalah ia itu penuh dengan tulang orang mati. Maka dipimpin-Nya aku keliling pada segala pihaknya; heran, maka adalah amat banyak sekali di atas tanah lembah itu; heran, maka semuanya kering sekali. Maka firman-Nya kepadaku: Hai, anak Adam! bolehkah segala tulang ini hidup pula? Maka sembahku: Ya Tuhan Hua! Engkau juga yang mengetahuinya! Lalu firman-Nya kepadaku: Bernubuatlah engkau atas tulang-tulang ini, katakanlah kepadanya: Hai tulang-tulang yang kering, dengarlah olehmu firman Tuhan! Demikian firman Tuhan Hua kepada tulang-tulang ini: Bahwa sesungguhnya Aku akan memberi nyawa di dalammu dan kamu akan hidup pula! Dan Aku akan membubuh urat padamu dan membubuhkan daging padamu dan mengulas kamu dengan kulit dan memberi nyawa di dalammu, supaya hiduplah pula kamu dan supaya diketahui olehmu, bahwa Aku ini Tuhan! Lalu bernubuatlah aku seperti yang sudah dipesan kepadaku, maka sementara aku bernubuat itu datanglah suatu bunyi, heran, maka adalah suatu gerakan besar dan segala tulang-tulang itu menghampirlah tulang kepada tulangnya. Maka kulihat bahwasanya datanglah urat padanya dan dagingpun tumbuhlah padanya dan diulasnya semuanya dengan kulit, tetapi belum ada roh di dalamnya. Lalu firman-Nya kepadaku: Bernubuatlah engkau kepada roh itu, bernubuatlah, hai anak Adam! katakanlah kepada roh itu: Demikianlah firman Tuhan Hua: Hai roh! marilah dari pada keempat mata angin! dan hembuslah kepada orang-orang mati ini, supaya mereka itu hidup pula! Maka bernubuatlah aku seperti yang sudah dipesan kepadaku, lalu datanglah roh ke dalamnya dan sekaliannyapun hiduplah pula dan berdiri dengan kakinya, suatu tentara yang amat besar sekali.
”Maka sahut baginda, titahnya kepada Daniel, yang bergelar Beltsazar: Dapatkah engkau maklumkan kepadaku khayal mimpi yang telah kulihat, serta dengan tabirnya sekali? Maka sahut Daniel di hadapan hadirat baginda, sembahnya: Adapun rahasia yang hendak diketahui oleh tuanku, seorang alim atau sastrawan atau ahlulnujum atau petenungpun tiada yang dapat menyatakan dia kepada tuanku. Tetapi adalah Allah di dalam sorga, yang boleh menyatakan segala rahasia dan memberitahu kepada tuanku Nebukadnezar barang yang akan jadi pada kemudian hari; adapun mimpi tuanku dan segala khayal yang tuanku lihat pada peraduan tuanku inilah dia: Adapun akan hal tuanku, pada masa tuanku dalam peraduan terbitlah kepikiran dalam hati tuanku akan barang yang akan jadi kemudian, maka Ia, yang boleh menyatakan segala rahasia, sudah memberitahu tuanku barang yang akan jadi. Adapun akan patik ini, bukan sebab di dalam patik adalah barang hikmat terlebih dari pada segala orang lain, maka rahasia ini dinyatakan kepada patik, melainkan supaya tabirnya dimaklumkan kepada tuanku dan supaya diketahui oleh tuanku akan segala kepikiran hati tuanku itu.
”Maka pada masa itu penuhlah raja Nebukadnezar dengan kehangatan murka dan berubahlah air mukanya akan Saredakh dan Mesakh dan Abed-nego, serta titahnya: Hendaklah orang menghangatkan dapur itu tujuh kali lebih panas dari pada biasa dihangatkan dia. Maka dititahkannya beberapa orang yang sangat kuat dari antara orang perangnya mengikat Saderakh dan Mesakh dan Abed-nego dan mencampakkan dia ke dalam dapur api yang bernyala-nyala itu. Lalu ketiga orang itu diikat serta dengan jubahnya dan seluarnya dan destarnya dan segala pakainnya yang lain dan dicampak ke dalam dapur api yang bernyala-nyala. Maka tegal titah baginda sangat keras dan dapurpun sudah dihangatkan amat sangat, sebab itu segala orang yang sudah mengangkat Saderakh dan Mesakh dan Abed-nego itu dibunuh oleh nyala api itu. Tetapi ketiga orang itu, Saderakh dan Mesakh dan Abed-nego, dengan ikatannya jatuhlah di tengah-tengah dapur api yang bernyala-nyala. Maka tercengang-cenganglah baginda raja Nebukadnezar, lalu bangkit berdiri dengan segera sambil titahnya kepada segala menterinya: Bukankah kita suruh buang tiga orang juga ke dalam api itu dengan terikat? Maka sahut mereka itu, sembahnya: Benarlah seperti titah tuanku! Maka titah baginda: Bahwasanya aku melihat orang empat dengan terurai pengikatnya berjalan di tengah-tengah api, dan barang marabahayapun tiada padanya, dan rupa seorang, yang keempat itu, seperti anak dewata juga. Lalu baginda raja Nebukadnezarpun menghampirilah pintu dapur api yang bernyala-nyala sambil titahnya: Hai Saderakh, Mesakh dan Abed-nego, hamba Allah taala! keluarlah, marilah kamu! Lalu keluarlah Saderakh, Mesakh dan Abed-nego dari tengah-tengah api. Sudah itu, maka berhimpunlah segala pangeran dan demang, adipati, dan segala menteri raja, hendak melihat orang itu, karena api tiada berkuasa atas tubuhnya, rambut kepalanyapun tiada hangus dan pakaiannyapun tiada berubah, bahkan, bau sangit apipun tiada terkena kepadanya. Maka titah raja nebukadnezar: Segala puji bagi Allahnya Saderakh, Mesakh dan Abed-nego! yang sudah menyuruhkan malaekat-Nya dan sudah meluputkan hamba-hamba-Nya yang telah harap pada-Nya dan tiada mau menurut titah raja, melainkan telah diserahkannya tubuhnya akan tiada berbuat ibadat atau menyembah kepada dewata, melainkan kepada Allahnya juga. Maka sekarang aku memberi titah, bahwa segala bangsa atau kaum atau orang yang berbagai-bagai bahasa, jikalau ia mengatakan barang hujat akan Allahnya Saderakh, Mesakh dan Abed-nego itu, mereka itu akan ditetak berpenggal-penggal dan rumahnya akan dijadikan suatu kerobohan batu, karena tiadalah Allah lain, yang dapat membantu begitu. Kemudian dilantik baginda akan Saderakh, Mesakh dan Abed-nego dalam pemerintahan benua Babil.
”Bahwa surat ini dari pada baginda raja Nebukadnezar disampaikan kepada segala bangsa dan kaum dan orang yang berbagai-bagai bahasanya, yang duduk pada seluruh muka bumi: Selamat diperbanyakkan kiranya atas kamu! Bahwa berkenanlah kepadaku memaklumkan segala tanda dan ajaib yang telah diadakan Allah taala padaku. Bagaimana besar segala tanda-Nya dan bagaimana ajaib segala perbuatan-Nya! Bahwa kerajaan-Nya juga suatu kerajaan yang kekal dan pemerintahhan-Nyapun tetap turun-temurun.
”Maka pada waktu itu juga tiba-tiba datanglah jari tangan manusia menyurat pada kapur dinding istana baginda, berbetulan dengan kaki dian, maka terlihatlah baginda akan ujung tangan yang menyurat itu. Pada masa itu berubahlah seri muka baginda dan kepikirannya mendebarkan hatinya dan segala pengikat pinggangnyapun terurailah dan lututnyapun berantuk-antuklah.
”Lalu orang itu mendedasi baginda, sembahnya kepada baginda: Ya tuanku, maklumlah kepada tuanku, inilah suatu hukum orang Medi dan Farsi, bahwa suatu titah dan firman seperti yang telah dimeteraikan oleh tuanku, itu tiada terubahkan lagi. Maka bertitah baginda, lalu dibawa oranglah akan Daniel, dicampakkannya ke dalam keleburan singa sementera baginda bertitah kepada Daniel demikian: Bahwa Allahmu, yang engkau berbuat bakti kepadanya dengan segala tulus hatimu, Ia juga hendaklah kiranya meluputkan dikau! Kemudian dibawa oranglah akan sebuah batu, dibubuhnya pada mulut keleburan itu dan dimeteraikan baginda akan dia dengan cincinnya dan dengan cincin segala menterinya, supaya karena sebab Daniel itu satupun tiada dilainkan. Setelah itu maka pulanglah baginda ke istananya, lalu berbaring dengan tiada santap barang santapan dan dengan tiada dipetik bunyi-bunyian di hadapannya dan antuknyapun lenyaplah dari padanya. Maka pada waktu fajar, pagi-pagi sekali, bangunlah baginda, lalu dengan segera pergilah baginda ke keleburan singa itu. Serta sampailah baginda ke keleburan singa itu, berserulah baginda kepada Daniel dengan amat merdu bunyi suaranya, katanya kepada Daniel: Hai Daniel! hamba Allah yang hidup, adapun Allahmu, yang engkau berbuat bakti kepada-Nya dengan segala tulus hatimu, dapatkah Ia melepaskan dikau juga dari pada segala singa itu? Maka sembah Daniel kepada baginda: Daulat tuanku! Bahwa Allah patik juga sudah menyuruhkan malaekat-Nya, yang mengatupkan mulut segala singa itu, supaya jangan diusiknya akan patik, sebab telah didapati akan patik tiada bersalah di hadapan-Nya dan lagi akan tuankupun tiada patik berbuat barang sesuatu yang salah! Pada masa itu amat bersukacita hati baginda, disuruhnya orang menarik naik akan Daniel dari dalam keleburan itu; setelah ditarik naik akan Daniel dari dalam keleburan, maka satu marapun tiada didapati padanya, sebab sudah diharapnya pada Allahnya.
”Maka disuruh baginda bawa akan segala orang yang sudah menukasi Daniel dengan nyata-nyata, maka dicampak oranglah akan mereka itu ke dalam keleburan singa, baik mereka itu baik segala anak bininya, maka belum sampai mereka itu ke dasar keleburan itu tiba-tiba disergap oleh segala singa itu akan dia dan diremukkannya segala tulang-tulangnya. Maka pada masa itu dikirim oleh baginda raja Darius surat kepada segala bangsa dan kaum dan orang yang berbagai-bagai bahasanya, yang duduk di atas seluruh muka bumi, bunyinya: Sejahteramu bertambah-tambahlah kiranya! Bahwa aku ini memberi titah, dalam segenap hukumat kerajaanku hendaklah orang gentar dan takut akan Allahnya Daniel, karena Ialah Allah yang hidup, dan yang kekal pada selama-lamanya, dan kerajaan-Nyapun tiada berubah dan pemerintahan-Nyapun tiada berkesudahan adanya!
”Maka kemudian dari pada itu akan jadi, bahwa Aku mencurahkan Roh-Ku kepada segala manusia, maka anak-anakmu laki-laki dan perempuan akan bernubuat dan orang tua-tuamu akan bermimpi, dan orang terunamu akan melihat beberapa khayal; bahkan, kepada hamba laki-laki dan perempuan juga akan Kucurahkan Roh-Ku pada hari itu. Dan Aku akan mengadakan beberapa tanda ajaib di langit dan di atas bumi, darah dan api dan beberapa tiang asap. Maka matahari akan berubah menjadi gelap dan bumipun menjadi darah dahulu dari pada datang hari Tuhan yang besar dan hebat itu!
”Maka berjalanlah Yesus mengelilingi seluruh tanah Galilea sambil mengajar di dalam segala rumah sembahyang mereka itu, serta memberitakan Injil dari hal kerajaan Allah, dan menyembuhkan segala penyakit, dan melenyapkan segala aib tubuh orang di antara kaum itu. Maka pecahlah kabar dari hal Dia di seluruh benua Syam; lalu dibawa oranglah kepada-Nya sekalian orang yang sakit, yang ditimpa oleh berbagai-bagai penyakit dan sengsara, dan orang yang dirasuk setan, dan orang gila babi dan orang tepok; lalu disembuhkan-Nya mereka itu.
”Maka datanglah seorang yang kena bala zaraat sujud menyembah Dia sambil katanya, "Ya Tuhan, jikalau kiranya Tuhan kehendaki, niscaya Tuhan dapat mentahirkan hamba." Lalu Yesus mengulurkan tangan-Nya serta menjamah dia, kata-Nya, "Aku kehendaki, tahirlah engkau!" Maka seketika itu juga bala zaraatnya pun lenyaplah.
”Maka datanglah Yesus ke dalam rumah Petrus, dilihatnya mak mentua Petrus terbaring demam. Maka dijamah-Nya tangannya, lalu hilanglah demamnya itu; maka perempuan itu pun bangunlah, lalu melayani Dia.
”Setelah petang hari, maka dibawa oranglah kepada-Nya beberapa banyak orang yang dirasuk setan, maka dibuangkan-Nya setan itu dengan sepatah kata, dan disembuhkan-Nya segala orang yang sakit itu, supaya sampailah sabda Nabi Yesaya, demikian bunyinya: Bahwa Ialah mengambil segala kelemahan kita, dan menanggung segala kesakitan kita.
”Maka sekonyong-konyong turunlah angin ribut yang besar ke tasik itu, sehingga perahu itu ditimbus ombak; akan tetapi Yesus ada tidur juga. Maka datanglah murid-murid-Nya membangunkan Dia, katanya, "Ya Tuhan, tolonglah, binasa kami!" Maka berkatalah Ia kepada mereka itu, "Apakah sebabnya kamu takut, hai kamu yang kurang percaya?" Lalu bangunlah Ia sambil melarang angin dan ombak itu; maka jadilah teduh sekali. Maka heranlah sekalian orang, katanya, "Siapakah gerangan orang ini, sehingga angin dan laut pun menurut perintah-Nya?"
”Setelah Ia sampai ke seberang, di tanah Gadara, maka bertemulah dengan Dia dua orang yang dirasuk setan, yang datang daripada kubur-kubur dengan amat sangat garangnya, sehingga seorang pun tiada dapat lalu pada jalan itu. Maka berteriaklah kedua-duanya, katanya, "Apakah perkara kami kena-mengena dengan Engkau, hai Anak Allah? Adakah Engkau datang ke mari ini hendak menyiksakan kami dahulu daripada masanya?" Maka tiada berapa jauh daripada mereka itu adalah sekawan babi yang banyak sedang mencari makan. Maka segala setan itu pun meminta kepada Yesus katanya, "Jikalau Engkau mau membuangkan kami, suruhlah kami masuk ke dalam kawanan babi itu." Maka kata-Nya kepada setan itu, "Pergilah!" Lalu keluarlah segala setan itu serta masuk ke dalam babi sekawan itu, maka terjunlah semua babi itu dari tempat curam ke dalam tasik, lalu matilah lemas di dalam air. Maka sekalian penjaga babi itu pun berlarilah masuk ke dalam negeri, lalu dikabarkannya segala perkara itu, dan dari hal orang yang dirasuk setan itu. Maka segeralah keluar seisi negeri mendapatkan Yesus; serta dilihatnya Dia, lalu dipintanya Dia akan undur daripada daerah jajahannya.
”Maka dibawa oranglah kepada-Nya seorang yang sakit tepok, terbaring di atas tempat tidurnya; apabila dilihat oleh Yesus akan percaya mereka itu, maka kata-Nya kepada orang yang sakit tepok itu, "Tetapkanlah hatimu, hai anak-Ku, dosamu sudah diampuni." Maka adalah di situ beberapa orang ahli Taurat yang berpikir-pikir di dalam hatinya, "Bahwa orang ini menghujat." Serta diketahui oleh Yesus akan segala pikiran hati mereka itu, lalu kata-Nya, "Apakah sebabnya kamu berpikir jahat di dalam hatimu? Yang manakah lebih mudah, mengatakan: Dosamu sudah diampunikah? atau mengatakan: Bangunlah berjalan? Tetapi supaya kamu mengetahui bahwa Anak manusia di dalam dunia ini berkuasa akan mengampuni dosa" (maka kata-Nya kepada orang yang sakit tepok itu,) "Bangunlah engkau, angkat tempat tidurmu, pulanglah ke rumahmu." Maka bangunlah ia, lalu pulang ke rumahnya. Apabila orang banyak melihat hal itu, takutlah mereka itu serta memuliakan Allah, yang telah mengaruniakan kuasa sedemikian itu kepada manusia.
”Maka adalah seorang perempuan, yang berpenyakit bulan sudah dua belas tahun lamanya, datang dari belakang menjamah kaki jubah Yesus. Karena ia berkata di dalam hatinya, "Jikalau hamba menjamah jubah-Nya sahaja, niscaya hamba akan sembuh." Maka berpalinglah Yesus, serta melihat dia, kata-Nya, "Tetapkanlah hatimu, hai anak-Ku, imanmu sudah menyembuhkan dikau." Maka pulihlah perempuan itu daripada ketika itu juga.
”Setelah tiba Yesus di rumah penghulu itu, dan melihat segala peniup bangsi dan banyak orang yang riuh rendah, lalu kata-Nya, "Undurlah kamu, budak perempuan ini bukannya mati, hanya tidur." Maka mereka itu pun mentertawakan Dia. Tetapi apabila orang banyak itu sudah diusir ke luar, masuklah Ia, lalu memegang tangannya, maka bangunlah budak perempuan itu. Maka pecahlah kabarnya di seluruh tanah itu.
”Apabila Yesus berjalan dari sana, adalah pula dua orang buta mengikut Dia sambil berseru dengan nyaring, "Ya, Anak Daud, kasihankanlah kami." Setelah Ia sampai ke rumah, orang-orang buta itu pun datang menghadap Dia, lalu berkatalah Yesus kepada mereka itu, "Adakah kamu percaya, bahwa Aku berkuasa berbuat perkara ini?" Maka kata kedua-duanya, "Kami percaya, ya Tuhan!" Lalu dijamah-Nya mata mereka itu sambil berkata, "Sama seperti yang kamu percaya menjadilah bagi kamu." Maka celiklah mata kedua-duanya itu, lalu Yesus pun berpesanlah sangat-sangat, kata-Nya, "Ingat baik-baik, jangan seorang pun mengetahui perkara ini." Tetapi serta keluar kedua orang itu, dipecah-pecahkannya kabar dari hal Dia di seluruh tanah itu.
”Apabila mereka itu keluar, dibawa oranglah pula kepada Yesus seorang kelu yang dirasuk setan. Setelah dibuangkan-Nya setan itu, bertutur-tuturlah orang kelu itu. Maka heranlah orang banyak itu sambil kata-Nya, "Belum pernah kelihatan barang yang demikian itu di antara orang Israel."
”Maka berjalanlah Yesus mengelilingi segala negeri dan kampung, serta mengajar di dalam segala rumah sembahyang mereka itu, sambil mengabarkan Injil dari hal kerajaan Allah, dan menyembuhkan segala penyakit, dan melenyapkan segala aib tubuh orang.
”Maka Yesus memanggil kedua belas murid-Nya, lalu diberi-Nya kuasa kepada mereka itu atas segala setan, akan membuangkan dia, dan menyembuhkan segala penyakit, dan melenyapkan segala aib tubuh orang.
”Sembuhkanlah orang yang sakit, hidupkanlah orang yang mati, tahirkanlah orang yang kena bala zaraat dan buangkanlah segala setan. Karena dengan percuma kamu dapat, berikanlah juga dengan percuma.
”yaitu orang buta celik matanya, dan orang timpang berjalan betul, dan orang yang kena bala zaraat ditahirkan, dan orang tuli mendengar, dan orang mati dihidupkan, dan Injil dikabarkan kepada orang miskin.
”Di sana adalah seorang yang mati tangan sebelah; maka supaya dapat menyalahkan Dia bertanyalah mereka itu kepada Yesus, "Halalkah menyembuhkan orang pada hari Sabbat?" Tetapi berkatalah Ia kepada mereka itu, "Jikalau barang seorang di antara kamu menaruh seekor domba, yang jatuh ke dalam telaga buta pada hari Sabbat, tiadakah dicapainya dan ditariknya keluar akan dia? Apatah lagi manusia, yang terlebih indah daripada seekor domba? Sebab itu halal juga berbuat baik pada hari Sabbat." Lalu kata Yesus kepada orang itu, "Kedangkanlah tanganmu!" Maka dikedangkannya, lalu sembuhlah tangan itu, menjadi baik pula sama seperti tangannya yang sebelah lagi.
”Tetapi serta diketahui oleh Yesus akan hal itu, undurlah Ia dari sana; maka banyaklah orang mengikut Dia, lalu Ia menyembuhkan sekaliannya,
”Tatkala itu dibawa oranglah kepada Yesus seorang yang dirasuk setan, yang buta dan kelu; maka disembuhkan-Nya dia, sehingga orang yang kelu itu bertutur serta nampak. Maka tercengang-cenganglah orang banyak itu serta berkata, "Bukankah Ia ini Anak Daud?"
”Tetapi jikalau Aku membuangkan setan dengan kuasa Roh Allah, niscaya kerajaan Allah datang kepadamu.
”Maka di sana tiadalah dapat Ia mengadakan barang sesuatu mujizat, sebab mereka itu tiada percaya.
”Maka Yesus pun sampailah, lalu dilihat-Nya orang teramat banyak; maka jatuhlah kasihan-Nya akan mereka itu, lalu disembuhkan-Nya segala orang sakit.
”Setelah hari petang, maka datanglah murid-murid itu kepada-Nya serta berkata, "Tempat ini sunyi, dan hari pun sudah suntuk, suruhkanlah orang banyak ini pulang, supaya mereka itu pergi ke kampung-kampung membeli makanan bagi dirinya." Tetapi kata Yesus kepada mereka itu, "Tak usahlah orang-orang itu ke mana-mana, kamu berilah mereka itu makan." Maka kata murid-murid itu kepada-Nya, "Kami tiada menaruh barang sesuatu di sini, hanyalah roti lima ketul dan ikan dua ekor sahaja." Maka kata-Nya, "Bawalah dia ke mari kepada-Ku." Maka disuruh-Nya orang banyak itu duduk di rumput; maka diambil-Nya roti lima ketul dan ikan dua ekor itu, lalu Ia menengadah ke langit serta memberi berkat, kemudian Ia memecahkan roti itu serta memberikan kepada murid-murid-Nya, dan murid-murid pula memberikan kepada orang banyak itu. Lalu makanlah sekaliannya hingga kenyang. Maka diangkat oranglah segala sisanya, penuh dua belas bakul banyaknya. Adapun yang makan roti itu ada kira-kira lima ribu orang laki-laki, lain pula segala perempuan dan kanak-kanak.
”Maka pada waktu lepas pukul tiga malam, datanglah Yesus kepada mereka itu, berjalan di atas air tasik itu. Apabila dilihat oleh murid-murid-Nya akan Dia berjalan di atas air tasik itu, maka terkejutlah sekaliannya sambil katanya, "Itu hantu!" Lalu berteriaklah mereka itu sebab takutnya. Tetapi dengan segeranya Yesus bertutur kepada mereka itu, kata-Nya, "Tetapkanlah hatimu, inilah Aku, jangan takut."
”Maka sahut Petrus serta berkata kepada-Nya, "Ya Tuhan, jikalau sungguh Tuhan, suruhlah hamba datang kepada Tuhan, berjalan di atas air juga." Maka kata-Nya, "Marilah." Lalu turunlah Petrus dari dalam perahu, serta berjalan di atas air hendak mendapatkan Yesus. Tetapi apabila dirasainya angin ribut itu, takutlah ia; serta hampirlah ia tenggelam, berteriaklah ia, katanya, "Ya Tuhan, tolonglah hamba!" Maka dengan segeranya Yesus mengulurkan tangan-Nya mencapai dia sambil berkata kepadanya, "Hai engkau yang kurang percaya; apakah sebabnya bimbang hatimu?" Setelah keduanya naik ke dalam perahu, maka berhentilah angin itu. Maka segala orang yang di dalam perahu itu pun datanglah sujud menyembah Yesus sambil katanya, "Sesungguhnya Tuhanlah Anak Allah."
”Apabila orang isi negeri itu kenal Yesus, mereka itu pun menyuruhkan orang pergi ke segenap negeri yang berkeliling, lalu dibawa oranglah kepada-Nya segala orang yang sakit; maka mereka itu pun meminta kepada-Nya supaya boleh menjamah kaki jubah-Nya sahaja. Maka seberapa orang yang menjamah Dia itu pun sembuhlah.
”Maka adalah seorang perempuan Kanani datang dari jajahan itu, serta berteriak, katanya, "Ya Tuhan, ya Anak Daud, kasihankanlah hamba; karena anak hamba yang perempuan dirasuk setan terlalu sangat." Tetapi sepatah kata pun tiada dijawab oleh Yesus kepada perempuan itu. Maka datanglah murid-murid-Nya meminta kepada-Nya, serta berkata, "Suruhlah perempuan itu pergi, karena ia berteriak-teriak di belakang kita." Maka jawab Yesus, kata-Nya, "Tiadalah Aku disuruhkan kepada yang lain hanya kepada segala domba yang sesat dari antara bani Israel." Maka datanglah perempuan itu sujud menyembah Dia, katanya, "Ya Tuhan, tolonglah hamba!" Tetapi jawab Yesus, kata-Nya, "Tiada patut diambil roti dari anak-anak, lalu mencampakkan kepada anjing." Maka kata perempuan itu, "Benarlah, ya Tuhan, tetapi anjing itu pun makan segala remah-remah, yang jatuh dari atas meja tuannya." Lalu jawab Yesus, serta berkata kepadanya, "Hai perempuan, besarlah imanmu; jadilah bagimu sama seperti engkau kehendaki." Maka sembuhlah anaknya yang perempuan itu pada ketika itu juga.
”Maka banyaklah orang datang kepada-Nya membawa orang timpang, dan orang kudung, dan orang buta, dan orang kelu, dan banyak orang lain-lain pun, lalu meletakkan mereka itu di kaki Yesus. Maka disembuhkan-Nya mereka itu, sehingga orang banyak itu heran, melihat orang kelu berkata-kata, dan orang kudung sembuh, dan orang timpang berjalan betul, dan orang buta melihat; lalu dipermuliakannya Tuhan orang Israel.
”Maka dipanggil oleh Yesus akan murid-murid-Nya, lalu kata-Nya, "Hati-Ku sangat kasihan akan orang banyak ini, karena sudah tiga hari lamanya mereka itu tinggal bersama-sama dengan Aku, maka satu pun tiada padanya yang hendak dimakannya; tiadalah Aku mau menyuruh dia pulang dengan laparnya, sebab barangkali pingsan mereka itu kelak di jalan." Maka kata murid-murid itu kepada-Nya, "Dari manakah kita mendapat sebegitu banyak roti di padang belantara ini akan mengenyangkan orang yang sebanyak ini?" Maka kata Yesus kepadanya, "Berapa ketul roti ada padamu?" Maka katanya, "Ada tujuh ketul, dan sedikit ikan kecil-kecil." Maka disuruh-Nya orang banyak itu duduk di tanah; lalu diambil-Nya roti yang tujuh ketul dan ikan itu, diucap-Nya syukur dan dipecah-pecahkan-Nya, serta diberi-Nya kepada murid-murid-Nya, maka murid-murid-Nya pula memberikan dia kepada orang banyak itu. Maka makanlah sekaliannya sampai kenyang. Lalu diangkat oranglah segala sisanya itu, tujuh bakul penuh. Adapun segala orang yang makan itu empat ribu orang laki-laki banyaknya, lain pula perempuan dan kanak-kanak.
”Maka berubahlah rupa-Nya di hadapan mereka itu, serta bersinarlah muka-Nya seperti matahari, dan pakaian-Nya menjadi putih seperti terang siang adanya.
”Apabila mereka itu sampai kepada orang banyak, maka datanglah seorang bertelut di hadapan Yesus, sambil berkata, "Ya Tuhan, kasihankanlah anak hamba yang laki-laki, karena ia gila babi, lagi amat sangat sengsaranya; karena kerapkali ia jatuh ke dalam api dan kerapkali ke dalam air, maka hamba sudah membawa dia kepada murid-murid Tuhan, tetapi mereka itu tiada dapat menyembuhkan dia." Maka jawab Yesus, kata-Nya, "Hai bangsa yang tiada percaya dan yang sesat ini, berapa lamakah lagi Aku beserta dengan kamu? Dan berapa lamakah lagi Aku sabar akan kamu? Bawalah dia kepada-Ku!" Lalu Yesus pun menengking dia, sehingga keluarlah setan itu daripadanya; maka budak itu pun pulihlah pada ketika itu juga.
”Setelah itu datanglah murid-murid itu kepada Yesus dengan senyap-senyap serta berkata, "Apakah sebabnya kami ini tiada dapat membuangkan setan itu?" Maka kata Yesus kepada mereka itu, "Oleh sebab kurang imanmu, karena dengan sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Jikalau kamu menaruh iman sebesar biji sesawi, maka kamu berani mengatakan pada gunung ini: Pindahlah engkau dari sini ke sana, niscaya berpindahlah ia kelak; bahkan, tiada barang sesuatu pun yang mustahil padamu.
”Tetapi supaya jangan kita menyakitkan hati mereka itu, pergilah engkau ke tasik mengail, dan ambillah ikan yang mula-mula timbul; dan apabila engkau membuka mulutnya, engkau akan mendapat sekeping uang empat dirham; ambillah uang itu, lalu berikan kepada mereka itu bagi Aku dan bagi engkau pun."
”Dengan sesungguhnya Aku berkata kepadamu, barang apa yang kamu ikat di atas bumi, itulah terikat kelak di surga, dan barang apa yang kamu orak di atas bumi, itu pun terorak kelak di surga. Lagi pula Aku berkata kepadamu: Jikalau dua orang daripadamu sehati di atas bumi ini di dalam barang sesuatu hal yang akan dipintanya, ia itu akan diadakan baginya oleh Bapa-Ku yang di surga. Karena barang di mana ada dua atau tiga orang berhimpun atas nama-Ku, di situlah Aku ada di tengah-tengah mereka itu."
”Maka sambil memandang mereka itu berkatalah Ia, "Kepada manusia perkara ini mustahil, tetapi kepada Allah tiada ada perkara yang mustahil."
”Maka adalah dua orang buta duduk di tepi jalan; serta didengarnya bahwa Yesus ada lalu, berseru-serulah keduanya, katanya, "Ya Tuhan, ya Anak Daud, kasihankanlah kami." Maka orang banyak itu menengking mereka itu menyuruh diam, tetapi makin kuat keduanya berseru, katanya, "Ya Tuhan, ya Anak Daud, kasihankanlah kami!" Maka berdirilah Yesus, serta memanggil keduanya itu, lalu berkata, "Apakah yang kamu suka Aku perbuat padamu?" Maka kata mereka itu kepada-Nya, "Ya Tuhan, mohonlah mata kami dicelikkan." Maka kasihanlah Yesus akan mereka itu, lalu menjamah matanya; maka seketika itu juga nampak pula mereka itu, lalu mengikut Dia.
”Maka orang buta dan orang timpang pun datang kepada-Nya di dalam Bait Allah, lalu disembuhkan-Nya mereka itu.
”Serta dipandang-Nya sepohon ara di sisi jalan, pergilah Ia ke situ, dan didapati-Nya satu apa pun tiada di pohon itu, melainkan daun sahaja. Lalu berkatalah Ia kepadanya, "Janganlah jadi buah daripadamu lagi selama-lamanya." Maka dengan seketika itu juga layulah pohon ara itu. Apabila murid-murid itu melihat hal yang demikian, maka mereka itu pun heranlah, serta berkata, "Bagaimanakah pohon ara ini telah layu dengan seketika itu juga?" Maka jawab Yesus serta berkata kepada mereka itu, "Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, jikalau kamu menaruh iman dan tiada bimbang, maka bukannya sahaja kamu dapat melakukan perbuatan seperti yang dilakukan atas pohon ara ini, melainkan jikalau kamu berkata kepada bukit ini: Terangkatlah engkau dan terbuang ke dalam laut, tak dapat tiada akan jadi kelak. Dan barang apa pun yang kamu pinta di dalam doamu, jikalau dengan yakin, niscaya kamu akan beroleh."
”Maka sekonyong-konyong jadilah gempa bumi yang besar, karena seorang malaekat Tuhan turun dari surga, serta datang menggolekkan batu itu dari kubur, lalu duduk di atas.
”tiadalah Ia di sini, karena Ia sudah bangkit seperti kata-Nya dahulu. Marilah kamu, lihatlah tempat Tuhan sudah terbaring itu. Pergilah kamu dengan segera mengatakan kepada murid-murid-Nya, bahwa Ia sudah bangkit dari antara orang mati, dan akan berjalan dahulu daripada kamu ke Galilea; di sanalah kelak kamu melihat Dia; ingatlah, Aku sudah mengatakan hal itu kepadamu."
”Maka Yesus menghampiri mereka itu, lalu bertutur kepada mereka itu, sabda-Nya, "Bahwa segala kuasa dikaruniakan kepada-Ku. Baik di surga baik di atas bumi ini.
”Pada waktu itu adalah di dalam rumah sembahyang itu seorang yang dirasuk setan, maka berteriaklah ia, katanya, "Hai, Yesus, orang Nazaret, apakah kena-mengena kami dengan Engkau? Engkau datang mau membinasakan kami, aku tahu siapa Engkau ini, yaitu Yang Kudus datang daripada Allah." Maka Yesus menengking dia, kata-Nya, "Diam! Keluarlah engkau daripada orang ini!" Maka setan itu sangat mengharu orang itu, sambil menjerit dengan nyaring suaranya, lalu keluar daripadanya. Maka tercengang-cenganglah mereka itu sehingga bertanya seorang kepada seorang, katanya, "Wah! Apakah ini? Pengajaran yang baharukah? Karena segala setan pun diperintah-Nya dengan kuasa, sehingga menurut perintah-Nya." Maka dengan segera berpecah-pecahlah kabar dari hal Yesus itu di seluruh daerah jajahan Galilea.
”Sebentar itu juga keluarlah mereka itu dari rumah sembahyang itu, lalu masuk ke dalam rumah Simon dan Andreas bersama-sama dengan Yakub dan Yahya. Adalah mak mentua Simon terbaring demam di sana, maka segeralah mereka itu memberitahu akan halnya kepada Yesus. Maka datanglah Yesus memegang tangannya serta membangunkan dia, lalu hilanglah demamnya, maka perempuan itu pun melayani mereka itu sekalian.
”Setelah sudah petang hari, pada waktu matahari masuk, dibawa mereka itulah kepada-Nya segala orang sakit serta orang yang dirasuk setan. Maka seisi negeri itu pun berhimpunlah di muka pintu. Lalu disembuhkan-Nya banyak orang yang kena sakit berbagai-bagai penyakitnya dan setan pun banyak dibuangkan-Nya, maka tiada diizinkan-Nya setan itu berkata-kata, karena setan itu mengenal Dia.
”Lalu Ia pergi mengajar di dalam segala rumah sembahyang mereka itu di seluruh tanah Galilea serta membuangkan setan.
”Maka datanglah kepada Yesus seorang yang kena bala zaraat memohon sambil bertelut ke hadapan-Nya, katanya, "Jikalau kiranya Rabbi kehendaki, niscaya Rabbi dapat mentahirkan hamba." Maka tergeraklah hati-Nya dengan kasihan, lalu diulurkan-Nya tangan-Nya, dijamah-Nya dia serta berkata kepadanya, "Aku kehendaki, jadilah engkau tahir!" Seketika itu juga lenyaplah bala zaraat daripada orang itu, lalu tahirlah ia. Maka setelah dipesani-Nya sangat-sangat, disuruh-Nya dia pergi dengan segera, sambil berkata kepadanya, "Ingatlah baik-baik, jangan engkau katakan apa-apa kepada barang seorang pun, melainkan pergilah menunjukkan dirimu kepada imam, dan persembahkanlah persembahan karena ketahiranmu, seperti yang dipesankan oleh Musa, yaitu akan menjadi suatu tanda kepada mereka itu." Tetapi, keluarlah orang itu, lalu mulai memecahkan kabar sana-sini serta memasyhurkan perkara itu, sehingga Yesus tiada dapat masuk lagi ke dalam negeri itu dengan nyata-nyata, melainkan adalah Ia di luar di tempat-tempat yang sunyi; maka banyaklah orang datang kepada-Nya dari segala pihak.
”Maka datanglah orang membawa ke hadapan-Nya seorang sakit tepok, diusung oleh empat orang. Tetapi sebab mereka itu tiada dapat menghampiri Yesus karena orang banyak itu, maka dibukakannyalah atap yang di tempat-Nya itu; setelah dipecahkannya, lalu tempat orang sakit tepok itu berbaring diulurkannya ke bawah. Serta dilihat oleh Yesus akan percaya mereka itu, maka kata-Nya kepada orang sakit tepok itu, "Hai, anak-Ku, dosamu sudah diampuni." Adalah juga duduk di sana beberapa orang ahli Taurat yang berpikir-pikir di dalam hatinya: Apakah sebabnya orang ini berkata demikian? Ia menghujat! Siapakah dapat mengampuni dosa, kecuali Satu sahaja, yaitu Allah. Pada ketika itu juga diketahui oleh Yesus di dalam hati-Nya, bahwa mereka itu berpikir-pikir demikian di dalam dirinya, lalu berkatalah Ia kepada mereka itu, "Apakah sebabnya hati kamu berbalah-balah? Yang manakah lebih mudah, mengatakan kepada orang sakit tepok ini: Dosamu sudah diampunikah, atau mengatakan: Bangunlah engkau, angkat tempat tidurmu itu, lalu berjalan? Tetapi supaya kamu mengetahui, bahwa Anak manusia di dalam dunia ini berkuasa mengampuni dosa," maka kata-Nya kepada orang yang sakit tepok itu, "Aku ini berkata kepadamu, bangunlah engkau, angkat tempat tidurmu itu, pulanglah ke rumahmu!" Pada ketika itu juga bangunlah ia, diangkatnya tempat tidurnya itu, lalu pergi ke luar di hadapan orang sekalian itu, sehingga sekaliannya itu pun tercengang-cenganglah serta memuliakan Allah, katanya, "Wah, belum pernah kami melihat yang demikian ini!"
”Maka masuklah pula Yesus ke dalam rumah sembahyang, maka adalah di situ seorang yang mati tangan sebelah. Maka orang pun mengintai Dia, kalau-kalau Ia menyembuhkan orang itu pada hari Sabbat, supaya dapat menyalahkan Dia. Maka kata Yesus kepada orang yang mati tangan sebelah itu, "Berdirilah engkau di tengah-tengah." Lalu kata-Nya kepada mereka itu sekalian, "Patutkah pada hari Sabbat berbuat baik atau berbuat jahat? Menyelamatkan nyawa atau membunuh?" Maka diamlah mereka itu. Lalu Yesus memandang sekeliling kepada mereka itu dengan marah sambil berdukacita, sebab keras hati mereka itu, lalu kata-Nya kepada orang sakit itu, "Kedangkanlah tanganmu!" Maka dikedangkannya, lalu sembuhlah tangannya itu.
”Karena banyak orang sudah disembuhkan-Nya, sehingga seberapa orang pun yang ditimpa barang penyakit datang mendesak-desakkan Dia, hendak menjamah Dia sahaja. Maka segala orang yang dirasuk setan itu pun, apabila dilihatnya akan Yesus, mereka itu meniarap ke hadapan-Nya sambil berteriak, katanya, "Engkaulah Anak Allah." Maka berpesanlah Yesus sangat-sangat kepada mereka itu, supaya jangan mereka itu memasyhurkan Dia.
”Maka ditetapkan-Nya dua belas orang, supaya mereka itu bersama-sama dengan Dia, dan supaya mereka itu disuruh-Nya pergi mengajar orang, dan lagi akan beroleh kuasa membuangkan setan.
”Maka tiba-tiba turunlah angin ribut yang besar, lalu gelombangnya pun menempuh masuk ke dalam perahu, sehingga hampir penuh dengan air. Maka Ia sendiri ada di buritan sedang tidur di atas bantal, lalu mereka itu membangunkan Dia, katanya, "Ya, Guru! Tiadakah Tuan peduli kita ini binasa?" Maka bangunlah Ia, lalu melarang angin itu serta berkata kepada tasik itu, "Diam, teduhlah engkau!" Maka berhentilah angin itu, lalu teduh benar-benarlah. Maka berkatalah Yesus kepada mereka itu, "Apakah sebabnya kamu begitu takut? Belumkah kamu percaya?" Maka takutlah mereka itu sangat-sangat, lalu berkata seorang kepada seorang, "Siapakah gerangan orang ini, sehingga angin dan tasik pun menurut perintah-Nya?"
”Setelah Yesus turun dari perahu, sebentar itu juga bertemulah dengan Dia seorang, yang datang daripada kubur-kubur dan yang dirasuk setan, yaitu seorang yang bertempat di kubur-kubur orang; maka seorang pun tiada dapat mengikat dia, walau dengan rantai sekalipun. Karena kerap kali sudah ia dirantaikan kakinya dan dibelenggu, tetapi segala rantai itu diputuskannya belaka, dan belenggu kakinya itu pun dihancurkannya, maka seorang pun tiada ada kekuatan memerintah dia. Maka senantiasa, siang malam adalah ia di kubur-kubur dan di bukit-bukit, berteriak serta menyiksakan dirinya dengan batu. Akan tetapi, setelah dilihatnya Yesus dari jauh, berlarilah ia datang menyembah Dia, sambil berseru dengan nyaring suaranya, katanya, "Apakah perkara aku kena-mengena dengan Engkau hai Yesus, Anak Allah Yang Mahatinggi! Aku menuntut sumpah-Mu demi Allah, jangan Engkau menyiksakan aku!" Karena sudah dikatakan Yesus kepadanya, "Hai, setan, keluarlah engkau daripada orang ini." Maka bertanyalah Ia kepadanya, "Siapakah namamu?" Maka sahutnya, "Legion, itulah namaku, karena kami banyak." Lalu ia meminta amat sangat kepada Yesus, supaya jangan disuruh-Nya pergi keluar dari negeri itu. Maka adalah di sana pada bukit itu babi sekawan besar sedang mencari makan. Maka segala setan itu pun meminta Yesus, katanya, "Suruhkanlah kami masuk ke dalam kawan babi itu!" Maka diluluskan-Nyalah, lalu keluarlah segala setan itu serta masuk ke dalam sekawan babi itu, maka semua babi itu terjunlah dari lereng bukit yang curam ke dalam tasik, sekira-kira dua ribu ekor banyaknya, lalu matilah lemas di dalam air. Maka orang penjaga babi itu pun berlarilah, lalu dikabarkannya perkara itu di dalam negeri dan di kampung pun. Maka keluarlah orang melihat apa yang jadi itu. Maka datanglah sekaliannya kepada Yesus serta melihat orang yang sudah dirasuk setan itu sekarang duduk serta berkain, dan dengan siumannya, yaitu orang yang dirasuk Legion itu; maka takutlah mereka itu. Maka orang yang sudah melihatnya itu mengabarkan kepada mereka itu segala perihal orang yang dirasuk setan itu, dan dari hal babi itu pun. Lalu mereka itu meminta Yesus undur daripada daerah jajahannya.
”Maka adalah seorang perempuan yang berpenyakit bulan, sudah dua belas tahun lamanya, yaitu yang sudah kena banyak susah daripada banyak tabib, dan karena itu pun sudah menghabiskan segala miliknya dengan tiada berfaedah, melainkan makin lama makin bertambah payah sakitnya itu. Setelah didengarnya akan hal Yesus, maka masuklah ia ke dalam orang banyak itu dari belakang, lalu menjamah jubah-Nya, karena katanya, "Jikalau hamba menjamah jubah-Nya sahaja, niscaya sembuhlah hamba ini." Maka seketika itu juga terhentilah lelehan darahnya itu, lalu dirasainya pada tubuhnya, bahwa sembuhlah ia daripada penyakitnya itu. Sebentar itu juga Yesus berasa di dalam diri-Nya suatu khasiat sudah keluar daripada-Nya, lalu berpalinglah Ia kepada orang banyak itu serta berkata, "Siapakah yang menjamah pakaian-Ku?" Maka kata murid-murid-Nya kepada-Nya, "Tuan melihatkah orang banyak ini mendesakkan Tuan, maka kata Tuan: Siapa menjamah Aku?" Maka Yesus memandang sekeliling hendak melihat perempuan yang berbuat perkara itu. Maka perempuan itu pun takut dan menggeletar, sebab diketahuinya barang yang sudah berlaku padanya, lalu datanglah ia sujud di hadapan Yesus serta memberitahu segala halnya dengan sebenarnya. Maka kata Yesus kepadanya, "Hai anak-Ku! Imanmu sudah menyembuhkan engkau. Pulanglah engkau dengan sejahtera, dan pulihlah daripada penyakitmu itu."
”Di dalam Ia sedang berkata-kata, datanglah beberapa orang dari rumah penghulu itu berkata, "Anak Tuan sudah mati; apa sebabnya lagi Tuan menyusahkan Guru?" Tetapi Yesus dengan tiada memberatkan perkataan yang dikatakan itu, lalu berkata kepada penghulu itu, "Jangan takut, percayalah!" Maka tiada diberi-Nya barang seorang pun mengikut Dia, hanyalah Petrus dan Yakub, dan Yahya, saudara Yakub itu. Lalu tibalah mereka itu di rumah penghulu itu, maka dilihat oleh Yesus huru-hara itu, dan orang yang menangis dan meratap terlalu sangat. Setelah Ia masuk, maka kata-Nya kepada mereka itu, "Apakah sebabnya kamu bergaduh dan menangis? Budak ini bukan mati, hanya tidur sahaja." Maka mereka itu mentertawakan Dia. Tetapi setelah disuruh-Nya sekalian orang itu keluar, maka dibawa-Nya bapa budak itu dan ibunya dan orang-orang yang serta-Nya itu, lalu masuk ke dalam tempat budak itu. Maka dipegang-Nya tangan budak itu serta berkata kepadanya, "Talita kumi!" yang diterjemahkan artinya, "Hai budak perempuan, Aku berkata kepadamu, bangunlah!" Maka seketika itu juga budak itu pun bangunlah, lalu berjalan; karena umurnya sudah sampai dua belas tahun. Maka tercengang-cenganglah mereka itu sekalian serta heran terlalu sangat.
”Maka pada hari Sabbat mulailah Ia mengajar di dalam rumah sembahyang, maka sekalian orang pun heranlah tatkala mendengar Dia, serta berkata, "Dari manakah orang ini beroleh perkara yang demikian? Dan macam manakah hikmat yang dikaruniakan kepada-Nya, dan lagi Ia mengadakan juga mujizat yang demikian dengan tangan-Nya?
”Maka di sana tiadalah Ia mengadakan barang sesuatu mujizat pun, melainkan ada sedikit orang sakit yang disembuhkan-Nya dengan meletakkan tangan ke atas mereka itu.
”Maka Yesus memanggil kedua belas murid-Nya, lalu menyuruhkan mereka itu berdua-dua; maka diberi-Nya kuasa kepada mereka itu atas segala setan.
”Maka mereka itu membuangkan beberapa setan dan mengurapi beberapa banyak orang sakit dengan minyak, serta menyembuhkan mereka itu.
”Maka setelah hampir hari petang, datanglah murid-murid-Nya serta berkata, "Tempat ini sunyi dan hari pun hampir petang; suruhkanlah orang ini pulang, supaya mereka itu pergi ke dusun-dusun dan kampung-kampung yang keliling akan membeli makanan bagi dirinya, karena tiada mereka itu menaruh barang sesuatu pun akan dimakannya." Tetapi jawab Yesus, kata-Nya, "Kamu berilah mereka itu makan." Maka kata murid-murid-Nya kepada-Nya, "Kamikah pergi membeli roti barang dua ratus dinar harganya akan memberi makan orang-orang ini?" Maka berkatalah Ia kepada murid-murid-Nya, "Berapa ketul roti ada padamu? Pergi lihat." Setelah diketahuinya, maka katanya, "Ada roti lima ketul, dan ikan dua ekor." Maka dikatakan-Nya kepada mereka itu menyuruh duduk orang sekalian itu bertumpuk-tumpuk di atas rumput hijau itu. Lalu duduklah mereka itu berkelompok, ada yang seratus, ada yang lima puluh banyaknya. Maka Yesus pun mengambil roti lima ketul dan ikan dua ekor itu, lalu menengadah ke langit serta memberi berkat, kemudian Ia memecahkan roti itu, dan memberikan kepada murid-murid-Nya, supaya mereka itu meletakkan di hadapan segala orang itu; demikian juga ikan yang dua ekor itu dibahagikan-Nya kepada orang sekalian. Maka makanlah sekaliannya sampai kenyang. Kemudian diangkat oranglah segala sisanya, dua belas bakul penuh, lain daripada sisa ikan itu. Adapun yang makan roti itu, yaitu lima ribu orang laki-laki banyaknya.
”Maka dilihat-Nya mereka itu sangat payah berdayung karena angin sakal, lalu pada waktu lepas pukul tiga malam datanglah Ia kepadanya, yaitu dengan berjalan di atas air tasik, hendak melintas mereka itu. Akan tetapi ketika mereka itu nampak Dia berjalan di atas air tasik itu, disangkakannya hantu, lalu berteriaklah mereka itu, karena sekaliannya memandang Yesus sehingga terkejut, tetapi dengan segeranya Ia bertutur dengan mereka itu, serta berkata kepadanya, "Tetapkanlah hatimu, inilah Aku, jangan takut!" Lalu naiklah Yesus ke dalam perahu mendapatkan mereka itu, maka berhentilah angin itu, sehingga sekaliannya heran dan tercengang-cengang di dalam dirinya terlalu sangat;
”Setelah mereka itu turun dari perahu, maka sebentar itu juga orang-orang kenal Yesus, lalu bersegeralah mereka itu berjalan seluruh tanah yang sekeliling, serta mulai membawa segala orang sakit di atas tempat baringnya, yaitu ke tempat yang didengarnya ada Yesus. Dan barang di mana juga Ia masuk, baik kampung baik negeri ataupun dusun, orang membawa segala orang sakit ke pasar negerinya, serta memohonkan izin daripada Yesus, kalau-kalau boleh menjamah kaki jubah-Nya sahaja; maka seberapa orang yang menjamah Dia itu pun sembuhlah.
”Maka berangkatlah Yesus dari sana, lalu pergi ke jajahan Tsur dan Sidon. Maka masuklah Ia ke sebuah rumah, kehendak-Nya jangan diketahui oleh seorang jua pun, tetapi tiada dapat Ia bersembunyi. Karena dengan segera kedengaran kabar Yesus kepada seorang perempuan, yang anaknya yang perempuan dirasuk setan, lalu datang serta sujud pada kaki-Nya. Adapun perempuan itu seorang orang Gerika, bangsa Siro Puniki. Maka ia meminta Yesus membuangkan setan itu dari dalam anaknya. Tetapi kata-Nya kepada perempuan itu, "Biarlah anak-anak dikenyangkan dahulu, karena tiada patut diambil roti dari anak-anak, lalu mencampakkan kepada anjing." Maka sahut perempuan itu, serta berkata kepada-Nya, "Benarlah, ya Rabbi, tetapi anjing yang di bawah meja itu pun makan segala remah-remah anak-anak itu." Lalu kata Yesus kepadanya, "Oleh karena katamu ini pergilah engkau; sudahlah keluar setan itu dari dalam anakmu." Setelah perempuan itu sampai ke rumahnya, didapatinya demikian, yaitu budak itu berbaring di atas tempat tidur, dan setan itu pun sudah keluar.
”Maka dibawa oranglah kepada-Nya seorang tuli yang gagap, lalu dipintanya Yesus meletakkan tangan ke atasnya. Maka diasingkan-Nya orang itu daripada orang banyak itu, lalu dimasukkan-Nya jari-Nya ke dalam telinganya; kemudian Ia meludah serta menjamah lidahnya. Sambil menengadah ke langit Ia mengeluh serta berkata kepada orang itu, "Eppata," artinya: Terbukalah! Seketika itu juga terbukalah telinganya dan terurailah ikatan lidahnya, lalu ia berkata-kata betul. Maka dipesankan-Nya kepada mereka itu, supaya hal itu jangan dikatakan kepada seorang jua pun, tetapi makin Ia melarangkan, makin sangat mereka itu memasyhurkan perkara itu. Maka tercengang-cenganglah mereka itu terlalu sangat, katanya, "Segala perbuatan-Nya baik adanya. Ia membuat orang tuli itu mendengar, dan orang kelu itu berkata-kata."
”Pada masa itu amatlah banyak orang berhimpun pula, dan tiadalah padanya barang sesuatu pun yang hendak dimakannya. Lalu Yesus memanggil murid-murid-Nya, serta berkata kepada mereka itu, "Hati-Ku sangat kasihan akan orang banyak ini, karena sudah tiga hari lamanya mereka itu tinggal bersama-sama dengan Aku, maka tiadalah barang sesuatu pun yang hendak dimakannya. Dan jikalau Aku menyuruhkan orang-orang ini pulang ke rumahnya dengan laparnya, niscaya pingsanlah mereka itu di jalan, karena ada yang datang dari jauh." Maka sahut murid-murid-Nya kepada-Nya, "Dari manakah orang sekalian ini dapat dikenyangkan dengan roti di padang belantara ini?" Maka bertanyalah Yesus kepada mereka itu, "Berapa ketul roti ada padamu?" Maka jawabnya, "Tujuh ketul." Maka disuruh-Nya orang banyak itu duduk di tanah. Lalu diambil-Nya roti tujuh ketul itu, diucapkan-Nya syukur dan dipecah-pecahkan-Nya serta diberi-Nya kepada murid-murid-Nya, supaya mereka itu menyampaikan dia ke hadapan orang banyak itu, lalu mereka itu pun meletakkan di hadapan orang banyak itu. Adalah lagi pada mereka itu sedikit ikan kecil-kecil. Setelah diberkati-Nya, ikan itu pun disuruh-Nya letakkan di hadapan orang sekalian itu. Maka makanlah mereka itu sekalian sampai kenyang; lalu orang mengangkat segala sisa roti yang tinggal itu, tujuh bakul penuh. Adapun orang yang sudah makan itu, sekira-kira empat ribu banyaknya, maka Yesus menyuruhkan mereka itu pergi.
”Maka datanglah mereka itu ke negeri Baitsaida. Maka dibawa oranglah kepada Yesus seorang buta, dipinta-Nya menjamah orang itu. Maka Yesus pun memegang tangan orang buta itu, lalu memimpin dia ke luar dusun. Setelah diludahi-Nya mata orang itu, Ia pun meletakkan tangan-Nya ke atas orang itu, serta bertanya kepadanya, "Adakah engkau nampak apa-apa?" Maka menengoklah Ia sambil berkata, "Hamba nampak orang, karena hamba nampak mereka itu seperti pohon kayu berjalan." Kemudian pula diletakkan-Nya tangan-Nya pada matanya, lalu nampaklah ia baik-baik sehingga pulihlah ia, dan dapat melihat sekaliannya dengan terang.
”Lepas enam hari maka Yesus pun mengambil Petrus dan Yakub dan Yahya, lalu membawa mereka itu ke atas sebuah gunung yang tinggi, berasing, maka berubahlah rupa-Nya di hadapan mereka itu. Maka pakaian-Nya pun bercahaya-cahaya terlalu sangat putihnya, sehingga tiada seorang penatu pun di atas bumi dapat memutihkan yang sedemikian itu.
”Maka seorang dari antara orang banyak itu menyahut kepada-Nya, "Ya Guru, hamba sudah bawa kepada Guru anak hamba laki-laki yang gila babi. Barang di mana sahaja setan itu merasuk dia, ia dipontang-pantingkannya, sehingga berbuihlah mulutnya serta kertak giginya, dan lagi makin kuruslah ia. Dan hamba sudah berkata kepada murid-murid Tuan, supaya mereka itu membuangkan setan itu, tetapi tiadalah cakap mereka itu." Maka jawab Yesus kepada mereka itu, kata-Nya, "Hai bangsa yang tiada percaya ini! Berapa lamakah lagi Aku beserta dengan kamu? Dan berapa lamakah harus Aku sabar akan kamu? Bawalah dia kepada-Ku!" Maka dibawanya budak itu kepada-Nya. Apabila setan itu memandang Yesus, maka seketika itu juga setan itu membanting-bantingkan budak itu, sehingga rebahlah ia ke tanah dan berguling-guling dengan berbuih-buih mulutnya. Lalu Yesus bertanya kepada bapa budak itu, "Berapa lama sudah jadi demikian padanya?" Maka katanya, "Dari kecil. Dan kerap kali dicampakkannya ke dalam api dan ke dalam air, hendak dibunuhnya. Sebab itu kalau Tuhan boleh menolong dia, kasihanilah kami dan tolonglah kami." Tetapi sahut Yesus kepadanya, "Bagaimana: Kalau boleh? Segala perkara boleh jadi bagi orang yang percaya." Maka berteriaklah bapa budak itu sambil menangis, katanya, "Ya Tuhan, hamba percaya, tolonglah akan iman hamba yang kurang." Serta dilihat oleh Yesus akan orang banyak berkerumun di tempat itu, maka ditengking-Nya setan itu serta berkata kepadanya, "Hai setan yang kelu dan tuli, Aku suruhkan engkau keluar daripadanya, dan jangan engkau masuk pula ke dalamnya." Lalu keluarlah setan itu sambil berteriak dan membanting-bantingkan dia terlalu sangat, maka budak itu kelihatan seperti orang mati, sehingga kebanyakan orang berkata, "Sudah mati ia." Tetapi Yesus memegang tangannya serta mengangkat dia, lalu bangunlah ia.
”Lalu Yesus memandang mereka itu serta kata-Nya, "Kepada manusia perkara itu mustahil, tetapi bukannya kepada Allah; karena kepada Allah segala sesuatu ada di dalam kuasa-Nya."
”Maka tibalah mereka itu di Yerikho. Apabila Yesus keluar dari Yerikho dengan murid-murid-Nya dan amat banyak orang serta-Nya, adalah anak Timeus bernama Bartimeus yang buta, duduk di tepi jalan, meminta sedekah. Setelah didengarnya bahwa itulah Yesus, orang Nazaret, mulailah ia berseru-seru, katanya, "Ya Yesus, Anak Daud, kasihankanlah hamba!" Maka banyak orang menengking dia, menyuruh diam, tetapi makin sangat ia berseru, "Ya Anak Daud, kasihankanlah hamba ini!" Maka berdirilah Yesus serta berkata, "Panggillah dia." Lalu mereka itu pun memanggil orang buta itu, katanya, "Pertetapkanlah hatimu; bangunlah, Ia memanggil engkau." Maka ditinggalkannya selimutnya, lalu bangkit berdiri serta datang kepada Yesus. Maka sahut Yesus serta berkata kepadanya, "Apakah engkau suka yang Aku ini akan perbuat bagimu?" Maka kata orang buta itu kepada-Nya, "Ya Guru, mohonlah hamba dapat melihat." Maka kata Yesus kepadanya, "Pergilah engkau, imanmu sudah memulihkan engkau." Seketika itu juga ia menerima penglihatannya, lalu mengikut Yesus sepanjang jalan.
”Maka jawab Yesus serta berkata kepada mereka itu, "Percayalah akan Allah. Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, barangsiapa yang akan berkata kepada gunung ini: Terangkatlah engkau dan tercampaklah ke dalam laut! Dan tiada bimbang di dalam hatinya, melainkan yakin, bahwa perkataannya jadi kelak, niscaya jadilah baginya. Sebab itu Aku berkata kepadamu: Barang apa yang kamu pohonkan dan pinta, jikalau kamu yakin seolah-olah sudah kamu terima, niscaya kamu akan beroleh.
”Maka kata orang muda itu kepada mereka itu, "Janganlah kamu tercengang; kamu mencari Yesus, orang Nazaret, yang sudah disalibkan itu. Ia sudah bangkit, tiada Ia di sini, tengoklah tempat orang meletakkan Dia.
”Maka segala tanda ini akan menyertai orang yang percaya itu: Bahwa atas nama-Ku mereka itu akan membuangkan setan dan mereka itu akan berkata-kata dengan berbagai-bagai bahasa; mereka itu akan mengangkat ular, maka jikalau mereka itu minum barang yang membawa mati, tiadalah hal itu akan memberi bahaya kepada mereka itu; maka mereka itu akan meletakkan tangannya ke atas orang sakit, lalu orang itu pun akan sembuh."
”Setelah Tuhan (Yesus) bersabda demikian kepada mereka itu, maka terangkatlah Ia naik ke surga lalu duduk di sebelah kanan Allah.
”Maka segala orang itu pun pergilah, serta memberitakan di mana-mana, maka Tuhan membantu mereka itu, dan meneguhkan firman itu dengan sekalian tanda ajaib yang mengiringi dia.
”karena tiap-tiap firman Allah, satu pun tiada yang mustahil."
”Adalah di dalam rumah sembahyang itu seorang yang dirasuk setan, maka berteriaklah ia dengan nyaring suaranya, katanya, "Ah, apakah kena-mengena kami dengan Engkau, hai Yesus orang Nazaret? Engkau datang mau membinasakan kamikah? Aku tahu siapa Engkau ini, yaitu Yang Kudus datang daripada Allah." Lalu Yesus menengking dia, kata-Nya, "Diam, keluarlah engkau daripada orang ini!" Maka setan itu pun menghempaskan orang itu di tengah-tengah orang banyak, lalu keluarlah setan itu dari dalamnya dengan tiada menyakiti dia. Maka tercengang-cenganglah mereka itu sekalian serta bertutur-tutur sama sendirinya, katanya, "Wah! Perkataan apakah ini? Karena dengan kuat kuasa diperintah-Nya setan itu sehingga keluar!" Maka masyhurlah kabar dari hal Yesus itu pada segala daerah jajahan itu.
”Maka bangkitlah Ia keluar dari dalam rumah sembahyang itu masuk ke dalam rumah Simon. Maka mak mentua Simon itu tengah demam sangat, lalu orang meminta Yesus menolong dia. Maka berdirilah Ia di sisinya melarangkan demam itu, lalu demam itu pun hilanglah; maka sekejap itu juga ia bangkit melayani mereka itu.
”Apabila matahari masuk, maka segala orang, yang ada padanya orang sakit dengan berbagai-bagai penyakit, membawa orang sakit itu kepada-Nya; maka Ia pun meletakkan tangan ke atas tiap-tiap orang itu, serta menyembuhkan dia. Maka setan-setan pun keluarlah daripada banyak orang itu, sambil berteriak, katanya, "Engkau inilah Anak Allah." Lalu Yesus melarangkan setan-setan itu berkata-kata, sebab diketahui oleh setan itu bahwa Ialah Kristus.
”Setelah sudah Ia berhenti bertutur, maka kata-Nya kepada Simon, "Bertolaklah ke tempat yang dalam, dan labuhkanlah pukatmu akan menangkap ikan." Maka sahut Simon, katanya, "Ya Rabbi, semalam-malaman kami berlelah, suatu pun tiada dapat; tetapi sebab perkataan Rabbi hamba melabuhkan pukat itu." Setelah dilabuhkan, dilengkungnya ikan terlalu banyak, sehingga koyaklah pukatnya itu. Maka mereka itu pun menggamit kawan-kawannya, yang di dalam perahu lain itu, supaya datang membantu; maka datanglah mereka itu, lalu diisinya sarat kedua buah perahu itu, sehingga hampir tenggelam. Apabila Petrus melihat hal itu, sujudlah ia pada lutut Yesus, katanya, "Ya Tuhan, tinggalkanlah kiranya hamba, karena hamba ini orang yang penuh dosa." Sebab tercengang-cenganglah ia beserta dengan orang-orang yang ada bersama-sama dengan dia, karena perolehan ikan yang didapatinya itu;
”Maka berlakulah tatkala Ia di dalam sebuah negeri, bahwa adalah seorang yang kena bala zaraat dengan dahsyatnya; apabila dilihatnya Yesus, maka sujudlah orang itu serta memohonkan kepada-Nya, katanya, "Ya Tuhan, jikalau kiranya Tuhan kehendaki, niscaya Tuhan dapat mentahirkan hamba." Lalu Yesus pun mengulurkan tangan-Nya serta menjamah dia, kata-Nya, "Aku kehendaki, tahirlah engkau!" Seketika itu juga bala zaraat itu pun lenyaplah. Maka berpesanlah Yesus kepadanya, "Jangan mengatakan kepada seorang jua pun, melainkan pergilah menunjukkan dirimu kepada imam, dan persembahkanlah persembahan karena ketahiranmu, seperti yang dipesankan oleh Musa, yaitu akan menjadi suatu tanda kepada mereka itu." Tetapi makin masyhurlah kabar-Nya; lalu berkerumunlah sekalian orang banyak itu, hendak mendengar Dia, dan meminta sembuhkan penyakit mereka itu.
”Tatkala Yesus mengajar pada suatu hari, adalah orang Parisi dan ahli Taurat duduk di situ, yang datang dari tiap-tiap kampung di tanah Galilea dan Yudea, dan dari Yeruzalem; maka kuasa daripada Tuhan telah ada kepada-Nya sehingga Ia menyembuhkan orang. Maka ada pula orang mengusung seorang yang sakit tepok di atas usungan; maka dicarinya jalan hendak membawa masuk dan meletakkan dia di hadapan Yesus. Tetapi sebab mereka itu tiada lulus membawa orang itu masuk karena orang bersesak, naiklah mereka itu ke atas atap rumah, lalu diulurkannya ke bawah usungan dari celah atap genting itu ke tengah-tengah di hadapan Yesus. Setelah Yesus nampak percaya mereka itu, berkatalah Ia, "Hai manusia, dosamu sudah diampuni." Maka ahli Taurat dan orang Parisi mulai berbicara, katanya, "Siapakah orang ini yang mengatakan hujat itu? Siapakah dapat mengampuni dosa kecuali Satu sahaja, yaitu Allah?" Tetapi sebab Yesus mengetahui pikiran mereka itu, maka Ia pun menjawablah serta berkata kepada mereka itu, "Apakah kamu berbicara di dalam hatimu? Yang manakah lebih mudah mengatakan: Dosamu sudah diampunikah, atau mengatakan: Bangunlah berjalan? Tetapi supaya kamu mengetahui, bahwa Anak manusia ada kuasa di dalam dunia ini mengampuni dosa," maka kata-Nya kepada orang yang sakit tepok itu, "Aku berkata kepadamu, bangunlah engkau, angkat tempat tidurmu, pulanglah ke rumahmu." Seketika itu juga bangunlah ia di hadapan mereka itu, lalu diangkatnya tempat tidur yang di atasnya ia berbaring itu, langsung berjalan pulang ke rumahnya serta memuliakan Allah. Maka tercengang-cenganglah mereka itu sekalian, lalu memuliakan Allah, dan menaruh ketakutan yang amat sangat, katanya, "Pada hari ini kami nampak suatu perkara yang ajaib."
”Pada suatu hari Sabbat yang lain, masuklah Yesus ke dalam rumah sembahyang, serta mengajar; maka adalah di sana seorang yang mati tangan kanannya. Maka ahli Taurat dan orang Parisi pun mengintai, kalau-kalau Ia menyembuhkan orang pada hari Sabbat, supaya dapat menyalahkan Dia. Tetapi Ia sendiri mengetahui pikiran mereka itu, lalu berkatalah Ia kepada orang yang mati tangan itu, "Bangunlah engkau berdiri di tengah-tengah." Maka bangkitlah ia berdiri di tengah. Maka berkata pula Yesus kepada mereka itu, "Aku hendak bertanya kepadamu: Halalkah pada hari Sabbat berbuat baik atau berbuat jahat menyelamatkan nyawa atau membunuh?" Maka Yesus memandang sekeliling kepada mereka itu, lalu kata-Nya kepada orang itu, "Kedangkanlah tanganmu!" Maka dikedangkannya, lalu sembuhlah tangannya;
”Maka turunlah Yesus bersama-sama dengan mereka itu, lalu berdiri pada tempat yang rata, beserta dengan beberapa banyak murid-murid-Nya, dan terlalu banyak orang dari seluruh tanah Yudea dan dari Yeruzalem, dan dari pantai laut dekat Tsur dan Sidon, yang datang hendak mendengar Dia dan meminta sembuhkan penyakit mereka itu, dan orang yang dirasuk setan itu pun disembuhkan-Nya. Dan segala orang banyak pun bermaksud hendak menjamah Dia, sebab ada khasiat keluar daripada-Nya, sehingga disembuhkan-Nya mereka itu sekalian.
”Maka adalah seorang hamba penghulu laskar, yang amat disayangi oleh tuannya, sakit payah hampir mati. Setelah didengar oleh penghulu laskar itu dari hal Yesus, maka disuruhnya kepada-Nya orang tua-tua Yahudi, meminta Dia datang menyembuhkan hambanya. Apabila mereka itu sampai kepada Yesus, lalu dipintanya sangat-sangat kepada-Nya, serta berkata, "Layaklah ia ditolong Tuan, karena ia mengasihi bangsa kita, dan ialah yang mendirikan rumah sembahyang kita." Maka Yesus pun pergilah bersama-sama dengan mereka itu. Apabila mereka itu sudah dekat dengan rumah itu, maka disuruhkan oleh penghulu laskar beberapa sahabatnya pula kepada-Nya, mengatakan, "Ya Tuhan, janganlah bersusah, karena sahaya tiada layak dilawati oleh Tuhan ke dalam rumah sahaya; sebab itu rasanya, sahaya sendiri tiadalah berlayak datang kepada Tuhan, hanya katakanlah sepatah kata sahaja, niscaya hamba sahaya akan sembuh. Karena sahaya ini pun seorang yang di bawah perintah, dan di bawah perintah sahaya pula ada beberapa laskar; jikalau sahaya berkata kepada seorangnya: Pergilah, ia pun pergi; dan kepada yang lain pula: Marilah, ia pun datang; dan kepada hamba sahaya: Buatlah itu, maka dibuatnyalah." Apabila didengar oleh Yesus demikian, heranlah Ia akan dia; lalu berpaling kepada orang banyak yang mengikut Dia, kata-Nya, "Aku berkata kepadamu, di antara orang Israel sekalipun belum pernah Aku melihat iman yang sebegitu besar." Setelah pesuruh itu kembali ke rumah itu, lalu didapatinya hamba itu sudah sembuh.
”Apabila Ia mendekati pintu negeri itu, adalah seorang mati diusung ke luar, yaitu anak maknya yang laki-laki tunggal; maka mak itu janda; dan ada pula banyak orang negeri itu beserta dengan dia. Serta Tuhan melihat perempuan itu, jatuhlah kasihan-Nya akan dia, lalu kata-Nya, "Janganlah engkau menangis." Maka dihampiri-Nya dan dijamah-Nya usungan itu, lalu orang yang mengusung itu pun berdirilah. Maka kata Yesus, "Hai orang muda! Aku berkata kepadamu: Bangkitlah!" Maka orang yang mati itu pun bangkitlah duduk, lalu mulai berkata-kata; kemudian diserahkannya kepada maknya. Maka ketakutanlah sekalian orang itu, lalu memuliakan Allah, katanya, "Seorang nabi yang besar telah terbit di antara kita, dan Allah telah melawat kaum-Nya." Maka masyhurlah kabar dari hal Yesus itu ke seluruh tanah Yudea dan segala jajahan sekeliling.
”Pada ketika itu juga Yesus menyembuhkan banyak orang yang kena penyakit, dan bala dan setan, dan mengaruniakan penglihatan kepada banyak orang buta. Maka jawab Yesus serta berkata kepadanya, "Pergilah kamu, kabarkan kepada Yahya barang yang kamu tampak dan dengar; yaitu, orang buta celik matanya, orang timpang berjalan betul, orang yang kena bala zaraat ditahirkan, orang tuli sudah mendengar, orang mati dihidupkan, dan Injil diberitakan kepada orang miskin,
”dan beberapa perempuan yang sudah disembuhkan-Nya daripada dirasuk setan dan berbagai-bagai kesakitan, yaitu Maryam yang disebut Magdalena, yang sudah keluar tujuh setan dari dalamnya,
”Adalah pada suatu hari Yesus dengan murid-murid-Nya naik ke dalam sebuah perahu, lalu berkata kepada mereka itu, "Marilah kita menyeberang ke seberang tasik." Maka bertolaklah mereka itu. Tetapi sementara mereka itu berlayar, tertidurlah Ia, lalu turunlah angin ribut ke tasik itu, memenuhi perahu itu dengan air, sehingga nyaris bahaya. Maka datanglah mereka itu mendapatkan Yesus, serta membangunkan Dia, katanya, "Ya Rabbi, ya Rabbi, binasalah kita!" Maka bangunlah Ia sambil melarang angin dan gelombang itu; lalu berhentilah, menjadi teduh. Maka kata-Nya kepada mereka itu, "Di manakah imanmu?" Maka takutlah mereka itu serta heran sambil berkata seorang kepada seorang, "Siapakah Ia ini, yang memerintah angin dan air, sehingga menurut Dia?"
”Setelah Ia naik ke darat, maka bertemulah dengan Dia seorang dari negeri itu, yang dirasuk setan; maka telah beberapa lama orang itu tiada berkain, dan tiada diam di dalam rumah, melainkan di kubur-kubur. Serta dilihatnya Yesus, maka berteriaklah ia serta sujud di hadapan-Nya sambil berkata dengan suara yang nyaring, "Apakah perkara aku kena-mengena dengan Engkau, hai Yesus, Anak Allah Yang Mahatinggi; aku minta, janganlah Engkau menyiksakan aku." (Katanya begitu) sebab Yesus menyuruh setan itu keluar daripada orang itu; karena kerapkali setan itu mengharu dia; maka ia dirantai dan dibelenggu serta dikawal oranglah; tetapi segala rantai itu habis diputuskannya, lalu ia dihalaukan oleh setan itu ke tempat sunyi. Maka bertanyalah Yesus kepadanya, "Siapakah namamu?" Maka katanya, "Legion," karena banyaklah setan yang masuk ke dalamnya. Maka segala setan itu meminta Yesus supaya jangan disuruhkan-Nya masuk ke tempat yang tiada terduga dalamnya. Maka adalah di sana sekawan babi yang banyak sedang mencari makan di bukit; lalu setan itu pun meminta Yesus, supaya dibiarkannya masuk ke dalam babi itu; maka dibiarkan-Nyalah. Maka keluarlah setan itu daripada orang itu serta masuk ke dalam babi; maka terjunlah sekawan babi itu dari tempat yang curam ke dalam tasik, lalu mati lemas. Apabila penjaga babi itu pun melihat hal itu, berlarilah mereka itu, lalu dikabarkannya di dalam negeri dan di kampung. Maka keluarlah mereka itu pergi melihat barang yang berlaku itu, serta datang mendapatkan Yesus, lalu dijumpainya orang, yang setan sudah keluar dari dalamnya, duduk di kaki Yesus dan sudah berkain, dan dengan siumannya; maka takutlah mereka itu. Maka orang yang telah melihat hal itu menceriterakan kepada mereka itu, peri bagaimana orang yang dirasuk setan itu telah dipulihkan. Maka sekalian orang banyak dari seluruh jajahan Gerasa meminta Yesus undur daripada mereka itu, karena sangatlah besar ketakutan atasnya. Maka Yesus pun naik ke dalam perahu, lalu balik.
”Adalah seorang perempuan yang berpenyakit bulan sudah dua belas tahun lamanya, maka walaupun dihabiskannya hartanya kepada tabib, tetapi tiada dapat disembuhkan oleh seorang jua pun. Maka datanglah perempuan itu dari belakang menjamah kaki jubah Yesus; maka seketika itu juga terhentilah lelehan darahnya. Maka kata Yesus, "Siapakah yang menjamah Aku?" Setelah sekaliannya bersangkal, maka kata Petrus, "Rabbi, orang banyak mengimpit dan menyesak Rabbi." Maka kata Yesus, "Ada orang yang menjamah Aku, karena Kurasai suatu kekuatan sudah keluar daripada-Ku." Tetapi apabila perempuan itu tampak akan dirinya tiada dapat bersembunyi, datanglah ia dengan geletarnya, lalu sujud di hadapan Yesus sambil menyatakan di hadapan segenap kaum itu sebabnya ia menjamah Dia, dan peri bagaimana ia sembuh pada ketika itu juga. Maka kata Yesus kepadanya, "Hai anak-Ku, imanmu sudah menyembuhkan engkau, pergilah engkau dengan sejahtera."
”Di dalam Ia sedang berkata-kata, datanglah seorang dari rumah penghulu rumah sembahyang itu, katanya, "Anak Tuan sudah mati, janganlah menyusahkan Guru." Tetapi Yesus yang mendengar itu, menjawab kepadanya, "Jangan takut, percayalah sahaja, maka ia akan sembuh." Setelah Ia tiba di rumah itu, maka tiada diberi-Nya seorang pun masuk serta-Nya, melainkan Petrus dan Yahya dan Yakub dan bapa budak itu dengan ibunya. Maka orang-orang pun semuanya menangis dan meratapkan dia; tetapi kata Yesus, "Jangan menangis; bukannya ia mati, melainkan tidur." Maka mereka itu pun mentertawakan Dia, karena diketahuinya, bahwa ia sudah mati. Tetapi Yesus memegang tangan budak itu, lalu berseru, kata-Nya, "Hai anak perempuan, bangunlah!" Maka rohnya pun kembalilah pula, lalu bangunlah ia dengan segera; maka Yesus menyuruh memberi budak itu makan. Maka tercengang-cenganglah ibu bapanya; lalu Yesus berpesan kepada mereka itu jangan mengatakan hal itu kepada seorang jua pun.
”Maka Yesus memanggil kedua belas murid-Nya, lalu diberi-Nya kuat kuasa atas segala setan, dan akan menyembuhkan berbagai-bagai penyakit. Maka disuruhkan-Nya mereka itu mengabarkan kerajaan Allah dan menyembuhkan orang sakit.
”Maka keluarlah mereka itu pergi ke seluruh kampung sambil memberitakan kabar kesukaan dan menyembuhkan orang sana sini.
”Tetapi sedang orang banyak mengetahui akan hal itu, lalu mereka itu mengikut Dia; maka Yesus pun menyambut mereka itu, serta bertutur kepadanya dari hal kerajaan Allah sambil menyembuhkan orang yang berlayak disembuhkan.
”Maka hari pun hampir malam; lalu datanglah kedua belas murid itu berkata kepada-Nya, "Suruhkanlah orang banyak ini pulang, supaya mereka itu pergi ke kampung-kampung dan dusun-dusun yang sekeliling, akan menumpang dan mencari makanan, karena di sini kita di tempat yang sunyi." Tetapi kata Yesus kepada murid-murid itu, "Kamu berilah mereka itu makan." Maka kata murid-murid itu, "Tiadalah pada kami roti lebih daripada lima ketul, dan ikan dua ekor, kecuali kami pergi membeli makanan untuk kaum sebanyak ini." Karena ada kira-kira lima ribu orang laki-laki banyaknya. Maka kata-Nya kepada murid-murid-Nya, "Suruhlah mereka itu duduk bertumpuk-tumpuk, kira-kira lima puluh orang setumpuk." Maka diperbuat oleh murid-murid demikian, serta menyuruh duduk sekaliannya. Maka Yesus pun mengambil roti lima ketul, dan ikan dua ekor itu, lalu menengadah ke langit, serta memberkati dia, kemudian Ia memecahkan roti itu, dan memberikan kepada murid-murid-Nya, supaya mereka itu meletakkan di hadapan orang banyak itu. Maka makanlah sekaliannya sampai kenyang; lalu diangkat oranglah segala sisanya dua belas bakul penuh.
”Maka sedang Ia berdoa, berubahlah rupa muka-Nya, dan pakaian-Nya pun menjadi putih bersinar-sinar.
”Di antara orang banyak itu adalah seorang berseru, katanya, "Ya Guru, hamba mohonkanlah kiranya Tuan menengokkan anak hamba; karena ialah anak hamba yang tunggal. Ada suatu setan merasuk dia, tiba-tiba budak itu berteriak, dan setan itu menggoncang dia sehingga berbuih mulutnya, dan jarang ditinggalkannya dia, sehingga dirusakkannya belaka. Dan hamba sudah minta murid-murid Tuan membuangkan setan itu, tetapi tiada dapat." Maka jawab Yesus, kata-Nya, "Hai bangsa yang tiada percaya dan yang sesat ini, berapa lamakah lagi Aku beserta dengan kamu dan sabar akan kamu? Bawalah anakmu itu ke mari." Sementara ia lagi di jalan, maka ia dipontang-pantingkan oleh setan itu ke bawah, dan digoncangkannya amat sangat. Tetapi Yesus pun menengking setan itu, lalu memulihkan budak itu; maka diserahkan-Nya balik kepada bapanya. Maka tercenganglah sekaliannya akan kemuliaan Allah itu. Sementara orang sekalian lagi heran akan segala perkara yang diperbuat-Nya itu, berkatalah Ia kepada murid-murid-Nya,
”Apabila kamu masuk ke negeri mana pun serta orang menerima kamu, makanlah barang yang dihidangkan bagimu, dan sembuhkanlah orang sakit di situ, serta katakan kepadanya: Kerajaan Allah sudah dekat dengan kamu.
”Ingatlah, Aku memberi kamu kuasa memijak ular dan kalajengking, dan kuasa atas segala kekuatan musuh; maka suatu pun tiada yang memberi bahaya kepadamu. Tetapi di dalam hal ini jangan kamu bersukacita, yaitu bahwa segala setan takluk kepadamu; melainkan bersukacitalah sebab namamu tersurat di dalam surga."
”Pada suatu hari Yesus sedang membuangkan suatu setan yang kelu. Tatkala setan itu sudah keluar, maka orang kelu itu pun berkata-kata, lalu heranlah orang banyak.
”Tatkala Yesus sedang mengajar di dalam sebuah rumah sembahyang pada hari Sabbat, maka kelihatanlah seorang perempuan yang dirasuk setan sehingga lemah sudah delapan belas tahun lamanya, sampai bungkuk belakangnya, dan tiada dapat lagi menegakkan dirinya. Apabila Yesus nampak dia, lalu Ia memanggil perempuan itu serta berkata kepadanya, "Hai perempuan, terlepaslah engkau daripada penyakit lemahmu itu." Lalu diletakkan-Nya tangan-Nya atas perempuan itu; maka sebentar itu juga betullah belakangnya itu, lalu ia memuliakan Allah. Maka gusarlah hati penghulu rumah sembahyang itu sebab Yesus menyembuhkan orang pada hari Sabbat, lalu katanya kepada orang banyak, "Ada enam hari yang patut orang bekerja; sebab itu patut di dalam hari itulah orang datang akan disembuhkan, tetapi jangan pada hari Sabbat." Tetapi sahut Tuhan kepadanya, serta berkata, "Hai munafik, bukankah pada hari Sabbat kamu masing-masing melepaskan lembu atau keledainya daripada kandang, akan membawa pergi minum. Akan tetapi perempuan ini, seorang anak Ibrahim, yang diikat oleh setan, wah, sudah delapan belas tahun lamanya, tiadakah patut ia dilepaskan daripada pengikat ini pada hari Sabbat?" Tatkala Yesus berkata demikian, malulah sekalian lawan-Nya, tetapi segala orang banyak itu bersukacita karena segala perbuatan mulia-mulia yang telah diperbuat-Nya.
”Maka kata Yesus kepada mereka itu, "Pergilah kamu katakan kepada si serigala itu: Sesungguhnya Aku membuang setan, dan menyembuhkan orang pada hari ini dan besok, dan pada hari yang ketiga Aku menyudahkan pekerjaan-Ku.
”Maka adalah di hadapan-Nya seorang yang sakit basal air. Maka Yesus pun bertanyalah kepada orang fakih dan orang Parisi, kata-Nya, "Halalkah menyembuhkan orang pada hari Sabbat, atau tiada?" Tetapi mereka itu diam sahaja. Maka dipegang-Nya orang sakit itu, serta disembuhkan-Nya dia, lalu disuruh-Nya pulang.
”Maka berkatalah rasul-rasul itu kepada Yesus, "Tambahilah iman kami!" Maka kata Yesus, "Jikalau kamu menaruh iman sebesar biji sesawi, maka kamu berani mengatakan pada pohon ara ini: Tercabutlah dan tertanam di laut, maka ia menurut perintahmu kelak.
”Serta masuk ke dalam sebuah kampung, Ia dijumpai oleh sepuluh orang yang kena bala zaraat, yang terdiri dari jauh. Maka mereka itu pun berteriak, katanya, "Ya Yesus, ya Rabbi, kasihankanlah kami!" Apabila Yesus nampak mereka itu, lalu berkatalah Ia kepada mereka itu, "Pergilah kamu tunjukkan dirimu kepada imam-imam." Maka sambil berjalan, mereka itu pun tahirlah. Maka seorang daripada mereka itu, tatkala ia nampak dirinya sembuh, berbaliklah ia sambil memuliakan Allah dengan nyaring suaranya; lalu sujud ke kaki Yesus, serta mengucap syukur kepada-Nya; maka orang itu, ialah seorang Samaria. Maka jawab Yesus serta berkata, "Bukankah sepuluh orang yang telah ditahirkan? Tetapi di manakah yang sembilan lagi? Tidakkah ada seorang pun yang balik ke mari memuliakan Allah, lain daripada orang keluaran ini?" Dan lagi kata-Nya kepada orang itu, "Bangunlah engkau pulang! Imanmu sudah menyelamatkan engkau."
”Tetapi kata Yesus, "Barang yang mustahil kepada manusia, bukannya mustahil kepada Allah."
”Tatkala Ia datang dekat Yerikho, adalah seorang buta duduk di tepi jalan meminta sedekah. Serta didengarnya orang banyak lalu, maka ia pun bertanya, "Apakah ini?" Maka jawab orang kepadanya, bahwa Yesus orang Nazaret lalu. Maka berseru-serulah ia, katanya, "Ya Yesus, Anak Daud, kasihankanlah hamba." Maka orang yang berjalan dahulu itu menengking dia, menyuruh diam, tetapi makin kuat ia berseru, "Ya Anak Daud, kasihankanlah hamba." Maka berdirilah Yesus serta menyuruh orang membawa dia kepada-Nya. Setelah ia datang dekat, lalu Yesus menanya dia, "Apakah yang engkau suka Aku perbuat padamu?" Maka ia pun berkata, "Ya Tuhan, mohonlah hamba dapat melihat." Maka kata Yesus kepadanya, "Melihatlah pula engkau! Imanmu sudah memulihkan engkau." Seketika itu juga nampak pula ia, lalu mengikut Dia sambil memuliakan Allah. Maka segenap kaum, yang melihat hal itu pun, memuji-muji Allah.
”Maka seorang dari antara mereka itu memarang hamba Imam Besar dan mengerat telinga kanannya. Tetapi Yesus menjawab serta berkata, "Sudahlah dengan itu!" Lalu Ia menjamah telinganya itu sambil memulihkan dia.
”Tiada Ia di sini, melainkan Ia sudah bangkit. Ingatlah bagaimana perkataan-Nya kepadamu tatkala Ia lagi di Galilea,
”Apabila kekurangan air anggur, berkatalah ibu Yesus kepada-Nya, "Mereka itu tiada berair anggur." Maka kata Yesus kepadanya, "Hai perempuan, apakah yang kena-mengena di antara Aku dengan engkau? Saat-Ku belum sampai." Maka kata ibu-Nya kepada segala pelayan itu, "Perbuatlah barang apa yang Ia katakan kepadamu." Maka adalah di situ terletak tempayan batu enam buah, yaitu menurut adat basuhan orang Yahudi, tiap-tiap tempayan itu muat dua tiga buyung air. Maka kata Yesus kepada mereka itu, "Isikanlah air ke dalam segala tempayan ini." Maka mereka itu pun mengisi penuh sampai ke mulutnya. Lalu kata-Nya kepada mereka itu, "Cedoklah sekarang, dan bawalah kepada kepala perjamuan itu." Maka dibawanyalah. Setelah dikecap oleh kepala perjamuan akan air yang sudah jadi anggur itu (tiada diketahuinya, dari mana datangnya, tetapi ketahuanlah pada segala pelayan, yang mencedokkan air itu), maka kepala perjamuan itu pun memanggil mempelai laki-laki, lalu katanya kepadanya, "Biasanya tiap-tiap orang menjamukan dahulu air anggur yang baik, dan setelah puas orang minum, baharu dijamukannya yang kurang baik; tetapi Tuan menyimpan air anggur yang baik sampai sekarang." Maka inilah permulaan segala tanda ajaib, yang diperbuat oleh Yesus di negeri Kana, di tanah Galilea, dan Ia menyatakan kemuliaan-Nya; maka murid-murid-Nya itu pun percayalah akan Dia.
”Maka pada waktu Yesus di Yeruzalem, yaitu ketika hari raya Pasah, banyak orang percaya akan nama-Nya, sebab telah dilihat oleh mereka itu akan segala tanda ajaib, yang diperbuat-Nya.
”Ia datang kepada Yesus pada malam, lalu berkata kepada-Nya, "Ya Rabbi, kami tahu Rabbi seorang Guru yang datang daripada Allah, karena tiadalah seorang pun dapat memperbuat segala tanda ajaib, seperti Guru perbuat, jikalau tiada Allah ada sertanya."
”Maka datanglah Ia sekali lagi ke negeri Kana di tanah Galilea, yaitu di tempat air dijadikan-Nya anggur itu. Maka adalah seorang pegawai raja, yang anaknya laki-laki sakit di Kapernaum. Setelah didengarnya bahwa Yesus sudah datang dari tanah Yudea ke Galilea, pergilah ia mendapatkan Yesus, dipintanya datang menyembuhkan anaknya itu, karena ia tengah hendak mati. Lalu kata Yesus kepadanya, "Jikalau tiada kamu nampak tanda ajaib dan mujizat, tiadalah kamu percaya." Maka kata pegawai raja itu kepada-Nya, "Ya Tuhan, marilah sebelum anakku mati." Maka kata Yesus kepadanya, "Pergilah engkau, anakmu itu hidup." Maka percayalah orang itu akan perkataan yang dikatakan oleh Yesus kepadanya, lalu pergilah ia. Tetapi sedang ia lagi berjalan, bertemulah ia dengan hamba-hambanya, yang membawa kabar mengatakan bahwa anaknya itu sudah hidup. Maka bertanyalah ia kepada mereka itu pukul berapa ia sudah segar. Maka katanya kepadanya, "Kemarin pukul satu hilanglah demamnya." Lalu diketahuilah oleh bapa budak itu, bahwa pada jam itu juga Yesus sudah berkata kepadanya, "Anakmu itu hidup," maka ia sendiri pun beserta dengan segala isi rumahnya percayalah.
”Maka di Yeruzalem dekat "Pintu domba" adalah suatu kolam, menurut bahasa Ibrani dinamai Baitesda; maka padanya ada lima serambi. Di serambi itu adalah terhantar amat banyak orang sakit, yaitu orang buta dan timpang dan lumpuh, sekaliannya menantikan air kolam itu berkocak. Karena terkadang-kadang turunlah seorang malaekat ke dalam kolam itu serta mengocakkan airnya; maka barangsiapa yang terlebih dahulu turun ke dalam kolam itu, sesudahnya berkocak air itu, ia pun sembuhlah dari barang sesuatu penyakit apa pun, yang diidapinya. Maka adalah di sana seorang yang sakit sudah tiga puluh delapan tahun lamanya. Apabila dilihat oleh Yesus akan dia terhantar, serta diketahui-Nya, bahwa sudah sekian lama ia sakit, berkatalah Ia kepadanya, "Maukah engkau jadi sembuh?" Maka sahut orang sakit itu kepada-Nya, "Ya Tuhan, hamba tiada ada orang yang membawa hamba masuk ke dalam kolam ini apabila airnya berkocak, tetapi sementara hamba datang, sudah orang lain turun mendahului hamba." Lalu kata Yesus kepadanya, "Bangkitlah engkau, angkat tempat tidurmu dan berjalan." Maka seketika itu juga sembuhlah orang itu, lalu ia mengangkat tempat tidurnya serta berjalan. Adapun hari itu, yaitu hari Sabbat.
”Maka amatlah banyak orang mengikut Dia, sebab melihat segala tanda ajaib yang diperbuat-Nya pada orang sakit.
”Apabila Yesus mengangkat mata-Nya serta memandang sekalian orang banyak, yang datang kepada-Nya, maka kata-Nya kepada Pilipus, "Dari manakah dapat kita membeli roti, supaya orang banyak ini makan?" Maka Yesus berkata demikian sebab hendak mencobai dia, karena Ia sendiri mengetahui apa yang hendak dibuat-Nya. Maka sahut Pilipus kepada-Nya, "Roti yang dua ratus dinar harganya, tiada cukup bagi mereka itu, walaupun seorang sedikit." Maka seorang daripada murid-murid-Nya, yaitu Andreas, saudara Simon Petrus, berkata kepada-Nya, "Di sini ada seorang budak, yang menaruh roti jelai lima ketul dengan ikan kecil dua ekor; tetapi apakah gunanya itu pada orang sebanyak ini?" Lalu kata Yesus, "Suruhlah duduk sekalian orang itu." Maka di tempat itu banyak rumput, lalu duduklah segala orang laki-laki sahaja, sekira-kira lima ribu orang banyaknya. Kemudian Yesus mengambil roti itu, serta mengucapkan syukur, lalu membahagikan kepada segala orang yang duduk itu, demikian juga ikan itu, seberapa banyak yang dikehendakinya. Setelah kenyang mereka itu sekalian, maka Ia pun berkatalah kepada murid-murid-Nya, "Kumpulkanlah segala sisanya, supaya barang apa pun jangan terbuang." Lalu mereka itu pun mengumpulkan dia penuh dua belas bakul dengan remah roti jelai lima ketul itu, yaitu sisa orang yang sudah makan itu. Setelah dilihat oleh segala orang akan tanda ajaib yang diperbuat oleh Yesus, maka kata mereka itu, "Sesungguhnya Ia inilah Nabi, yang datang ke dalam dunia ini."
”Setelah mereka itu berdayung sekira-kira dua tiga mil jauhnya, tiba-tiba dilihatnya Yesus berjalan di atas air tasik, datang menghampiri perahunya, lalu takutlah mereka itu. Tetapi kata Yesus kepada mereka itu, "Inilah Aku, jangan takut." Sedang mereka itu tengah suka hendak menyambut Dia naik ke dalam perahu, langsunglah perahu itu sampai ke pantai, ke tempat yang ditujuinya.
”Lalu mereka itu sekalian memungut batu sebab hendak merajam Dia, tetapi Yesus menyembunyikan diri-Nya serta keluar dari dalam Bait Allah itu.
”Tatkala Ia lalu, dilihat-Nya seorang yang buta dari mula jadinya. Lalu murid-murid-Nya bertanya kepada-Nya, katanya, "Ya Rabbi, siapakah yang berbuat dosa: Orang inikah atau ibu bapanyakah, sehingga ia buta dari mula jadinya?" Maka jawab Yesus, "Bukan orang ini berbuat dosa; dan bukan orang tuanya, melainkan supaya kekayaan Allah dinyatakan padanya. Selagi hari siang wajiblah kita mengerjakan pekerjaan Allah, yang menyuruhkan Aku. Karena malam akan datang, apabila seorang pun tiada dapat bekerja. Selama Aku di dalam dunia ini. Akulah terang dunia." Setelah Ia berkata demikian, lalu Ia berludah ke tanah, serta membuat tanah itu lembik dengan ludah-Nya, disapukan-Nya tanah lembik itu kepada mata orang buta itu, sambil berkata kepadanya, "Pergilah engkau basuh di kolam Siloam!" yang diterjemahkan artinya: Suruhan. Maka pergilah ia membasuh, lalu kembalilah ia dengan celik matanya. Maka kata orang sekampungnya dan orang lain pun yang dahulu nampak dia meminta sedekah, "Bukankah ia ini dia, yang sudah duduk meminta sedekah itu?"
”Semenjak awal dunia ini belum pernah kedengaran halnya orang mencelikkan mata manusia, yang buta dari mula jadinya. Jikalau orang itu bukan daripada Allah, tiadalah dapat memperbuat apa-apa."
”Lalu kata Yesus, "Undurkan batu ini." Maka kata Marta, saudara orang yang mati itu, "Ya Rabbi, sekarang ia berbau busuk, karena sudah empat hari lamanya." Maka kata Yesus kepada perempuan itu, "Bukankah Aku berkata kepadamu, jikalau engkau percaya kelak, engkau akan nampak kemuliaan Allah?" Lalu mereka itu mengundurkan batu itu. Maka menengadahlah Yesus serta berkata, "Ya Bapa, Aku ucapkan syukur kepada-Mu sebab Engkau mendengar akan Daku. Maka Aku sudah mengetahui bahwa Engkau selalu mendengar akan Daku, tetapi oleh sebab orang banyak yang berdiri sekeliling inilah Kukatakan, supaya mereka itu sekalian kelak percaya bahwa Engkaulah yang menyuruhkan Aku." Setelah Ia berkata demikian, berserulah Ia dengan suara yang kuat, kata-Nya, "Hai Lazarus, marilah keluar!" Lalu keluarlah orang yang sudah mati itu, terikat kaki tangannya dengan kain kapan, dan mukanya pun berbalut dengan sapu tangan. Maka kata Yesus kepada mereka itu, "Lepaskan, biar dia pergi."
”Oleh sebab itu segala kepala imam dan orang Parisi menghimpunkan orang Majelis Besar, lalu berkata, "Apakah daya kita perbuat, sebab orang itu mengadakan banyak tanda ajaib?
”Sungguhpun banyak tanda ajaib diperbuat oleh Yesus di hadapan mereka itu, tetapi tiada juga mereka itu percaya akan Dia,
”Percayalah akan Daku bahwa Aku ini di dalam Bapa dan Bapa pun di dalam Aku; jikalau tiada sekalipun, percayalah akan Daku oleh karena segala perbuatan itu. Sesungguh-sungguhnya Aku berkata kepadamu: Siapa yang percaya akan Daku, ia pun akan melakukan segala perbuatan yang Aku ini perbuat, dan ia melakukan perbuatan yang lebih besar daripada ini, karena Aku ini pergi kepada Bapa-Ku.
”Dan barang apa pun yang kamu pinta atas nama-Ku, itulah Aku buatkan kelak, supaya Bapa dipermuliakan di dalam Anak. Jikalau kamu minta kepada-Ku barang sesuatu atas nama-Ku, aku ini akan membuatkan dia.
”Jikalau kamu tetap di dalam Aku, dan perkataan-Ku tetap di dalam kamu, pintalah barang apa yang kamu kehendaki, itu akan dikaruniakan kepadamu kelak.
”Setelah petang hari, yaitu pada hari yang pertama di dalam minggu itu, dan sedang segala pintu terkunci di tempat tinggal murid itu, sebab takut akan orang Yahudi, datanglah Yesus tiba-tiba terdiri di tengah-tengah mereka itu serta mengucapkan kepada mereka itu, "Sejahteralah kamu!" Setelah sudah berkata demikian, Ia pun menunjukkan kepada mereka itu tangan-Nya dan rusuk-Nya. Maka sukacitalah murid-murid itu tatkala nampak Tuhan itu.
”Lalu berkatalah murid yang lain-lain itu kepada Tomas, "Adalah kami sekalian sudah jumpa Tuhan itu." Tetapi berkatalah Tomas kepada mereka itu, "Selagi belum aku nampak parut kena paku di tangan-Nya dan mencocokkan jariku di parut itu, dan aku mencocokkan tanganku di rusuk-Nya, tiadalah aku percaya." Ada delapan hari kemudian daripada itu berhimpunlah pula murid-murid Yesus di dalam rumah, dan Tomas juga bersama-sama dengan mereka itu. Tatkala pintu rumah itu terkunci, tiba-tiba terdirilah Yesus di tengah-tengah sambil berkata, "Sejahteralah kamu!" Lalu Ia pun bersabda kepada Tomas, "Ulurkanlah jarimu, lihatlah tangan-Ku, dan ulurkanlah tanganmu serta letakkanlah di rusuk-Ku, dan janganlah engkau syak, melainkan yakinlah." Maka sahut Tomas sambil berkata kepada-Nya, "Ya Allah, ya Tuhanku."
”Sungguhpun banyak tanda ajaib yang lain juga diperbuat oleh Yesus di hadapan murid-murid-Nya yang tiada disuratkan di dalam kitab ini;
”Maka kata Simon Petrus kepada mereka itu, "Aku hendak pergi menangkap ikan." Maka sahut mereka itu kepadanya, "Kami pun hendak pergi besertamu." Maka pergilah mereka itu berperahu; maka pada malam itu suatu pun tiada yang didapatinya. Setelah terbit fajar terdirilah Yesus di pantai; tetapi tiada diketahui oleh murid-murid itu bahwa Ialah Yesus. Lalu Yesus pun bertanya kepada mereka itu, "Hai anak-anak-Ku, adakah lauk padamu?" Maka jawab mereka itu kepada-Nya, "Tidak ada." Maka bersabdalah Yesus kepada mereka itu, "Labuhkanlah pukatmu di sebelah kanan perahu itu, niscaya kamu beroleh." Maka dilabuhkannya pukatnya, lalu oleh sebab teramat banyak ikan masuk, tiada dapat mereka itu menariknya. Maka kata murid yang dikasihi oleh Yesus itu kepada Petrus, "Itulah Tuhan." Setelah didengar oleh Simon Petrus bahwa Ialah Tuhan itu, maka diikatkannya bajunya pada pinggangnya, sebab tiada ia berbaju, lalu terjunlah ia ke dalam laut. Tetapi murid-murid yang lain pula datang dengan perahu itu, karena mereka itu tiada berapa jauh dari darat, hanya ada sekira-kira dua ratus hasta sahaja, sambil menarik pukat yang penuh dengan ikan. Setelah mereka itu naik ke darat, maka mereka itu pun nampak bara api, dan ikan terletak di atasnya dengan roti. Maka bersabdalah Yesus kepada mereka itu, "Bawalah sedikit ikan, yang baharu kamu tangkap." Lalu Simon Petrus naik ke dalam perahu menarik pukat itu ke darat, penuh dengan ikan besar-besar, yaitu seratus lima puluh tiga ekor banyaknya, meskipun sedemikian banyaknya, tiada juga koyak pukat itu.
”Maka berpalinglah Petrus, lalu melihat murid yang dikasihi oleh Yesus itu mengikut, maka ialah yang tatkala perjamuan malam bersandar di dada Yesus sambil berkata, "Ya Tuhan, siapakah yang menyerahkan Tuhan?" Lalu apabila Petrus nampak murid itu, maka katanya kepada Yesus, "Ya Tuhan, bagaimanakah hal orang ini kelak?" Lalu bersabda Yesus kepadanya, "Jikalau Kukehendaki orang ini tinggal sehingga Aku datang, apakah kena-mengena dengan engkau? Engkau ikutlah Aku." Semenjak itu masyhurlah perkataan ini di antara segala saudara: Bahwa murid itu tiada mati kelak; tetapi bukan demikian sabda Yesus, bahwa murid itu tiada akan mati, melainkan: Jikalau Kukehendaki orang ini tinggal sehingga Aku datang, apakah kena-mengena dengan engkau?
”Ada lagi banyak perkara lain-lain yang diperbuat oleh Yesus, maka jikalau segala perkara itu satu-satu disuratkan, pada sangkaku dunia ini pun tiada termuat kitab-kitab yang disuratkan itu.
”Maka kepada mereka itu juga Ia menyatakan diri-Nya kemudian daripada sengsara-Nya pula dengan beberapa kenyataan bahwa Ia hidup, yaitu tatkala Ia kelihatan kepada mereka itu selang empat puluh hari lamanya, dan memberitakan dari hal kerajaan Allah.
”Tetapi kamu akan beroleh kuasa kelak apabila Rohulkudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi bagi-Ku, baik di Yeruzalem, baik di seluruh tanah Yudea atau di Samaria, sehingga sampai ke ujung bumi." Setelah sudah Ia bersabda demikian, maka terangkatlah Ia sedang mereka itu memandang Dia, dan suatu awan meraibkan Dia daripada penglihatan mereka itu.
”Maka sekonyong-konyong turunlah dari langit suatu bunyi seolah-olah serbu angin yang besar, yang menumpatkan segenap rumah tempat mereka itu duduk. Maka kelihatanlah kepada mereka itu beberapa lidah seperti api rupanya yang berbelah-belah, dan hinggap di atas tiap-tiap orang itu. Maka mereka itu sekalian pun penuh dengan Rohulkudus, sehingga mereka itu mulai berkata-kata dengan berbagai-bagai bahasa, sebagaimana yang diilhamkan oleh Roh kepadanya akan bertutur. Maka adalah beberapa orang Yahudi diam di Yeruzalem, yaitu orang yang beribadat, daripada segala penjuru alam. Serta kedengaran bunyi itu, maka orang banyak itu pun berkerumunlah termangu-mangu, oleh sebab tiap-tiap orang itu mendengar rasul-rasul itu menuturkan dengan bahasa orang-orang itu sendiri.
”Maka firman Allah: Bahwa akan berlaku kelak pada akhir zaman, Aku akan mencurahkan Roh-Ku ke atas segala manusia, sehingga anak-anakmu laki-laki dan perempuan akan bernubuat, dan orang muda-mudamu akan melihat beberapa penglihatan, dan orang tua-tuamu akan mimpi berbagai-bagai mimpi, dan ke atas segala hamba-Ku laki-laki dan perempuan pun, Aku akan mencurahkan Roh-Ku pada masa itu, dan mereka itu akan bernubuat. Dan Aku akan mengadakan ajaib pada langit di atas, dan tanda pada bumi di bawah; yaitu darah dan api dan uap asap. Maka matahari akan dikelamkan, dan bulan menjadi darah, sebelum tiba Hari Tuhan, yaitu Hari yang besar dan mulia itu.
”Hai orang Israel, dengarlah olehmu akan perkataanku ini: Adapun Yesus orang Nazaret itu, seorang yang disahkan Allah kepadamu dengan perbuatan kuasa dan mujizat dan tanda ajaib yang diadakan Allah dengan tangan Yesus di antara kamu, seperti yang kamu ketahui sendiri;
”Maka datanglah ketakutan ke atas tiap-tiap orang, dan banyaklah mujizat dan tanda ajaib diadakan oleh rasul-rasul itu.
”Maka adalah seorang yang timpang dari rahim ibunya diusung orang; ia itu diletakkan sehari-hari di pintu Bait Allah yang bernama Pintu Elok, meminta sedekah kepada orang yang masuk Bait Allah itu. Apabila dilihatnya Petrus dan Yahya hendak masuk Bait Allah, maka ia pun meminta sedekah. Tetapi Petrus dan Yahya menatap dia, katanya, "Pandanglah kami." Lalu ia memperhatikan keduanya itu berharap akan beroleh barang sesuatu daripada mereka itu. Maka kata Petrus, "Emas perak tidak ada padaku, tetapi apa yang ada padaku, itulah aku berikan kepadamu, yaitu: Dengan nama Yesus Kristus, orang Nazaret itu, berjalanlah!" Lalu Petrus pun memegang tangan kanannya dan menegakkan dia; maka seketika itu juga kuatlah kakinya dan mata kakinya. Maka melompatlah ia, lalu berdiri, dan berjalan; kemudian masuklah ia beserta dengan keduanya itu ke dalam Bait Allah, sambil berjalan dan melompat-lompat dan memuji Allah. Maka segenap kaum itu nampak dia berjalan-jalan dan memuji-muji Allah, serta kenal dia bahwa ialah yang duduk meminta sedekah di pintu Bait Allah yang bernama Pintu Elok itu. Maka sekalian orang itu pun heran serta tercengang-cengang amat sangat sebab perkara yang sudah jadi bagi orang itu. Tetapi sementara orang itu lagi berpaut kepada Petrus dan Yahya, maka berlari berkerumunlah segenap kaum itu di serambi yang bernama Serambi Sulaiman dengan heran yang amat sangat.
”Tatkala Petrus melihat hal itu, lalu berkatalah ia kepada segenap kaum itu, "Hai orang Israel, apakah sebabnya kamu heran akan hal orang ini? Dan apa sebabnya kamu menatap kami seolah-olah dengan kuasa atau ibadat kami sendiri orang ini kami beri berjalan?
”Dan dari sebab alasan iman akan nama-Nya itu, maka nama-Nya itu juga sudah menguatkan orang yang kamu lihat dan kenal ini; bahkan iman, yang dari sebab Yesus itu, mengaruniakan dia kesehatan yang sempurna di hadapan kamu sekalian.
”Tatkala mereka itu melihat keberanian hati Petrus dan Yahya itu, serta pula tampak tiada berpelajaran dan orang yang bersahaja, heranlah sekaliannya; maka baharulah dikenalnya keduanya, bahwa dahulu mereka itu bersama-sama dengan Yesus. Dan sebab melihat orang yang sudah sembuh itu ada berdiri beserta dengan mereka itu, maka suatu pun tiada dapat dibantahinya lagi. Setelah sudah disuruhnya keluar keduanya itu daripada Majelis, lalu berundinglah mereka itu sama sendiri, katanya, "Apakah hendak kita perbuat atas orang ini? Karena sesungguhnya suatu tanda ajaib yang nyata sudah diadakannya, yang masyhur kepada seisi negeri Yeruzalem, sehingga tiada dapat kita bersangkal.
”dan sekarang ini, ya Tuhan, tengoklah kiranya akan segala ugutnya itu, dan berilah kiranya hamba-hamba-Mu ini karunia mengatakan firman-Mu dengan terus terang, serta mengedangkan tangan kuasa-Mu akan menyembuhkan orang, dan mengadakan beberapa tanda ajaib dan mujizat dengan nama Yesus hamba-Mu yang kudus." Setelah sudah mereka itu berdoa, maka berguncanglah tempat mereka itu berhimpun itu, lalu sekaliannya penuhlah dengan Rohulkudus, sehingga mereka itu dapat mengatakan firman Allah dengan berani hatinya.
”Adalah seorang namanya Ananias dengan bininya Sapira menjualkan suatu miliknya; maka disebelahkannya sebahagian daripada harganya dengan setahu bininya itu, lalu dibawanya yang sebahagian lagi, dipersembahkannya di kaki segala rasul. Tetapi kata Petrus, "Hai Ananias, apakah sebabnya Iblis menumpati hatimu sehingga engkau berdusta kepada Rohulkudus, dan menyebelahkan harga sebidang tanah itu? Selagi belum dijual, bukankah milikmu sendiri? Dan setelah sudah terjual, bukankah harganya itu di dalam kuasamu? Apakah sebabnya engkau sudah merundingkan perbuatan ini di dalam hatimu? Bukannya engkau berdusta kepada manusia, melainkan kepada Allah." Apabila Ananias mendengar perkataan ini, maka rebahlah ia lalu putus nyawanya. Maka ketakutan yang sangat besar pun datanglah menimpa sekalian orang yang mendengar hal itu. Maka orang muda-muda di situ pun bangkitlah membalut dia, lalu mengusung ke luar dan menanamkan. Sekira-kira tiga jam kemudian daripada itu, bininya itu pun masuklah, dengan tiada menyangka akan barang yang sudah berlaku itu. Maka kata Petrus kepadanya, "Katakanlah kepadaku, sungguhkah tanah itu kamu sudah jual dengan sekian harganya?" Maka kata perempuan itu, "Sungguh sekian itulah harganya." Tetapi kata Petrus kepadanya, "Apakah sebabnya kamu bersepakat mencobai Roh Tuhan? Tengok, bahwa kaki orang yang menanamkan lakimu itu ada di muka pintu, dan mereka itulah akan mengusung engkau ke luar." Maka ia pun rebahlah seketika itu juga dekat kaki Petrus, langsung putus nyawanya. Lalu masuklah orang muda-muda itu, didapatinya perempuan itu sudah mati; maka diusungnya ke luar dan ditanamkannya di sisi lakinya. Maka ketakutan yang sangat besar pun datanglah menimpa segenap sidang jemaat itu dan sekalian orang yang mendengar hal itu.
”Maka banyaklah tanda ajaib dan mujizat diadakan oleh rasul-rasul di antara kaum itu, dan mereka itu sekalian pun berhimpunlah dengan sehati di dalam Serambi Sulaiman. Maka yang lain itu seorang pun tiada berani bercampur dengan mereka itu, tetapi kaum itu memuliakan mereka itu. Maka makin bertambah-tambahlah bilangan orang yang percaya akan Tuhan, yaitu teramatlah banyak orang laki-laki dan perempuan, sehingga orang sakit pun dibawa orang ke luar ke jalan, diletakkannya di atas tempat tidur dan balai-balai, supaya apabila Petrus lalu, sekurang-kurangnya terkena bayangnya kepada barang seorang dari antara mereka itu. Maka banyak orang dari negeri yang sekeliling Yeruzalem itu pun berhimpun juga membawa orang sakit dan orang yang dirasuk setan; maka sekaliannya itu pun disembuhkannya pula.
”Tetapi seorang malaekat Tuhan membukakan pintu penjara itu pada malamnya, lalu mengeluarkan mereka itu serta berkata, "Pergilah kamu berdiri di dalam Bait Allah mengatakan kepada kaum itu akan segala perkataan dari hal Hidup itu." Setelah didengarnya demikian, pergilah mereka itu ke dalam Bait Allah pada pagi-pagi, lalu mengajar di situ. Maka datanglah Imam Besar beserta dengan sekalian orangnya menghimpunkan sidang Majelis Bicara serta segala orang tua-tua bani Israel, lalu menyuruhkan orang ke penjara akan mengambil sekalian rasul itu. Tetapi pegawai yang datang itu tiada jumpa mereka itu di dalam penjara; lalu kembalilah mereka itu memberitahu, katanya, "Penjara itu kami dapati terkunci dengan cermatnya, dan penunggu penjara itu pun ada berdiri di muka segala pintu itu; tetapi setelah kami buka, maka kami dapati tiada seorang pun lagi di dalamnya." Apabila penghulu Bait Allah dan kepala-kepala imam mendengar perkataan itu, maka berharu-birulah mereka itu dari sebab hal rasul itu, bagaimana lagi akibatnya kelak. Maka datanglah seorang berkata kepada mereka itu, "Tengoklah, orang yang kamu masukkan ke dalam penjara itu ada berdiri di dalam Bait Allah mengajar kaum itu."
”Maka Stepanus yang penuh dengan anugerah dan kuasa itu pun mengadakanlah beberapa mujizat dan tanda ajaib yang besar di antara kaum.
”Lalu sekalian orang yang duduk di dalam Majelis itu menatap Stepanus, dan mukanya kelihatan kepada mereka itu seolah-olah muka malaekat rupanya.
”Setelah genap empat puluh tahun, maka kelihatanlah kepadanya di padang belantara dekat Gunung Torsina seorang malaekat di dalam belukar duri yang menyala.
”Ia itu juga yang membawa mereka itu ke luar, kemudian daripada diadakannya mujizat dan tanda ajaib di tanah Mesir, dan di laut Kolzom, dan di padang belantara empat puluh tahun lamanya.
”Maka orang banyak itu pun sepakat memperhatikan barang yang dikatakan oleh Pilipus sementara mereka itu mendengar dan melihat segala tanda ajaib yang diperbuatnya itu. Karena dari dalam banyak orang yang dirasuk setan, segala setan itu sudah keluar sambil berteriak dengan nyaring suaranya; dan banyak pula orang tepok dan timpang dipulihkannya. Maka amatlah besar kesukaan di dalam negeri itu.
”Maka Simon pun percaya juga, dan setelah ia dibaptiskan tetaplah ia bersama-sama dengan Pilipus; maka tercengang-cenganglah ia melihat segala tanda ajaib dan mujizat yang besar-besar yang diadakan itu.
”Tatkala mereka itu naik dari dalam air, maka Roh Tuhan pun meraibkan Pilipus, dan sida-sida itu tiada lagi nampak dia, lalu ia berjalan pulang dengan sukacitanya sepanjang jalan. Tetapi Pilipus itu didapati orang di Asdod; maka sambil berjalan ia memberitakan kabar kesukaan di dalam seluruh negeri, sehingga ia sampai ke Kaisaria.
”Sedang ia berjalan dekat dengan Damsyik, tiba-tiba memancarlah suatu cahaya dari langit sekeliling dia; maka rebahlah ia ke tanah, lalu didengarnya suatu suara yang mengatakan kepadanya, "Saul, Saul, apakah sebabnya engkau aniayakan Aku?" Maka sahutnya, "Siapakah Engkau, ya Tuhan?" Maka Ia pun bersabda, "Akulah Yesus, yang engkau aniayakan. Bangkit dan masuklah ke dalam negeri, di sana akan dikatakan kepadamu barang yang wajib engkau perbuat." Maka orang yang berjalan bersama-sama dengan dia itu pun berdiri tercengang, mendengar suara itu, tetapi tiada nampak barang seorang pun. Maka Saul pun bangkitlah daripada rebahnya; apabila matanya terbuka, suatu pun tiada dilihatnya. Lalu dipimpin oranglah tangannya, dibawa masuk ke negeri Damsyik. Maka tiga hari lamanya ia tiada berpenglihatan, dan tiada ia makan atau minum pun.
”Maka Ananias pun pergilah, lalu masuk ke dalam rumah itu, serta meletakkan tangan ke atasnya, katanya, "Hai saudaraku Saul, aku ini disuruhkan oleh Tuhan, yaitu Yesus yang menyatakan diri-Nya kepadamu di jalan yang engkau tempuh itu, supaya engkau nampak semula, dan supaya engkau penuh dengan Rohulkudus." Maka seketika itu juga gugurlah selaput daripada matanya, lalu ia pun nampak semula, maka bangkitlah ia, lalu dibaptiskan.
”Maka di sana dijumpainya seorang bernama Eneas, yang terhantar di tempat tidurnya delapan tahun lamanya, karena terkena tepok. Lalu kata Petrus kepadanya, "Hai Eneas, bahwa Yesus Kristuslah yang memulihkan engkau. Bangkit, siapkanlah tempat tidurmu sendiri." Maka seketika itu juga bangkitlah ia. Maka tampaklah ia kepada sekalian orang yang di Lidda dan Saron itu, lalu mereka itu pun berpalinglah kepada Tuhan.
”Pada masa itu jatuhlah ia sakit, lalu mati. Setelah mayatnya dimandikan, diangkat oranglah ke dalam bilik yang di atas. Maka sebab negeri Lidda itu berdekat dengan Yoppe, kedengaranlah kepada murid-murid bahwa Petrus ada di sana, lalu disuruhkan dua orang kepadanya mengajak dia, "Jangan lambat datang kepada kami." Maka bangkitlah Petrus lalu pergilah sertanya. Setelah tiba, maka orang pun membawa dia ke dalam bilik yang di atas itu. Maka segala janda, yang berdiri di sisinya, menangis dan menunjukkan baju-baju dan pakaian, yang diperbuat oleh Dorkas itu tatkala ia lagi bersama-sama mereka itu. Setelah sekalian orang disuruhkan keluar oleh Petrus, maka bertelutlah ia berdoa, lalu berpalinglah kepada mayat itu, katanya, "Hai Tabita, bangkitlah!" Maka ia pun membuka matanya, dan serta dilihatnya Petrus, duduklah ia. Maka Petrus itu mengulurkan tangannya serta menegakkan dia sambil memanggil orang-orang suci dan janda-janda itu, lalu diunjukkannya dia kepada mereka itu dengan hidupnya. Maka masyhurlah hal itu kepada seisi negeri Yoppe itu, lalu banyaklah orang percaya akan Tuhan.
”dari hal Yesus, orang Nazaret itu, bagaimana Allah sudah mengurapi Dia dengan Rohulkudus dan kuasa, yang berjalan sekeliling berbuat kebajikan, dan menyembuhkan sekalian orang yang dikuasai oleh Iblis; sebab Allah beserta dengan Dia.
”Setelah sudah ditangkapnya dia, maka dimasukkannya ke dalam penjara, serta diserahkannya kepada enam belas laskar menjagai dia empat-empat orang bergilir-gilir, maksudnya menghadapkan dia kepada kaum itu kemudian daripada Pasah. Maka oleh sebab itu terkurunglah Petrus di dalam penjara, tetapi sidang jemaat itu mendoakan dia kepada Allah dengan bersungguh-sungguh. Apabila Herodes hendak membawa dia ke luar, maka pada malam itu juga, sedang Petrus tidur di antara dua laskar terbelenggu dengan dua rantai, dan lagi ada beberapa orang jaga di muka pintu sedang menjaga penjara itu, tiba-tiba terdirilah seorang malaekat Tuhan di situ, dan suatu cahaya bersinar di dalam bilik itu; lalu ditepuknya rusuk Petrus, sambil mengejutkan dia, katanya, "Bangunlah segera!" Maka gugurlah belenggunya daripada tangannya. Maka kata malaekat itu kepadanya, "Ikatlah pinggangmu, pakailah kasutmu!" Lalu diperbuatnyalah demikian. Maka katanya kepadanya, "Pakailah pakaianmu, ikutlah aku!" Maka Petrus pun keluar mengikut dia, tetapi tiada diketahuinya akan perbuatan malaekat itu sungguh, melainkan pada sangkanya sudah nampak suatu penglihatan sahaja. Setelah sudah dilaluinya kawal yang pertama dan yang kedua itu, maka sampailah keduanya itu ke pintu besi yang menuju ke negeri; maka terbukalah pintu itu sendiri kepada mereka itu, lalu mereka itu keluar serta melalui satu lorong, maka dengan sekonyong-konyong gaiblah malaekat itu daripadanya. Tatkala Petrus sadar akan dirinya, maka katanya, "Sekarang tahulah aku dengan sesungguhnya bahwa Tuhan telah menyuruhkan malaekat-Nya melepaskan aku daripada tangan Herodes dan daripada segala maksud kaum Yahudi itu."
”Tetapi Elimas, tukang sihir itu (karena demikian diterjemahkan namanya), melawan mereka itu hendak memalingkan pemerintah itu daripada iman. Tetapi Saul, yang disebut Paulus juga, penuh dengan Rohulkudus menatap dia, sambil katanya, "Hai engkau, yang penuh dengan segala tipu daya dan kejahatan, anak Iblis, seteru segala yang benar! Tiadakah engkau mau berhenti daripada membengkokkan jalan Tuhan yang betul? Tengoklah, bahwa sekarang juga tangan Tuhan datang ke atasmu dan engkau akan buta, tiada nampak matahari beberapa waktu lamanya." Maka seketika itu juga ia ditimpa oleh kabur dan gelap, sehingga ia berpusing-pusing mencari orang memimpin tangannya. Apabila pemerintah itu melihat akan hal yang berlaku itu percayalah ia, serta sangat heranlah akan pengajaran Tuhan itu.
”Maka itulah sebabnya beberapa lama rasul-rasul itu tinggal di situ sambil berkata-kata dengan beraninya sebab bergantung kepada Tuhan yang menyaksikan firman anugerah-Nya, dan mengadakan tanda ajaib dan mujizat dengan tangan mereka itu.
”Adalah di Listera itu seorang terduduk sahaja dengan kakinya lemah, yaitu lumpuh daripada rahim ibunya, yang belum pernah berjalan. Maka orang ini pun mendengar tuturan Paulus, yang menatap dia dan tampak bahwa ada iman kepadanya yang ia dapat disembuhkan, lalu berkatalah Paulus dengan nyaring suaranya, "Berdiri tegak di atas kakimu." Maka melompatlah ia langsung berjalan-jalan.
”Maka sekalian orang banyak itu pun diamlah, lalu mendengar Barnabas dan Paulus menceriterakan segala tanda ajaib dan mujizat yang diadakan Allah di antara orang kafir oleh keduanya itu.
”Tetapi tatkala hampir tengah malam, Paulus dan Silas pun berdoalah sambil menyanyikan puji-pujian bagi Allah, maka segala orang yang terpenjara itu pun sedang mendengar mereka itu. Maka dengan sekonyong-konyong timbullah suatu gempa bumi yang besar sehingga berguncang kaki tembok penjara itu. Dengan seketika itu juga terbukalah segala pintu, dan belenggu sekalian orang itu pun terlucutlah. Maka ketua penjara itu terkejut daripada tidurnya dan terpandangkan pintu-pintu penjara itu terbuka, maka dihunusnya pedangnya hendak membunuh dirinya, karena pada sangkanya orang yang terpenjara itu sudah lari.
”Maka Allah mengadakan beberapa mujizat yang luar biasa dengan tangan Paulus, sehingga saputangan dan kain bekas tubuhnya pun sudah dibawa orang kepada orang yang sakit itu, lalu penyakit itu pun hilanglah daripada mereka itu, dan segala setan pun keluarlah.
”Maka ada seorang muda bernama Eutikhus duduk di jendela sudah terlelap. Maka oleh sebab Paulus terlalu lama berkata-kata, lalu ia ditawan oleh lelapnya itu sehingga jatuh dari tingkat yang ketiga, kemudian orang pun mengangkat dia sudah mati. Maka Paulus pun turunlah, merebahkan diri kepadanya sambil mendekap dia, katanya, "Janganlah kamu bergaduh, karena ada lagi nyawanya." Setelah ia naik balik ke atas dan memecahkan roti, lalu makanlah ia sambil bercakap-cakap lama sehingga sampai dini hari, baharulah ia berangkat. Maka orang pun membawa budak itu dengan hidup; maka sekaliannya beroleh penghiburan banyak.
”Tetapi apabila Paulus sudah memungut seberkas ranting-ranting dan meletakkan ke atas api itu, maka keluarlah seekor ular, sebab hangat itu, memagut tangannya. Apabila orang pulau itu terpandang binatang itu tergantung pada tangannya, maka mereka itu pun berkatalah sama sendiri, "Tiada syak lagi orang ini pembunuh orang, walaupun ia sudah terlepas daripada bahaya laut, tetapi Dewi Pembalas tiada membiarkan dia hidup." Lalu Paulus pun mengebaskan binatang itu ke dalam api dan suatu pun tiada ia berasa sakit. Maka mereka itu bersangka bahwa ia akan bengkak, atau seketika itu juga rebah mati. Tetapi apabila sudah lama mereka itu menunggu dan tiada kelihatan barang sesuatu bahaya atasnya, maka berubahlah sangka mereka itu, lalu mengatakan bahwa Paulus suatu dewa.
”Maka dekat dengan tempat itu juga adalah beberapa bidang tanah yang dipunyai oleh seorang bernama Pubelius, penghulu pulau itu; maka ia telah menyambut dan menjamu kami dengan kemurahan tiga hari lamanya. Maka adalah bapa Pubelius terbaring demam dan ceretkan darah; maka masuklah Paulus kepadanya, lalu berdoa sambil meletakkan tangan ke atasnya menyembuhkan dia. Setelah itu, maka orang lain-lain yang ada berpenyakit di pulau itu pun datanglah serta disembuhkannya.
”Oleh yang demikian nyatalah iman itu datang daripada berita, tetapi berita itu atas sabda Kristus.
”dengan kuasa tanda ajaib dan mujizat dan dengan kuasa Rohulkudus, sehingga mulai dari Yeruzalem dan sekeliling sampai ke Ilirikum aku sudah rata memberitakan Injil Kristus.
”Sedang orang Yahudi minta tunjukkan tanda ajaib, dan orang Gerika mencari hikmat, maka kita ini memberitakan Kristus yang tersalib, yaitu suatu syak kepada orang Yahudi, dan suatu kebodohan kepada orang kafir, tetapi kepada orang yang dipanggil, baik orang Yahudi baik orang Gerika, Kristus itulah kuasa Allah dan hikmat Allah.
”Demikian aku pun, tatkala aku sudah datang kepadamu, hai saudara-saudaraku, bukannya aku datang dengan petah lidah atau hikmat di dalam hal aku memberitakan rahasia Allah kepadamu. Karena aku sudah bermaksud, bukannya hendak mengetahui apa-apa di antara kamu, melainkan Yesus Kristus, yang telah tersalib itu. Aku sudah ada di dalam kelemahan dan ketakutan dan geletar yang sangat di antara kamu. Maka perkataanku dan pemberitaanku bukannya dengan perkataan hikmat yang menarik hati orang, melainkan dengan penunjukan roh dan kuasa Allah, supaya imanmu jangan bergantung kepada akal manusia, melainkan kepada kuasa Allah.
”Tetapi kenyataan Roh itu dikaruniakan kepada masing-masing, supaya mendatangkan faedah. Karena kepada seorang dikaruniakan oleh Roh perkataan hikmat; dan kepada yang lain, perkataan marifat, menurut kuasa Roh itu juga; dan kepada orang lain, iman di dalam Roh itu juga; dan kepada yang lain, karunia menyembuhkan di dalam Roh yang Satu itu juga; dan kepada orang lain, perbuatan mujizat, dan kepada yang lain nubuat, dan kepada yang lain membedakan segala roh, dan kepada orang lain berjenis-jenis karunia lidah, dan kepada yang lain pengetahuan mengartikan makna lidah itu. Tetapi sekaliannya itu dikerjakan oleh Roh yang Satu itu juga dengan membahagi-bahagi kepada masing-masing, sebagaimana kehendak-Nya.
”Maka Allah telah menetapkan beberapa orang di dalam sidang jemaat, pertama-tama rasul-rasul, kedua nabi-nabi, ketiga guru-guru, kemudian mujizat, kemudian pula kuasa menyembuhkan orang, pertolongan, perintahan, dan jenis-jenis karunia lidah. Semuanya itu rasulkah? Semuanya itu nabikah? Semuanya itu gurukah? Semuanya itu mengerjakan mujizatkah? Adakah semuanya beroleh kuasa menyembuhkan orang? Dapatkah semuanya itu berkata-kata dengan karunia lidah? Dapatkah semuanya itu mengertikan makna lidah? Tetapi usahakanlah dirimu akan beroleh segala karunia yang terlebih besar. Maka aku menunjukkan kepadamu suatu jalan yang terutama sekali.
”Jikalau aku berkata-kata dengan segala bahasa manusia dan malaekat sekalipun, tetapi aku tiada menaruh kasih, niscaya aku sudah menjadi seperti gong yang berbunyi, atau genta yang gemerincing. Dan jikalau aku dapat karunia bernubuat, dan aku mengetahui segala rahasia dan segala marifat, dan jikalau aku menaruh iman yang sempurna, sehingga dapat aku memindahkan segala gunung sekalipun, tetapi aku tiada menaruh kasih, niscaya aku bukan suatu apa pun.
”Hambatlah olehmu kasih itu; dan lagi usahakanlah dirimu akan beroleh segala karunia yang rohani, tetapi terlebih pula supaya kamu bernubuat. Karena orang yang berkata-kata dengan karunia lidah itu, bukannya berkata kepada manusia, melainkan kepada Allah, karena tiada seorang pun mengerti, melainkan dengan Roh ia mengatakan rahasia. Tetapi orang yang bernubuat itu, ia mengatakan kepada manusia perkataan yang meneguhkan iman, dan nasehat dan penghiburan. Maka orang yang berkata-kata dengan karunia lidah itu meneguhkan imannya sendiri, tetapi orang yang bernubuat itu meneguhkan iman sidang jemaat. Aku suka jikalau kamu sekalian berkata-kata dengan karunia lidah, tetapi lebih lagi jikalau kamu bernubuat. Maka orang yang bernubuat itu lebih besar daripada orang yang berkata-kata dengan karunia lidah, kecuali jikalau yang berkata-kata dengan karunia lidah itu tahu mengartikan makna lidah itu, supaya sidang jemaat itu beroleh keteguhan iman. Tetapi jikalau demikian, hai saudara-saudaraku, jikalau kiranya aku datang berkata-kata kepadamu dengan karunia lidah, apakah aku menguntungkan kamu, jikalau tiada aku berkata-kata kepadamu dengan kenyataan atau dengan pengetahuan atau dengan nubuat atau dengan pengajaran?
”Sebab itu segala karunia lidah itu menjadi suatu tanda, bukannya kepada orang yang beriman, melainkan kepada orang yang tiada beriman, tetapi nubuat itu bukannya bagi orang yang tiada beriman, melainkan bagi orang yang beriman. Oleh yang demikian, jikalau segenap sidang jemaat berhimpun bersama-sama, dan sekalian sedang berkata-kata dengan karunia lidah, lalu masuk orang yang tiada berkarunia atau orang yang tiada beriman, tiadakah mereka itu mengatakan, bahwa kamu ini gila? Tetapi jikalau sekaliannya sedang bernubuat, lalu masuk seorang yang tiada beriman atau tiada berkarunia itu, maka orang itu akan ditempelak oleh sekaliannya, dan dikira-kirakan oleh sekaliannya itu, sehingga perasaan hatinya pun ketara, dan dengan demikian sujudlah ia menyembah Allah sambil menyatakan, bahwa dengan sesungguhnya Allah ada di antara kamu.
”Sebab itu, hai saudara-saudaraku, usahakanlah dirimu akan bernubuat, dan janganlah menahan orang berkata-kata dengan karunia lidah.
”Karena segala tanda rasul itu sudah dilakukan di antara kamu dengan sangat tekun, yaitu dengan tanda ajaib dan mujizat dan kuat kuasa.
”Maka bagi Allah, yang berkuasa melakukan dengan berlebih-lebihan daripada barang apa yang kita pohonkan atau sangkakan, menurut kuasanya yang bekerja di dalam kita.
”maka Allah pun telah mensahkan mereka itu dengan tanda ajaib, dan mujizat dan berbagai-bagai kuasa, dan dengan hal mengaruniakan Rohulkudus menurut kehendak-Nya sendiri.
”Adapun iman itulah percaya yang sungguh akan hal perkara-perkara yang diharapkan, dan keyakinan akan hal perkara-perkara yang tiada kelihatan.
”Jikalau tiada beriman, mustahil diperkenan Allah; karena orang yang menghampiri Allah itu, wajiblah ia yakin bahwa Allah ada, dan lagi bahwa Ialah pemberi pahala kepada segala orang yang mencari Dia.
”Tetapi biarlah ia memohonkan dengan iman, dengan tiada bimbang; karena orang yang bimbang itu seumpama ombak laut, yang ditiup angin terhantar ke sana ke mari.
”Adakah barang seorang di antara kamu yang sakit? Hendaklah ia memanggil ketua-ketua sidang jemaat, dan hendaklah mereka itu mendoakan dia, sambil mengurapi dia dengan minyak, dengan nama Tuhan. Maka doa yang disertai iman akan menyembuhkan orang sakit itu, dan Tuhan akan membangkitkan dia; dan jikalau ia sudah berbuat dosa, maka ia akan diampunkan dosanya. Oleh sebab itu, hendaklah kamu masing-masing mengaku-akui dosamu di antara sama sendiri dan mendoa-doakan sama sendirimu, supaya kamu selamat. Adapun doa orang yang benar, dengan bersungguh-sungguh hati itu besar khasiatnya.
”Adapun Elias itu sama sifatnya dengan kita, maka ia berdoa dengan yakin supaya jangan turun hujan, maka tiadalah turun hujan di tanah itu tiga tahun enam bulan lamanya. Maka berdoa pula ia, lalu langit pun menurunkan hujan dan bumi pun mengeluarkan isinya.
”Maka berpalinglah aku menuju kepada suara yang bertutur dengan aku. Sambil berpaling aku tampaklah tujuh kaki dian daripada emas, dan di tengah-tengah kaki dian itu seorang yang seperti Anak manusia, berjubah panjang sampai ke kaki, dan bergetangdadakan cindai daripada emas. Maka kepala-Nya dan rambut-Nya putih, seperti bulu domba yang putih, putihnya seperti salju; maka mata-Nya seperti nyala api; dan kaki-Nya serupa tembaga bergilap, seolah-olah merah api di dalam tanur; dan bunyi suara-Nya menderu seperti bunyi air yang banyak. Maka Ia memegang di dalam tangan kanan-Nya tujuh bintang, dan terjulur dari dalam mulut-Nya sebilah pedang tajam bermata dua; dan wajah-Nya seperti matahari bercahaya terik.
”Maka aku tampak pula langit baharu dan bumi baharu; karena langit mula-mula dan bumi mula-mula itu sudah lenyap, dan laut pun tidak ada lagi. Maka aku tampak negeri yang kudus. Yeruzalem baharu, turun dari surga daripada Allah, lengkap seperti seorang pengantin perempuan terhias bagi suaminya.
”